Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
menjadi target


__ADS_3

"Emang kenapa tadi Sintia sampe lemes gitu."


"Itu ada yang narok makanan di meja gue tanpa nama."


"Terus di makan sama Sintia?"


"Iya."


"Ada musuh Lo berarti."


"Hah?"


"Iya, ada yang sengaja tuh narok makanan di meja Lo."


"Tapi gue anak baru an, enggak ada yang kenal sama gue."


"Itu Menurut Lo, belum tentu orang lain."


"Lo pernah ngalamin kek gini?"


"Sejauh ini sih enggak, moga aja enggak ada sih."


"Ya semoga Lo aman selama kerja disini, dan gue berharap semoga magang gue cepet kelar." doa Innara.


"Dah sampe kita,"


"Ya udah gue masuk dulu," Tidak lama kemudian beberapa perawat membawa tempat tidur pasien menghampiri membawa Sintia.


Mereka membawanya masuk ke ruang penanganan. Dokter langsung memeriksa kondisi pasien secara cepat. Pemeriksaan akan mengutamakan pengecekan tanda-tanda vital seperti pernapasan, denyut nadi, dan tekanan darah. Kemudian dokter meminta perawat memasang infus, dan menyuntikkan beberapa jenis obat-obatan di dalamnya.


"Bagaimana dok teman saya." tanya Innara pada dokter jaga.


"Untung saja segera cepat mendapat pertolongan jika tidak maka pasien tidak dapat di tolong," jawab dokter itu. " apa yang terjadi sebelumnya?" tanya dokter.


"Sebelumnya baik-baik saja dok, tapi setelah makan ini dia langsung buang air tak henti-henti." Innara memperlihatkan gimbab yang ia peroleh dari orang misterius.


"Coba saya periksa di laboratorium, kalo ini beracun maka ini tindakan kriminal. Pembunuhan berencana."


"Hah?" Innara terkejut, "bagaimana bisa itu terjadi," Batinnya dan perasaan nya campur aduk, takut, sedih. "Siapa yang tega melakukan ini padanya."


"Ra kamu enggak papa?" Tiba-tiba Zaki datang dengan berlari.


"Om....Sintia."


"Bagaimana dok?"


"Seperti nya ini percobaan pembunuhan, untuk membuktikan saya cek dulu sampel ini di laboratorium." ucap dokter dan pamit.


"Kok om bisa kesini?"


"Barata yang suruh om temani kamu disini."


"Dia kemana om?"


"Ada meeting dengan klien penting, dan tidak dapat di wakilkan, setelah selesai dia akan langsung kemari." Jelas Zaki " dan kamu boleh kembali kekantor, untuk akomodasi tadi bisa kamu klaim di kantor." Ujarnya pada Andreas.


"Baik pak, saya akan kembali ke kantor." Jawab Andreas. " Gue nanti kesini lagi Ra, gue balik dulu."


"Oke."


"Saya duluan pak." pamitnya pada Zaki.


"Silahkan." Andreas pun pergi dengan galau, sebenarnya dia ingin menemani Innara, tapi di usir oleh Zaki, Zaki adalah kepala divisinya.

__ADS_1


...****************...


"Dari mana Lo?" Tanya Andi saat Andreas baru kelihatan di siang hari.


"Dari rumah sakit,"


"Lo sakit?"


"Enggak, ada orang di divisi lain keracunan, gue nganterin kesana."


"Terus dia gimana?"


"Udah aman."


"Bagus deh kalo gitu, dan ini tugas buat Lo dari pak Coki."


"Apa ini?" Andreas membuka file-file itu. "Heeeeeh." Andreas menarik napas panjang.


"Kenapa? Turun lapang ya?"


"Iya..."


"Dimana?"


"Nih..." Andreas menunjukan tempat nya akan pergi. "Sama Lo bege, bukan gue sendiri."


"Haduuhhh..gue pikir Lo sendiri," Ucap Andi dengan menepok dahinya. "Jadi kapan berangkat?"


"Besok aja ya, nanti gue mau balik kerumah sakit, gue dah janji tadi sama Innara."


"Innara? Siapa?"


"Temen cewek yang keracunan."


"Dia udah punya cowok."


"Kan belum kawin."


"Gue bukan pembinor."


"Alah...sebelum janur melengkung, masih bisa kali di sikat."


"Berisik Lo," Andreas kesal dengan tingkah lebay Andi.


Di tempat lain Bara tidak konsentrasi dengan meeting nya. Dia masih kepikiran Innara, walau yang terkena racun itu bukan dia tapi targetnya adalah Innara. "Siapa yang mencoba meracuni anak magang dua bulan di perusahaan nya."Pikir Bara. Karena bisa dikatakan Innara adalah anak magang terlepas dia adalah istrinya, karena belum banyak yang tau tentang itu, hanya kerabat dekat saja yang mengetahuinya, bagaimana jika kabar itu sampai di telinga bang indra, pasti dia akan sangat marah kepadanya, karena Innara adalah adik semata wayangnya dan paling ia sayangi mendengar hal ini entah murka seperti apa yang akan di dapatkan oleh Bara.


"Bagaimana mana pak?" tanya Edo asisten Zaki yang mewakili Zaki jika dia tidak ada.


"Kita pelajari dulu aja, Minggu depan kita kasih kabar bagaimana keputusannya." jelas Bara, karena dia tidak berani ambil keputusan gegabah di saat pikiran nya kacau.


"Baik pak." dan meeting pun selesai setelah jam maka siang, itu artinya sudah menjelang sore, Bara tanpa menunggu lama langsung menuju rumah sakit tempat Innara berada, Zaki juga disana untuk memastikan Innara aman. Feeling-nya bahwa target pelaku adalah Innara, bukan Sintia, apes aja Sintia yang makan racun itu.


Tok tok tok


"Ay ..." dengan spontan Innara berdiri dan berlari menghampiri Bara lalu memeluknya. "Maafin gue enggak bisa langsung kesini tadi." ucapnya tulus dengan mengelus kepala Innara.


"Gue tadi takut banget Ta, kenapa bisa begitu."


"Udah enggak papa, kita tunggu hasil laboratorium, kalau benar sesuai perkiraan dokter kita lapor polisi agar di selidiki kasus ini, berani sekali dia mau celakain istri gue." Kesal Bara.


"Sintia yang kena bar, gue enggak."


"Gue yakin Lo target nya." jelasnya. "Jangan jauh-jauh dari gue."

__ADS_1


"Em...."


"Ehem...Jadi sekarang om jadi obat nyamuk?"


"Alah om kayak enggak pernah muda aja." canda Bara lalu mendekat pada Zaki.


"Terimakasih om sudah bantu Innara disini."


"Kalo kamu sudah disini om pergi, masih banyak pekerjaan yang om tinggal."


"Baik om." jawab Innara dan Bara.


"Kalo ada apa-apa hubungi om Ra, kalo bara tidak mungkin hubungi saya."


"Om bisa saja." Setelah berpamitan Zaki pun pergi meninggalkan ruangan itu.


"Udah makan ay?" Tanya Bara, dan Innara pun menggeleng.


"Ya udah tunggu sebentar, gue cari makan di kantin rumah sakit.


"Jangan lama-lama,"


"Emmm." Bara pun pergi ke kantin rumah sakit, tapi hanya tersedia makanan ringan dan beberapa roti. "Kasihan Nara kalo makan ini saja," Gumamnya akhirnya dia berinisiatif keluar mencari makanan. Bukan tidak ada yang membatu seorang bara, tapi dia tidak mau terlalu merepotkan hal sepele, seperti Innara.


Tok tok tok


Klik


"Cepet banget Ta." Ucap Innara tanpa melihat siapa yang masuk. merasa tidak aja jawaban Innara pun melihat siapa orang itu. "Andreas?"


"Iya gue Ra, sorry baru datang "


"Enggak papa, lagian Sintia belum sadar karena tadi di beri obat bius biar istirahat, seandainya dia bangun dia pasti seneng liat Lo ada disini." Tutur Innara. Tapi hal itu tidak di tanggapi lebih lanjut oleh Andreas.


"Oh ya Ra, kenalin ini Andi temen gue satu divisi, kayak Lo sama sintia."


"Hay ndi..."


"Hay Ra, senang kenalan sama Lo."


"Makasih, duduk yuk." Innara menyuruh mereka duduk.


"Gimana kata dokter soal di laboratorium tadi?"


"Belum ada laporan, mungkin akan di ambil alih langsung Sama perusahaan."


"Serius Ra?" tanya Andi.


"Katanya pak Zaki sih."


"Zaki divisi marketing."


"Em..."


"Dari mana Lo kenal dia?"


"Dia...Om gue." Jujur Innara, dan keduanya terkejut, seorang Innara yang sederhana punya om yang karirnya mentereng tanpa terekspos.


"Hah?"


...BERSAMBUNG ...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...

__ADS_1


"


__ADS_2