Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Bara semakin penasaran


__ADS_3

"Gimana temen Lo?" tanya Bara saat melihat Tania berjalan bersama Fia.


"Baik kok Bar.." jawab Fia kepedean.


"Gue tanya Tania."


"Iya temen Tania kan gue, Lo lupa?" gaya centil Fia membuat Bara jengah dan akhirnya dia meninggalkan Tania dan Fia.


"Bara kenapa ya kok aneh banget dari kemaren, Innara terus yang di tanyain.. masak iya dia suka sama Nara.."batin Tania bertanya-tanya.


"Bar, Bara..tunggu." Suara seseorang memanggil Bara. Tania dan Fia menoleh kebelakang. ya dia adalah Nilam. "Bara tungguin gue.." Karena terlalu berisik akhirnya Bara pun berhenti.


"Kenapa?"


"Gue mau jelasin sesuatu sama Lo.."


"Apa?"


"Bisa ngobrol berdua?"


"Enggak boleh, kalo berdua berarti yang ketiga itu setan." Raffi muncul di saat yang tepat untuk bara, sedangkan Nilam dia pasti kesal dengan kehadiran Raffi.


"Lo denger kan kata Raffi, Lo bilang aja disini."tegas Bara, "Sekarang apa?" banyak mata memandang menunggu penjelasan dari Nilam karena Nilam memanggil Bara seperti itu.


"Emmm itu, Anu ..emm itu kemaren...eemm."


"Apaan sih Lo?" Nilam tidak bisa menjelaskan karena jika yang lain tau tentang hubungan nya dengan Doni, pasti lebih berat lagi saingan nya untuk mendapatkan Bara.


"Ntar gue chat aja.." ucap Nilam lesu." Gue duluan." sambungnya dan pergi meninggalkan Bara.


.


tok tok tok


"Ra, ayo dong keluar kamar, Lo belum makan dari kemaren." Angga mengetuk pintu kamar Nara.


"Bunda .. "Kini giliran Tara yang terisak.


"Ya udah yuk, makan dulu nanti lagi bangunin bundanya." Rayu mbak Tia saat wajah Tara sudah mulai memerah.


"Bener tu kata mbak Tia, kita makan dulu yuk." Ajak Angga. Tara pun menurut.


Setelah kejadian itu Nara memang kesal pada Doni, tapi tidak ada sakit hati, karena memang dia tidak pernah mencintai Doni. tapi dia juga bingung kenapa dulu di bisa menerima cinta Doni.


"Setelah makan kita kerjain tugas ya?" Angga mencoba untuk menghibur Tara. tapi Tara menggeleng.


"Mau sama bunda." jawabnya. tidak biasa Tara rewel seperti ini, dia anak yang pintar, dia tau kondisi bundanya seperti apa, karena singel mommy, sehingga Tara tidak mau merepotkan bundanya. karena Innara juga memperhatikan segala sesuatu yang bersangkutan dengan Tara.


"Bagaimana kalau kita menghubungi Tante Tania? Tara mau?" Angga mencoba mengalihkan perhatian Tara lagi.


"Emmmm, boleh deh." kata Tara walau sebenarnya Tara hanya ingin ada temannya selain Angga dan mbak Tia.


"Om Angga telpon dulu Tante Tania nya ya." Angga mengeluarkan ponselnya dadi saku.


"Tuuut.


"Halo?"-Tania

__ADS_1


"Lo dimana?-Angga


"perpus, Napa?"-Tania


"Kerumah Nara dong!"-Angga


"Kenapa?"-Tania


"Tara.."-Angga


"Kenapa tu bocah."-Tania


"Ngambek, gara-gara emaknya ngurung diri dikamar."-Angga


"Ya ampun Nara, udah dua hari masih aja tu anak."-Tania


"Makanya cepet kesini."-Angga


"Gue bawa temen boleh."-Tania


"Iya..biar rame sekalian."-Angga


"oke..otw."-Tania


"cuzz lah."-Angga


tuuuut


"Bentar lagi Tante Tania datang, Tara janji ya enggak rewel lagi.


"Oke." jawabnya lalu menyendok makanan dengan semangat.


"Lama banget sih Lo," saat melihat Tania di depan pintu. "Lho...Lo kok sama dia?" Angga menunjuk Bara yang baru muncul dari garasi.


"Tadi kan gue bilang bawa temen."


"Gue kira si Fia bege." ucap Angga." Sejak kapan Lo Deket ma dia?" sambung Angga


"Sejak gue ada tugas bareng dia." jawab Tania lalu nyelonong masuk tanpa menunggu aba-aba dari Angga.


"Halo genteng," sapa Tania, tapi sayang sapaannya tidak di sambut saat Tara melihat Bara masuk.


"Ayaaaaaahhh." Tara langsung turun dari kursi dan memeluk kaki Bara. Semua mata tertuju pada Bara dan Tara, juga banyak pertanyaan di benak mereka. kecuali mbak Tia dan Bu Rini pastinya.


"Mas Bara?" sapa mbak Tia dan bara tersenyum.


"Ayah Tara kangen..." Ucap Tara, karena sejak keluar dari rumah sakit mereka belum pernah bertemu lagi.


"Halo jagoan, apa kabar?" Bara jongkok menghadap Tara yang berdiri di depannya.


"Tara baik yah, tapi ...." Tara menoleh ke arah ruangan yang tertutup. "Bunda..."


"Bunda kenapa?" Tapi Tara hanya menggeleng tanda dia tidak tau. "Sudah di ketuk pintunya?" Tara mengangguk. "Mau coba lagi?" kin Tara tersenyum lebar dan berlari menarik tangan Bara.


"Bunda....bunda...bunda....ada ayah


aaaahhhh." ucapnya sambil gedor-gedor pintu. karena terlalu berisik akhirnya Nara tidak tahan lagi.

__ADS_1


"Tara..." Nara membuka pintu dengan memakai baju tanpa lengan dan dada terbuka, juga celana pendek di atas lutut. "Aaaaaa."


Brakkk


Innara membanting pintu di depan Bara dan Tara.


"Bunda...." Suara Tara lirih.


"Iya sayang, bunda ganti baju dulu ya." jawab Nara dari kamar, lalu dia cepat-cepat ke kamar mandi membersihkan diri dan sedikit meriah natural. sedangkan Tara dan bara kembali ke meja makan bersama yang lainnya.


klek


Pintu kamar di buka dan semua melihat Nara keluar yang masih menggunakan hotpants dan kaos oblong kebesaran, rambut di cemol keatas tak beraturan. Bara tak kedip memandangnya "Cantik." Gumamnya. walau pelan tapi masih terdengar walau samar. Angga mengerutkan dahinya memastikan apa yang di dengarkan.


"sayang..." Nara langsung memeluk jagoannya dengan erat.


"Bunda ngapain aja sih di kamar? bunda enggak lapar?"


"He'eh bunda laper, mau dong bunda disuap nasi goreng nya." ucap Nara manja.


"Bunda manja sekali," ucap Tara lalu menyendok nasinya di suap kan ke arah Nara "Buka mulutnya bunda...." perintah Tara.


"Aaaaakkk." Nara membuka mulutnya lebar-lebar tanpa malu-malu di depan tamunya. "Aeeemmm." setelah masuk ke dalam mulut, di tutupnya lalu menikmati suasana sang buah hati dengan gembira. "hewmmm rasanya enak banget suapan jagoannya bunda " ucap Nara mendramatisir.


"Bunda lebay kalo enak itu berarti nenek jago masak." jelasnya, Nara hanya tersenyum sambil mencubit pipi Tara.


"Aaak." Nara membuka mulut lagi dan di suap lagi oleh Tara. Bara memperhatikan dengan seksama, wajah Nara, senyumnya, tawanya, semuanya indah..


"Ngiler Lo." Tania di sampingnya menyenggol lengan Bara. Bara pun jadi salah tingkah karena tercyduk oleh Tania.


"Eng anu.." Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah kita lanjut kerjain tugasnya yuk..." ajak Tania.


"Dimana?"


"Belakang." tunjuk Tania, "Ra gue kebelakang ya."


"emmm." jawabnya tanpa menoleh ke Arah mereka. karena Tania masih malu dilihat oleh Bara dengan penampilan bangun tidurnya.


Setelah Bara dan Tania pergi Angga mendekat.


"Sudah baikan Lo?"


"Em..." jawabnya sambil mengunyah.


"Bara itu ayahnya Tara?"


"Maksud Lo?" Nara bingung dengan pertanyaan Angga.


"Tadi Tara bilang begitu."


"Tunggu." Nara diam sejenak memikirkan perkataan Angga." Sayang itu ayah yang di rumah sakit kemarin,?" tanya Nara pada Tara, dan Tara pun mengangguk. lalu memandang mbak Tia juga Bu Rini mereka juga sama, mengangguk. "Terus gue gimana dong?" Nara panik sendiri


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


__ADS_2