
Bara dan Ghani memegang pangkal hidung mancung mereka dengan perasaan gemas dan ingin mengeplak kepala Bima sedangkan keluarga yang lain hanya tertawa mendengar lamaran absurd pria berusia 23 tahun itu.
"Ya Allah, Bimaaaa! Tiwas terharu jebule gedubrak!" gelak Rhea yang sekarang semua keluarga memang mengikuti melalui panggilan zoom.
"Kamu tuh bikin papa malu Bim!" desis Prayogha yang tidak enak melihat kelakuan putranya itu.
"Ngapain malu Pa, wong aku pakai baju kecuali kalau aku telanjang, nah itu baru malu-maluin" kekeh Bima tanpa salah yang membuat Arimbi cekikikan.
"Kamu tuh keseringan Gelut sama Hoshi, jadi kacau otaknya!" cebik Ghani kesal sambil melirik judes ke Hoshi.
"Lho kok Hoshi disalahin? Wong memang otaknya Werkudara dah sengklek sejak kena ledakan! Harusnya Tante Haura periksa lagi. Terserah mau di MRI, CT scan, USG, laparoskopi apalah itu istilahnya!" sungut Hoshi kesal yang selalu dituduh dan dinistakan.
"Sudah sudah malah ribut nggak jelas" kekeh Arum yang takjub mendapatkan menantu tidak beda jauh dengan dirinya dan keponakannya yang memang gesrek. "Bimasena, Oom Bara dan Tante Gendhis menerima lamaran kamu tentu saja. Nilai lebih yang membuat kami menerima kamu adalah, membuat darting Oom Bara dan Opa Ghani serta bisa membaur dengan semua anggota keluarga meskipun Tante gak yakin kamu dan Hoshi kapan bisa akurnya."
"Nunggu lebaran macan kayaknya Dis" sahut Bara asal.
"Papa Ghani, mama Alexandra, papa Raka dan mama Luna. Gimana? Lamaran Bima diterima kan?" tanya Arum ke mertua dan orangtuanya.
"Meh piye Ndis, bocahe Wis DP cincin di Arimbi" gelak Luna yang bersyukur tetap nekad datang karena berada live jauh lebih seru daripada nonton di layar laptopnya.
"Karena kalian sudah tukar cincin, kapan rencananya menikah?" tanya Bara.
"Sampai Arimbi selesai skripsinya Oom..."
"Lhaaa ada acara lamaran kok aku nggak diundang?"
Semua orang melihat ke orang yang baru datang sambil membawa koper.
"Arimbi sama Bima jahat!" teriak orang itu.
"Jiaaaahhh si cewek Arab bikin kacau lagi!" omel Hoshi.
***
Rina cemberut melihat dua orang di hadapannya. Bibirnya tampak maju hampir lima sentimeter dan Bima yakin kalau dikucir pakai karet gelang, sepupu jauhnya itu makin mirip Daffy Duck. Saat ini acara sudah selesai dan para keluarga sedang menikmati acara makan malam.
__ADS_1
"Namanya juga mendadak, Rin. Aku sudah dilamar mas Bima semalam terus papi sama Opa minta mas Bima datang bersama keluarganya malam ini. Ya sudah kami adakan acara lamaran dan kamu lihat sendiri, kita pakai zoom buat keluarga besar yang memang kami undang virtual" jawab Arimbi. "Kok kamu tahu acara ini? Dari mana?"
"Tuh si muka pucat! Main DM di Instagram aku tadi sore dan membuat aku langsung terbang dari Singapura ke sini!" jawab Rina.
"Hah? Hoshi DM kamu?" seru Bima merasa takjub si cabai setan sok concern.
"Iya! Dia bilang gini 'Kasihan deh elu sebagai sahabat Arimbi tidak diberitahu kalau dia mau lamaran malam ini'. Durjananya kalian!" keluh Rina dramatis dengan gaya hampir menangis.
"Kan kamu masih berkutat dengan skripsimu, Rin lagipula kasihan kamu bolak balik Jakarta - Singapura" sahut Arimbi sambil memeluk Rina.
"Awas kalau kalian nikah kagak ngundang aku!"
"Gak mungkin lah aku gak undang kamu. Kan kamu salah satu Bridesmaids aku" senyum Arimbi.
"Rin, kamu kan belum punya pacar. Gimana kalau kamu sama si muka cewek saja" usul Bima asal.
Rina melongo lalu mendelik ke arah saudaranya. "Bim, elu waras? Hanya cewek kurang waras yang bisa menghadapi Hoshi si muka pucat!"
"Kan elu kadang-kadang juga kagak waras" gelak Bima.
"Kupret lu!" umpat Rina kesal.
***
"Apa kamu yakin Ga?" tanya Bara ke Prayogha.
"Insyaallah yakin Bar. Tadi aku sudah berkonsultasi dengan dokter Tatang dan waktunya Arum tidak lama lagi."
"Setidaknya di saat-saat seperti ini, Arum sudah bertobat" ucap Ghani.
"Insyaallah Opa karena Rani melihat sendiri dia mulai sholat, banyak berdzikir dan mengaji" sahut Rani.
"Alhamdulillah" ucap Bara dan Ghani.
***
__ADS_1
Prayogha menemani Arum Banowati setiap hari bahkan dari pagi, pria itu sudah berada di rumah sakit dan mengajak cerita Arum walaupun seringnya Prayogha yang bercerita baik soal Bima, bisnis ayam gepreknya, kehidupannya di Pemalang dan beberapa cerita lucu yang membuat Arum tersenyum.
Prayogha sendiri juga mengajak Arum untuk mengaji bersama dan terkadang menjadi imam sholat bersama Arum, sesuatu yang jarang mereka lakukan pada saat masih sebagai sepasang suami istri.
Hampir sebulan Prayogha menemani Arum hingga di hari Jumat pagi, Arum meninggal dalam tidurnya dengan tangan masih dalam genggaman Prayogha. Wajahnya yang tirus tampak tersenyum dan seolah dia mendapatkan kebahagiaan di akhir hidupnya.
Jenazah Arum dimakamkan di TPU Tanah Kusir dengan biaya semua dari Prayogha. Keluarga Giandra semuanya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Bima memeluk ayahnya yang tampak terpukul meskipun sudah disakiti sedemikian rupa, dalam hatinya Prayogha masih mencintai mantan istrinya.
Bara dan Arum pun sudah memaafkan semua kesalahan Arum Banowati lama. Gavin Samuel yang dikabarkan bahwa kekasihnya sudah meninggal, hanya bisa termenung. Bagaimana pun, Arum Banowati memiliki tempat yang spesial di hatinya.
Prayogha tinggal di Jakarta selama seminggu dan setelahnya dia dan pengawalnya kembali ke Pemalang untuk melanjutkan usaha ayam gepreknya yang ditinggal cukup lama. Tawaran Bima untuk tinggal bersamanya di Jakarta ditolaknya karena Prayogha tidak mau karena banyak kenangannya di ibukota itu.
Bima sendiri akan selalu menelpon ayahnya setiap hari hanya untuk mengetahui kabar orang tuanya satu-satunya.
***
Hari ini adalah hari yang ditunggu Bima. Gadisnya sudah menyelesaikan studinya di Harvard dan sudah wisuda yang sayangnya Bima tidak bisa hadir ke Harvard karena dia harus ke Pemalang karena Prayogha mengalami kecelakaan kecil yang membuatnya harus memakai kursi roda.
Arimbi sendiri tidak keberatan Bima tidak dapat hadir di acara wisudanya karena kesehatan orang tua lebih penting. Setidaknya Bima dan Prayogha bisa melihat melalui live streaming dari channel Harvard.
Bima sekarang berada di bandara Soekarno-Hatta menjemput Arimbi karena dia memilih pulang belakangan untuk membereskan barang-barangnya dari rumah Hoshi yang dipakai dirinya dan Ega serta Rama selama kuliah. Rama sudah memegang perusahaannya di New York sedangkan Ega memilih tinggal di London sambil bekerja di rumah sakit anak-anak disana.
Bima menanti dengan gelisah kedatangan pesawat yang ditumpangi Arimbi. Gadisnya memilih memakai pesawat komersil untuk pulang ke Jakarta.
Akhirnya gadisnya pun muncul dan Bima dengan semangat memeluk Arimbi.
"Yuk pulang!" ajaknya sambil merangkul bahu Arimbi.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gifts
Tararengkyu ❤️🙂❤️