Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Seserahan ala Gendhis


__ADS_3

Pemberitahuan


**Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, cerita Davina akan aku buat sendiri karena konfliknya juga berbeda alur dengan Bara. Novel yang ini khusus milik Bara dan Gendhis Arum jadi Davina kemarin baru prolog. Insyaallah akan aku buat nanti malam karena siang ini Kara dan Rayden sudah tamat jadi aku bisa konsentrasi ke Bara dulu.


Thank you


Regards,


Hana Reeves** ❤️🙂❤️


***


Arum baru saja membuka ruang prakteknya ketika seorang suster yang menjadi asistennya hari ini menghampirinya.


"Dokter Arum" sapa suster Tiwi.


"Ada apa suster Tiwi?" tanya Arum sambil memakai snellinya.


"Ada dokter Arum Banowati mau bertemu dengan anda, dok."


Arum mengernyitkan dahinya. Ada apa Arum Satu kemari? Bukannya dia pasiennya mbak Rani? Eh aku lupa mbak Rani masih cuti nikah.


"Keperluannya apa ya Sus?"


"Katanya penting tuh dok."


Arum menghela nafas panjang. Tell me why I don't like Monday!


"Suruh masuk sus. Pasien saya belum pada datang kan?" Arum pun duduk di kursi kebesarannya.


"Belum dok." Suster Tiwi pun menghampiri Arum Satu yang kemudian mengantarkan ke ruangan Arum.


"Selamat pagi dokter Gendhis" sapa Arum Satu.


"Selamat pagi dokter Arum. Bagaimana kandungannya?" tanya Arum basa basi.


"Alhamdulillah semakin kuat. Nanti sore saya dan mas Azzam kembali ke Surabaya dan dokter Rani sudah memberikan copy riwayat saya supaya bisa jadi bahan pertimbangan dokter obgyn kami disana."


"Alhamdulillah. Semoga dokter Arum dan calon bayi sehat-sehat sampai lahirannya nanti. Aamiin." Arum tersenyum tulus ke Arum Satu.


"Aamiin."


"Ada perlu apakah gerangan dokter Arum ke ruangan saya pagi ini?" tanya Arum langsung to the point.

__ADS_1


"Saya hanya ingin meminta maaf atas sikap dan perilaku saya sewaktu di restauran lalu. Setelah melihat bagaimana mas Bara memperlakukan Anda, dokter Gendhis, saya sadar bahwa dia benar-benar sudah menghapus memori tentang saya."


"Boleh saya sedikit kepo dan Julid?" Arum mencondongkan tubuhnya di atas meja kerjanya. "Jika dokter Arum tahu sudah dijodohkan dengan dokter Azzam, kenapa masih menerima pernyataan cinta dari mas Bara? Anda kan tahu bagaimana karakter mas Bara, dia bukanlah pria yang plin-plan, selalu serius dalam bertindak dan berucap, bukan tipe pria yang seenaknya meskipun dia dari keluarga berada."


Arum Satu terdiam.


"Apakah karena dokter Azzam memiliki rumah sakit di Surabaya sedangkan mas Bara tidak punya?" Arun tertawa. "Dokter Arum kan sudah bertemu dengan keluarga besar mas Bara kan? Tahu kan siapa mereka? Kekayaan keluarga dokter Azzam tidak ada seujung kuku kekayaan keluarga mas Bara. FYI, rumah sakit tempat saya bekerja ini adalah milik Oom Duncan Blair karena dulu yang menbangun adalah Eyang Buyutnya mas Bara. Rumah sakit ini masih dibawah pengawasan PRC group dan tentu dokter Arum paham kan PRC group itu apa."


Arum membasahi bibirnya. "Fuji Al Jordan, saudara sepupu mas Bara, adalah seorang dokter ahli jantung tapi dia memilih mengambil alih PRC group dan sekarang rumah sakit ini dibawah pimpinannya. Jadi anda memilih dokter Azzam tanpa mengetahui bahwa keluarga mas Bara jauh lebih menggurita bisnis nya, Yaaa bejane saya" gelak Arum. "Terimakasih dokter Arum, telah melepaskan mas Bara yang berlapis berlian untuk saya."


Arum Satu melongo. Aku tidak tahu jika keluarga Mas Bara bisnisnya mengerikan.


"Saya sudah memaafkan sikap dan ucapan anda kemarin dokter Arum tapi saya juga berharap kita tidak usah bertemu lagi kecuali jika keadaan harus mempertemukan kita di acara seminar medis. Berbahagialah bersama dokter Azzam pilihan anda karena saya lihat dokter Azzam sangat menyayangi anda. Oh, jangan silau akan harta benda karena itu tidak akan dibawa mati." Arum tersenyum manis.


***


Bara dan Alexandra masih sibuk membeli barang-barang untuk acara lamaran besok bahkan soal cincin saja Arum menyerahkan semuanya ke Bara dan dia hanya menyebutkan ukuran jarinya.


"Ya benar sih mas. Seserahan kan terserah keluarga pria tapi kalau Gendhis dikit-dikit bilang 'terserah mas Bara', kan ya bikin Mama puyeng" kekeh Alexandra.


"Ma, Gendhis mintanya tas Louis Vuitton, sepatu Jimmy Choo, makeup punyanya Maybelline, skincare Estee Lauder dan SK-II, parfum Channel no 5 dan Tom Ford Velvet Orchid." Bara membaca permintaan gadisnya.


Alexandra tertawa. "Pantas jadi mantu mama soalnya itu brand favorit mama semua."


***


Sesampainya di rumah sakit tempat Arum bekerja, Bara segera menuju ruangan tempat dia berpraktek. Tampak masih ada dua orang ibu-ibu yang menunggu dan Bara memilih duduk di kursi yang disediakan lalu membuka ponselnya.


Ghani dan Gozali sedang mengurus kasus Danisha yang membuat Javier harus terbang dari Sydney ke Jakarta lebih cepat. Bara berharap kerjasama papa dan Oomnya semakin cepat menguak tabir yang menyelimuti sepupunya agar acara lamaran besok tidak terganggu dengan kasus itu.


"Pak Bara? Maaf, dokter Arum masih ada dua pasien lagi" sapa Suster Tiwi.


"Ndak papa Sus. Saya tunggu saja" senyum Bara.


"Saya tinggal dulu pak, mau membantu dokter Arum."


"Monggo Sus."


Ketika suster Tiwi masuk ke ruang praktek, Fuji menelpon Bara.


"Apa yang terjadi pada Davina, Ra? Be honest!" ucap Fuji geram.


"She's been molested, Ji" jawab Bara pelan.

__ADS_1


"FU**!! DAMN IT!" Fuji mengumpat. "Sama siapa? Ali?"


"Bukan. Malah Ali lah yang menolong Davina." Bara menghela nafas panjang. "So far tidak sampai penetrasi Ji. Mama, Papa dan Oom Gozali sudah membawanya ke rumah sakit Bhayangkara dan selaput dara Davina masih utuh."


"Alhamdulillah tapi visum et repertum ada kan?"


"Ada Ji. Please Ji, ini hanya kita yang tahu. Jangan sampai bocor, masih diselidiki papa dan Oom Gozali."


"Oom Javier tahu?"


"Tahu karena dia berhak tahu tapi kok kamu bisa bertanya seperti itu kenapa?" tanya Bara heran.


"Seira yang memberitahuku bahwa dia melihat ada jejak kiss Mark di balik leher Davina sedangkan aku tahu sekali kalau anak itu tidak mungkin berani sampai sejauh itu, bahkan mungkin sudah mokat duluan kalau berani melecehkannya."


"Kok Gendhis tidak bilang ya" gumam Bara.


"Bisa jadi Gendhis tidak melihat karena Seira melihat di sebelah kanan Davina sedangkan Gendhis kan posisi di kiri adik kita."


"Aku kasihan Ali."


"Kenapa?"


"Dia merasa bersalah bisa kecolongan Davina mengalami itu dan menyalahkan dirinya terus." Bara menghela nafas panjang lagi. Bagaimana dia melihat Ali bersedia dihajar oleh Javier nantinya setibanya ayah Davina itu nanti malam.


"Sekarang Ali dimana?"


"Mansionku bersama Davina, papa dan Oom Gozali yang bekerja dari sana."


"Aku akan ke mansionmu! Urusan di Tokyo dan Sydney aku pending dulu!" Fuji mematikan ponselnya.


Bara memasukkan kembali ponselnya dan menatap langit-langit rumah sakit.


Poor Davina.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Maaf review nya dari NT semalaman baru nongol siang tadi.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2