Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Dinner with Hoshi


__ADS_3

Travis Blair dan Radit Hermawan tampak sibuk mengatur strategi soal toko emas yang dijual oleh Prayogha Baskara. Radit mengakui meskipun Travis masih muda, baru 25 tahun tapi soal kecerdasan, pengaturan strategi dan kelicikan tidak diragukan lagi kalau dia benar-benar keturunan Blair.


Radit tahu bagaimana sepak terjang Opa Neil dan Daddy James di dunia hukum. Jika berani membayar mahal untuk dibela oleh salah satu keluarga Blair, dipastikan akan mendapatkan apa yang diminta dan selalu menangnya.


"Travis, boleh saya memanggil kamu begitu?" tanya Radit.


"Tentu saja boleh pak Radit, kan anda lebih tua dari saya" senyum pria bermata biru itu.


"Apa benar kami dibantu secara pro Bono ( gratis )? Secara anda sendiri yang turun tangan" Radit pernah mendengar satu jam konsultasi dengan Niel Blair saja bayarnya sekitar $10,000. Apalagi dengan cucunya, butuh biaya berapa ini?


"Pro Bono, pak Radit. Kan saya tadi sudah bilang diminta tolong oleh adik saya yang cantik. Bayarannya hanya makan malam besok Minggu bertiga saja" sahut Travis. "Pak Radit, apakah bapak memegang semua berkas penting Bimasena?"


"Kalau akta lahir dan surat wasiat asli dari Savita, semua ada di saya tapi kopian ada di pengacara Prayogha, Gavin Samuel."


Travis mengangguk. Gavin adalah saingan sang Daddy. "Soal Gavin, biar saya yang urus sebab dia juga punya cerita sendiri dengan Daddy saya" senyum smirk Travis pun terbit.


"Maaf Travis, apa semua keluarga besar Arimbi tahu soal kasus ini?" Radit cukup was-was mengingat sepak terjang para klan gabungan dari keturunan Pratomo.


"Pak Radit, tidak ada yang lolos dari screening keluarga besar kami baik dari yang kecil sampai yang besar. Baik dari art, sopir, pengawal sampai pasangan di keluarga kami. Memang kami dibebaskan untuk memilih pasangan tapi tetap saja harus lolos screening."


"Apa alasan kalian membantu Bima? Padahal saya tahu pak Bara dan tuan Ghani Julid dengan keponakan saya karena sikap slengean Bima." Radit menatap Bima dan Arimbi yang sedang ngobrol serius.


"Karena Arum Banowati. Dia sudah hampir membuat bangkrut Azzam Mustafa di Surabaya dan sekarang dia mengincar Prayogha Baskara. Kita tahu kekayaan keluarga Baskara seperti apa meskipun masih kalah dengan kekayaan kami" gelak Travis.


"Apa hubungannya dengan Arum Banowati?" tanya Radit bingung.


Travis menceritakan tentang Bara dan Arum Banowati. Radit pun melongo. "Untung pak Bara nggak jadi dengan black widow itu."


Travis mengangguk. "Korbannya tidak hanya Azzam Mustafa, tapi sesudahnya ada lagi sebelum Prayogha Baskara. Padahal setahu kami, ayah Arum, almarhum Ricky itu orangnya baik. Entah kenapa putrinya seperti itu."


"Lihat saja Bima. Ayahnya bajigur tapi dia tidak. Hasil didikan Savita murni dan Prayogha tidak ada selama proses Bima beranjak besar."


"Itulah salah satu alasan kami mau membantu, Bima berbeda dan punya attitude yang baik meskipun sering membuat darting Oom Bara" kekeh Travis.


***

__ADS_1


"Jadi? Benar dia pengen mengambil toko emas itu?" tanya Ghani ke Travis saat mereka semua sedang berada di ruang tengah usai makan malam.


"Benar Opa dan memang cash flow dan pendapatan mereka memang bagus apalagi pak Radit benar-benar mengelolanya dengan baik."


Travis memberikan data di Ipad-nya yang membuat Ghani dan Bara mendelik. "Ini hanya satu toko saja, Vis?" tanya Bara.


"Hanya satu toko yang memang milik Bima dan Radit. Toko lain, aku tidak tahu."


"Pantas si Prayogha sumbut mau ambil!" geram Ghani.


"Apa penawaran yang kamu berikan ke Radit sudah kamu sampaikan? Bagaimana pendapatnya?" tanya Alexandra.


"Pak Radit menerimanya Oma dan menurut saya, memang cara yang pantas untuk orang macam Prayogha dan Arum." Travis tersenyum smirk.


"Aku kasihan dengan Bima, punya ayah seperti itu. Untung kamu nggak jadi sama Arum Satu mas, bisa bangkrut Giandra Otomotif Co diambil alih sama dia" gelak Arum.


"Memang aku tidak jodoh dengannya karena Allah sayang sama aku dan dipertemukan dengan mu meskipun awalnya bikin ilfill" senyum Bara.


"Memang kenapa pap?" tanya Arimbi penasaran. Cerita cinta eyang buyut, Oma dan maminya sangat menyenangkan untuk didengar.


Arimbi dan Anarghya terbahak. "Daripada sakit perut?" sanggah Arum sambil manyun.


***


Bima sekali lagi bertemu dengan Travis Blair dan kali ini Arimbi tidak hanya bersama pria itu tapi juga ada pria lain yang Bima sebal minta ampun.


Hoshi Paramudya Quinn Reeves. Ngapain juga dia ikutan? Brengseeeekkkk!



"Benar Rimbi, kamu nggak patut sama dia!" ledek Hoshi. "Bahkan urusan dengan babehnya minta bantuan bang Travis."


"Ih, Hoshi! Kan bang Travis yang paham hukum, jangan gitulah!" Arimbi lalu menghampiri Bima yang sudah ngajak gelut mode on melihat Hoshi, sedangkan yang ditatap hanya bersidekap dengan tampang meledek.


"Mas Bima, bisa nggak mukanya nggak jutek begitu?" bisik Arimbi.

__ADS_1


"Ngapain si muka cewek kesini?" desis Bima jengkel.


"Dia kan pas liburan menunggu masuk sekolah besok Agustus. Di New York, Hoshi sudah libur." Arimbi memberikan senyum manisnya supaya Bima tidak manyun.


"Rimbi, nggak usah kasih senyum ke bocah itu. Bisa GeEr dia!" ledek Hoshi yang mendapat pelototan Arimbi, Bima dan Travis.


"Quinn! Knock it off!" hardik Travis yang membuat Hoshi diam.


Bima pun duduk bersebelahan dengan Arimbi berhadapan dengan Travis dan Hoshi.


"Sorry Bimasena, aku tahu kalian tidak akur tapi dia yang meminta ikut. So, sebelum kalian resmi nantinya, setidaknya sudah bertemu pria paling menyebalkan di kalangan kami" senyum Travis sambil melirik tajam ke arah Hoshi. "Dan itu memang turunan jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Hei, bukankah kita harus tahu siapa yang mendekati kita? Dan meskipun kamu punya usaha sendiri Bim, dimana aku salut denganmu, apakah kamu yakin akan menjadi pasangan Arimbi? Pantas menjadi suaminya nanti? Bagaimana jika kalian tidak berjodoh? Kalian masih muda, berbagai rintangan pasti ada." Hoshi menatap tajam ke Bima.


"Aku tidak mau adikku terluka karena itu aku keras padamu, Bim!" lanjut Hoshi.


Bima membalas tatapan Hoshi. "First of all, aku sudah jatuh cinta dengan Arimbi sejak pertama kali melihatnya dan aku akan selalu menunggu dan menjaga hati untuk Arimbi meskipun nantinya dia harus ke Harvard. Aku memang baru 17 tahun mau 18 dan memiliki banyak masalah keluarga tapi aku bersedia berkorban apapun untuk Arimbi, termasuk nyawaku!"


Travis dan Hoshi menatap remaja pria itu dengan tenang sedangkan Arimbi tersentak mendengar ucapan Bima. Mas Bima serius?


"Bagus! Setidaknya kamu sangat sangat sangat berbeda dengan ayahmu yang bajigur itu!" seringai Hoshi.


"Aku adalah didikan almarhum mamaku dan Oom Radit. Pria bernama Prayogha hanya menyumbangkan kecebong saja!" dengus Bima kesal.


Hoshi terbahak. "Boleh juga kamu!"


Bima tersenyum smirk.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2