
Bara dan Arum berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke sebuah warung kaki lima bertuliskan '*
Ketoprak Mang Ujang'. Keduanya pun masuk dan mengambil tempat duduk bersebelahan karena tempatnya agak ramai di jam makan siang.
"Lho neng Dokter. Pesan seperti biasanya?" tanya penjual ketoprak itu.
"Iya mang Ujang. Biasa ya." Arum menoleh ke arah Bara. "Mas Bara, pedas atau nggak ketopraknya?"
"Satu saja cabenya Dis" sahut Bara yang sedang mengecek ponselnya karena ada pesan masuk dari Hamzah, divisi desain.
"Mang Ujang, yang satu cabenya satu, yang punyaku biasa cabenya dua. Minumnya es teh manis dua ya."
"Siap neng."
Arum pun menoleh dan melihat beberapa suster yang ikut makan siang disana saling berbisik melihat Arum duduk bersama dnegan seorang pria.
"Dok Arum. Itu pacarnya ya?" tanya salah seorang suster yang memberanikan diri bertanya saking keponya.
"Oh bukan. Ini teman saya" jawab Arum. Benar kan? Cuman teman.
Bara melirik ke arah Arum. Heh? Teman? Ya ga salah sih.
"Kirain pacarnya dokter Arum."
Arum menggeleng. "Bukan, teman kok."
Pesanan ketoprak keduanya pun datang.
"Neng dokter yakin, itu akangnya bukan pacarnya?" goda mang Ujang.
"Bukan Mang, ini teman saya kok. Saudaranya teman kakak saya." Arum tersenyum. Bener kan? Mas Arya kenal sama mas Gasendra.
"Oooohhh. Kalau masih jomblo, ambil saja neng!" kompor Mang Ujang.
Arum terbahak. "Iisshhhh, Mang Ujang mah kompor bleduk!"
"Mangga dimakan ketopraknya."
Arum dan Bara memulai makan ketopraknya dan pria itu mengakui rasanya memang enak.
"Enak mas?" tanya Arum.
"Enak. Baru kali ini aku makan ketoprak mantap bumbunya."
Arum tersenyum. "Alhamdulillah kalau cocok di lidah mas Bara."
Suara ponsel Bara berbunyi. Wajahnya langsung sebal melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam sepupu durjana. Kenape?" sapa Bara galak.
"Iisshhhh nggak boleh gitu sama saudara yang cakep begini, Ra" kekeh Fuji.
"Ada apa telpon?" tanya Bara masih dengan nada judes.
"Aku mau ke Jakarta lusa, Ra. Ada urusan sama PRC group Jakarta sama Davina."
"Lalu?"
"Meet up yuk. Bawa Arum kedua sekalian" goda Fuji.
__ADS_1
"Gampang lah!"
"Ajak Arya sekalian ya Bambang" gelak Fuji.
"Brengsek lu!" umpat Bara kesal.
"Bye. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Bara mematikan ponselnya.
"Siapa mas?" tanya Arum yang bingung Bara marah-marah dengan bahasa Jepang.
"Fuji Al Jordan."
Arum melongo.
***
Bara mengantarkan Arum hingga lobby rumah sakit.
"Makasih mas Bara udah traktir aku lagi. Sering-sering aja ya mas" cengir Arum.
"Dis. Kalau weekend besok mas jemput buat ketemu sepupu-sepupunya mas, mau nggak?" Bara menatap Arum.
"Selain mas Arya ya? Apakah Fuji Al Jordan kah? Aduh, mas, dia kan boss nya kakakku. Gak enak aku" tolak Arum halus.
"Nggak papa, ada aku. Lagian Fuji juga yang ngajak terus ada Davina Arata juga kok." Davina adalah anak dari Javier Arata, putra Vivienne Neville dan Jammie Arata.
"Haaaahhhh? Ada Bu Davina juga?" seru Arum panik.
"Kenapa?" tanya Bara yang melihat Arum tampak menggemaskan kalau panik begitu.
"Itu boss kakakku juga. Aduh mas, mbok yo Ojo diajak sing abot-abot tho!" keluh Arum.
"Lha memang Kowe arep ta kon nyunggi bakul opo, kok sambat abot ( memang kamu ta suruh bawa bakul kok ngeluh berat )?" kekeh Bara receh.
Bara tersenyum. "Weekend aku jemput ya. Jam aku kabari."
"Baiklah mas. Pasrah Wis aku" ucap Arum dramatis.
Bara tertawa melihat dokter cantik itu memelas wajahnya.
***
Weekend ini Bara sudah rapi dan berencana menjemput Arum dan beruntung gadis itu tidak ada jadwal pasien. Fuji minta mereka bertemu di restauran milik Ryu Reeves yang sudah diakusisi oleh Aidan Blair di bawah bendera MB Enterprise.
Melihat putranya sudah rapi, membuat Ghani dan Alexandra mengerenyitkan dahi. Kalau cuma ketemu Fuji dan Davina, nggak usah serapi itu kan?
"Mau kemana Ra?" tanya Ghani.
"Mau ketemuan dengan Arya, Fuji dan Davina Pa" jawab Bara sambil memakai sepatu.
"Yakin cuma ketemuan sama mereka doang?" goda Alexandra yang sebenarnya sudah tahu Bara lagi pedekate dengan seorang dokter dari Danisha dan Iwan. Hanya ibu cantik itu menunggu sampai Bara cerita sendiri.
"Iya ma. Sudah ya, Bara berangkat dulu." Pria itu mencium punggung tangan Ghani dan Alexandra. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Ghani dan Alexandra saling menatap. "Belum berani cerita dia" kekeh Ghani yang sudah menyelidiki siapa Gendhis Arum Pradipta.
"Biarin saja Pa. Takutnya nanti sakit hati kayak kemarin jadi Bara masih hati-hati" ucap Alexandra.
"Semoga yang ini benar-benar jodohnya Bara, ya Lexa."
Alexandra tersenyum sambil memeluk suaminya. "Aamiin."
__ADS_1
***
Bara tiba di depan kost-kostan Arum dan tampak gadis itu sudah siap lalu masuk ke dalam mobil Range Rover biru tuanya.
"Kok ganti mobil mas? Kenapa nggak pakai yang kemarin?" tanya Arum setelah mereka berada di dalam mobil.
"Memang naik ini kenapa Dis?" tanya Bara balik.
"Lebih suka mobil yang itu. Lebih macho tapi bukan mantan cowok" kekeh Arum.
"Astaga" kekeh Bara. "Tadinya mau bawa itu sih cuma kok aku pengen naik ini saja."
"Aku manut wae Wis, lha wong dipethuk kok jik nawar Yoo. Pancen rak ngerti maturnuwun Rum Kowe" monolog Arum yang membuat Bara terbahak.
"Kamu kok bisa koplak gitu sih Dis?" tanya Bara gemas.
"Ini gara-gara didikan almarhum eyang putriku. Selama aku di Solo kan tinggal sama beliau dan eyang tuh recehnya nggak ketulungan. Aku jadi kebawa deh!" kekeh Arum santai.
"Berarti kalau nanti ketemu dengan sepupuku yang memang biang gesrek nggak masalah ya?"
"Ini nggak formal kan mas ketemuannya? Ketemu pak Fuji dan Bu Davina tuh bikin jiper tahu!" sungut Arum.
"Ini pertemuan informal, Dis jadi jangan panggil pak Fuji dan Bu Davina. Terserah mau panggil mas, Abang nggak papa kalau ke Fuji. Kalau ke Davina, bisa panggil nama karena kamu lebih tua dikit dari dia." Bara melirik ke arah Arum yang masih manggut-manggut.
"Oke lah. Manut!"
***
Keduanya sampai di restauran RR's meal milik Ryu Reeves dan disana mereka bertemu dengan Arya yang baru saja turun dari Audinya.
"Wah Bu dokter ikut juga. Libur kan Bu?" goda Arya.
"Iya mas Arya. Apa kabar?" senyum Arum.
"Alhamdulillah Jomblo" sahut Arya santai.
"Idem! Jadilah kita jones-jones berkumpul deh" gelak Arum yang membuat Bara mendelik.
"Yuk masuk. Fuji dan Davina sudah menunggu" ajak Bara. Ketiganya pun masuk ke restauran dan diarahkan ke ruang VIP karena sudah hapal keluarga Ryu Reeves.
Di dalam, Fuji dan Davina langsung tersenyum melihat kedua sepupunya lalu memandang Arum dengan pandangan menyelidik.
"Mirip banget sama Gasendra" ucap Fuji.
"Mirip lah! Wong aku adiknya kandung, asli bukan doppelganger. Serius! Bisa tes DNA kalau nggak percaya" cerocos Arum menutupi kegugupannya.
"Whoah! Ra, cocok nih gesrek nya" gelak Fuji. "Halo, aku Fuji Al Jordan." Pria berahang tegas itu mengulurkan tangannya yang disambut hangat Arum.
"Gendhis Arum Pradipta."
"Aku Davina Arata" gadis canti bermata belok itu pun menyalami Arum ramah.
"Wah, mas Gasendra pasti nggak percaya kalau aku sekarang sama bossnya" cengir Arum.
Fuji dan Davina tertawa.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️