
Bima dan Arimbi menikmati masak bersama tapi lebih tepatnya Bima usilin Arimbi dengan mencium pipi dan leher, terkadang bibirnya sekilas meskipun istrinya protes karena mengganggu konsentrasi memasaknya.
"Mas Bima mau dimasakin nggak sih? Nggak selesai-selesai kalau dijahili begini! Dah kerja sana ke sebelah!" protes Arimbi mode galak.
"Astaghfirullah Al Adzim. Jeng Arimbiku, ternyata baru seminggu nikah sudah berani galak sama suaminya?" ucap Bima seolah-olah siyok padahal dia tahu bagaimana Arimbi kalau sudah marah.
"Suaminya nakal jadi harus diomelin!" balas Arimbi. "Dah ke bengkel sana mas. Bang Jono paling sudah datang." Wanita langsing itu lalu membisikkan sesuatu yang membuat Bima memerah dan sumringah.
"Bener ya!" seru Bima.
"Iya. Nanti habis makan siang" goda Arimbi.
"Baiklah jeng Arimbiku. Kakangmas mau berangkat kerja dulu... ke sebelah." Bima mencium pipi dan bibir istrinya yang mencium punggung tangannya.
"Hati-hati berangkat kerjanya. Cari duit yang banyak!" kekeh Arimbi.
Bima pun pergi ke pagar samping dan menuju bengkelnya sedangkan Arimbi mulai membuat perkedel sembari menunggu nasi kuningnya matang dan Tanak serta sambal goreng atinya sedikit menyusut airnya.
Suara ponselnya berbunyi dan Arimbi tersenyum melihat siapa yang menelpon. Wanita cantik itu meletakkan ponselnya di holder yang disediakan disana lalu menggeser tombol hijau. Tampak sang mami, Arum di layar.
"Assalamualaikum ma" sapa Arimbi.
"Wa'alaikum salam. Kamu masak apa?" tanya Arum.
"Mas Bima minta dibuatkan nasi kuning sama sambal goreng ati. Ini nunggu matang, aku bikin perkedel kentang isi kornet."
"Sudah unboxing ya mbak?" goda Arum ke Arimbi.
"Hah?" Wajah Arimbi memerah.
"Tuh, ada banyak tanda di leher" kekeh Arum. "Gimana? Enak?"
"Iisshhhh mami" sungut Arimbi dengan wajah yang semakin memerah hingga ke telinganya.
Arum tertawa. "Kalau kamu mau ke mansion, jangan sampai kelihatan papi atau Opa Ghani. Bisa habis Bima nanti diomelin sama dua pria kaku itu!"
"Njih mam" senyum Arimbi. Keduanya lalu mengobrol banyak hal apalagi besok Arimbi sudah mulai masuk kerja ke PRC group. Arum memberikan banyak wejangan dan nasehat soal rumah tangga meskipun sebelumnya mereka sempat berbincang dengan Alexandra.
Setelah Arum selesai menelpon, Arimbi melanjutkan acara memasaknya sembari mengingat kehidupan pernikahan para keluarga besarnya. Opa Duncan dan Oma Rhea adalah contoh bagaimana mereka sudah berjodoh bahkan saat Oma Rhea belum lahir. Oom Arjuna sempat terpeleset dan sekarang bahagia dengan Tante Sekar.
Arimbi sangat menyukai cerita asmara Opa dan Oma Buyut, Opa dan Oma sekarang, Oom dan Tante nya bahkan sepupunya sendiri pun memiliki cerita tersendiri. Bagi Arimbi, cara mereka mengatasi banyak kerikil saat berumahtangga, adalah pelajaran yang manis baginya karena tidak ada rumah tangga yang mulus-mulus saja.
__ADS_1
Kini dirinya dan Bima baru saja memulai biduk rumah tangga, doa sederhana Arimbi ingin menikmati bersama Bima dan anak-anak mereka nantinya hingga maut memisahkan. Masih terlalu dini tapi doa baik kan harus dipanjatkan, bukan?
"Jeng Arimbiku! Aku kesal hari ini!" teriakan Bima membuyarkan lamunan Arimbi yang sedang menata meja.
"Kenapa?" tanya Arimbi lembut sambil tersenyum melihat suaminya manyun.
"Tanganku luka kena obeng. Lihat!" Bima menunjukkan telunjuknya yang tergores obeng.
Arimbi menutup mulutnya tidak percaya. Astaghfirullah, kenapa suami aku kayak anak kecil? Setelahnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Kamu tuh! Suami terluka kok malah ngetawain? Sakit ini!" rengek Bima yang mengingatkan Arimbi ke Bayu, putra Abi O'Grady sepupunya.
"Sini, sini. Suaminya Arimbi yang terluka, sini aku obati." Arimbi membuka laci meja dibawah tv besar dan mengambil kotak P3K. "Duduk anteng ya cah Bagus yang rewelnya 11-12 sama Bayu."
"Tetap ganteng Bimasena dari Bayu dong jeng" cengir Bima narsis.
"Astaghfirullah, mas. Bayu kan masih batita tapi aku yakin besarnya dia lebih ganteng dari mas Abi."
"Kalau gitu, nanti kita bikin yang lebih ganteng dari Bayu!" Arimbi terbahak. "Lho kamu ada keturunan bule, jeng. Pasti bagus deh nanti anak kita."
"Aamiin. Dah yuk, makan siang dulu. Sudah matang semuanya dan semoga mas cocok rasanya." Arimbi selesai mengobati jari Bima dan memberikan plester antiseptik.
"Aku akan makan apa saja yang kamu masak, selama itu yang masak kamu karena aku menghargai semua jerih payah kamu memasakkan untukku." Bima mencium pipi Arimbi.
Keduanya pun duduk di meja makan dan Arimbi melayani Bima seperti mami dan omanya melayani Bara dan Ghani. Bima sangat bersyukur menikah di usia muda, hendak menginjak 24 tahun dan Arimbi 22 tahun karena nantinya jarak ke anak-anak tidak terlalu jauh jika mereka dewasa nanti.
"Jeng, ini enak banget!" Bima sampai minta tambah padahal dia jarang makan tambah.
"Alhamdulillah kalau cocok masakan ku."
"Alamat aku ke tempat bang Takei seminggu tiga kali ini" gerutu Bima.
"Lho kenapa?"
"Kamu pengen perut aku kayak Oom-oom? Blending gitu? Mungkin kamu gak papa, tapi aku tidak betah kena kedurjanaan Hoshi!" sungut Bima yang membuat Arimbi cekikikan. Suami dan sepupunya itu memang susah akur. Ada saja bahan penistaan diantara mereka berdua.
"Lho kan wajar kalau pria sudah menikah sedikit menggemuk" gelaknya.
"Not me!" sahut Bima sambil mengambil perkedel kentangnya yang keempat.
***
__ADS_1
Usai makan siang dan sholat Dhuhur berjamaah, Arimbi benar-benar memberikan servis ke Bima yang membuat suaminya terpana karena merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan, bahkan semakin kesini semakin menaikkan adrenalin dan libidonya.
"Ya ampun sayang, kamu belajar dari mana?" tanya Bima di tengah-tengah er**angan dan desa**han keduanya.
"Ssstttt... Rahasia!" kerling Arimbi dengan nada sen**sual yang sedang berada diatas Bima.
"Aku tidak perduli kamu belajar dari mana, asalkan servismu hanya untukku!" Bima lalu mengambil alih membuat Arimbi terpekik kaget. "Rough dikit mau? Aku gemas padamu, Rimbi."
Arimbi menoleh ke arah Bima yang berada di belakangnya. "Bring it on" bisik Arimbi dengan suara diserakkan yang membuat Bima semakin semangat.
"As you wish Baby."
***
Keduanya sekarang tiduran sembari berpelukan, Arimbi meletakkan kepalanya diatas dada bidang Bima dan mengusap perut six pack suaminya sedangkan suaminya mengusap-usap bahu mulus istrinya. Nafas mereka yang sebelumnya memburu, kini semakin teratur setelah semua ekstasi tergapai dan tersalurkan.
"Sayang, terimakasih. Tadi itu awesome" ucap Bima.
"Suka?"
"Buanget! Kamu tuh paket lengkap, Rimbi." Bima menciumi pucuk kepala istrinya. "Arimbiku, kita tidak tahu kehidupan rumah tangga kita bagaimana, mulus atau kejedot." Arimbi mendongakkan kepalanya.
"Kejedot?" kekehnya geli. Bima memang suka bikin istilah aneh-aneh.
"Ya itulah maksudnya. Rimbi, rumah tangga itu kuncinya keterbukaan dan kejujuran. Aku akan selalu jujur padamu dan aku harap kamu juga. Meskipun kita lelah setelah seharian bekerja nantinya, aku ingin kita selalu melakukan pillow talk. Kita cerita apa saja, lucu, sedih, membagongkan... Apalah itu. Jika aku ada beban, aku akan bercerita padamu, begitu juga kamu nantinya dan kita mencari jalan keluarnya bersama-sama."
Arimbi memandang wajah tampan Bima dan tangannya terulur ke pipi suaminya. "Love you mas Bima. Kita berusaha agar rumah tangga kita ini awet seperti anggota keluarga ku yang lain."
"Aamiin. Love you too jeng Arimbiku." Bima mencium bibir Arimbi dalam.
*** END ***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Alhamdulillah cerita Arimbi dan Bima selesai juga. Sorry nggak sampai hamil karena nanti akan aku ceritakan sekilas di novelnya Hoshi habis lebaran.
Terimakasih atas semua atensi dan perhatian ke menantu somplaknya Bara dan Arum. Semoga menghibur meskipun sering membagongkan.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️