
Bima mengelus pan*tat dan sikunya yang dengan niatnya mencium lantai keras kamarnya. Buseeettt ! Efeknya ternyata dashyat chuy! Jangan sering-sering! Bisa jantungan gue!
"Arimbi? Halo? Arimbi? Sayang?" Bima melihat ponselnya dan tampak sudah menjadi wallpaper gambar Arimbi. Panggilannya sudah dimatikan.
Mampus gue! Alamat kagak bisa tidur nih gue! Bima meletakkan ponselnya di nakas lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Bima memeluk guling sambil gedubrakan membolak-balik badannya.
"Arimbiiii! Gue cinta eluuu!"
***
"Hatsyiinngg !" Arimbi bersin ketika sedang ke dapur mengambil air minum seperti biasanya sebelum tidur.
"Kamu flu nak?" tanya Arum sambil memegang dahi Arimbi yang juga sedang ke dapur.
"Nggak kok mam, kayaknya kena debu." Arimbi tersenyum ke maminya.
"Jangan terlalu diforsir belajarnya nanti malah sakit. Besok ujian apa?"
"Matematika, mam."
"Ya udah, sekarang bobok ya."
Arimbi mengangguk dan mencium Arum. "Goodnight mami."
"Goodnight, sayang."
***
Ghani yang sedang menikmati udara pagi bersama Alexandra di teras mansion, mengernyitkan dahinya ketika melihat Vespa biru telur asin itu datang setelah sekian lama tidak datang.
"Ngapain tuh bocah kesini lagi, Lexa?" gerutu Ghani sebal.
"Paling jemput Arimbi buat ke sekolah bareng" jawab Alexandra tenang meskipun dalam hatinya merasa geli melihat Ghani dan Bara julid ke Bima. Padahal dulu waktu Danisha didekati Iwan, mas Daniswara tenang-tenang saja. Apa karena Arimbi masih remaja ya.
Bima memarkirkan Vespanya di depan garasi lalu melepaskan helm full facenya dan berjalan menuju rumah.
"Assalamualaikum Opa Ghani, Oma Alexandra. Arimbinya wonten?" sapa Bima sambil mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan Ghani dan Alexandra bergantian.
"Wa'alaikum salam" jawab keduanya. "Ada kok di dalam. Kamu sudah sarapan belum? Kalau belum, ayo Oma anter ke dalam."
__ADS_1
"Lexa!" protes Ghani.
"Apaan sih Mas Daniswara. Jangan bikin ribut deh pagi-pagi" sahut Alexandra cuek lalu menghela Bima ke dalam rumah.
"Nuwun sewu Opa" senyum Bima sopan. "Kulonuwun? Assalamualaikum" salam Bima ketika sampai ke dalam rumah.
Meskipun dongkol dan jengkel melihat Bima yang dengan pedenya mendekati Arimbi, Ghani mengakui kalau remaja pria itu memiliki adab yang baik. Sopan dan tahu unggah ungguh meskipun kadang slengean. Tapi Hoshi, Jendra dan Rama juga parah selengeannya.
Ghani tersenyum tipis. Punya nyali juga tuh si Bima. Jarang anak jaman sekarang seperti dia. Pria paruh baya itu menyesap teh wasgitelnya. Kita lihat saja bagaimana kedepannya.
***
"Astaghfirullah! Ngapain kamu kesini lagi Bima?" Bara memincingkan matanya begitu melihat Bima berjalan bersama sang mommy, Alexandra. Saat itu pria berusia 45 tahun itu sedang membaca koran di meja makan.
"Mau jemput Arimbi lah buat berangkat sekolah bareng. Kamu kok tanyanya aneh!" gerutu Alexandra sebal. "Bima, duduk dulu. Sarapan yang ada ya."
Bima mengangguk. "Njih Oma." Bima pun duduk di kursi makan dan tak lama pelayan datang membawakan chicken sandwich dan segelas susu. Alexandra sendiri kembali menuju teras dimana Ghani masih menikmati suasana disana.
"Lho? Mas Bima? Ngapain kesini?" tegur Anarghya dengan wajah heran.
"Jemput mbakyumu lah!" jawab Bima santai.
"Mas! Nggak malu dilihat Bima?" desis Arum sambil menuju kursi tempat dia biasa duduk.
"Ngapain malu, wong pakai baju kok!" Bara menatap Bima tajam. "Kamu jangan berbuat aneh-aneh sama Arimbi kalau masih mau selamat!"
"Dih Oom Bara, nggak berani saya berbuat aneh-aneh! Lagian sebelum aneh-aneh, saya sudah dihajar sama Arimbi."
"Nah tuh tahu!"
Arimbi keluar dari kamarnya dan tampak cantik serta segar. Gadis itu mencium pipi Bara dan Arum bergantian, lalu menepuk kepala adiknya pelan.
"Pagi semua. Pagi kak Bima" sapa Arimbi manis.
Kok panggilnya 'kakak' lagi sih?
"Pagi Arimbi." Bima menjawab dengan nada sedih.
Arimbi hanya mengerenyitkan alisnya. Kak Bima kenapa ya?
__ADS_1
***
Kesekian kalinya Arimbi duduk menyamping sambil memeluk pinggang Bima tapi gadis itu merasa bahwa ada yang berbeda.
"Kak Bima kenapa?" tanya Arimbi sedikit berteriak karena Bima memakai helm full face.
Bima hanya menggelengkan kepalanya. Arimbi hanya terdiam. Salahku dimana?
Vespa Bima sampai di tempat parkiran sekolah dan beberapa siswi yang melihat keduanya datang, tidak berani macam-macam lagi kepada Arimbi. Mereka masih ingat bagaimana brutalnya Arimbi menghajar para pengeroyoknya hingga babak belur.
Seperti biasa, Bima membantu melepaskan kaitan helm Arimbi. Gadis itu menatap Bima dengan wajah bingung.
"Kak Bima kenapa?" tanya Arimbi.
"Nggak papa" sahutnya ogah-ogahan.
"Aku salah apa, kak?"
Bima menghembuskan nafas panjang. "Gadha salah, hanya saja ... Aku yang terlalu berharap." Bima menatap halaman sekolah dengan tatapan menerawang.
Arimbi melongo lalu setelahnya dia tersenyum. " Apa karena aku memanggil kak Bima pakai 'kak' lagi?"
"Menurut mu?" Bima menatap Arimbi.
Arimbi masih tersenyum. "Aku masuk kelas dulu ya, hampir masuk. Terimakasih sudah diantar ... mas." Gadis itu lalu berlari menuju kelas tempat dia ujian meninggalkan Bima yang terbengong-bengong.
Eh? Apa itu tadi? Hah?!
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1