
Bara menatap bingung ke arah dua wanita cantik yang sama-sama berprofesi sebagai dokter kandungan.
"Mas Bara, perkenalkan ini mbak Rani Jayanti seniorku dan juga calon kakak iparku. Mbak Rani, ini mas Bara Giandra."
Bara mengulurkan tangannya ke Rani yang menyambutnya dan saling menyebutkan nama masing-masing.
"Udah lama kenal sama Gendhis?" tanya Rani santai.
"Dua bulan kayaknya" jawab Bara.
"Sudah dikerjain apa saja sama adikku satu ini?" kerling Rani jenaka.
"Well, kentut di depanku" jawab Bara sambil tersenyum.
"Hahahaha itu masih sopan bilang sama kamu, Ra. Sebelumnya dia mah diam-diam kasih parfum bau mbulek!" gelak Rani.
Bara hanya melirik judes ke Arum yang melengos melihat tempat tidur periksa pasien.
"Kasurnya bagus ya mbak" ucapnya cuek.
"Dih! Mengalihkan pembicaraan!" sungut Rani.
"Ini aku disuruh jemput disini ada apa Dis?" tanya Bara bingung.
"Mau nengok mantan nggak?" tantang Arum.
"Hah? Mantan?" Rani menatap Bara bingung lalu sejurus kemudian. "Arum Banowati itu mantan kamu?"
"Iya..." jawab Bara pelan.
"Makanya aku bawa dia kesini supaya bebas dari rasa patah hatinya soalnya udah sama aku yang cantik paripurna plus receh ini!" ucap Arum tanpa beban.
"Kamu nggak cemburu, Ndis?" tanya Rani takjub. Kalau aku di posisi Gendhis, udah auto jealous lah!
"Cemburu lah mbak! Tapi aku mau kasih lihat bahwa mas Bara sudah move on dan mendapatkan lebih dari dia!" jawab Arum berapi-api.
"Dis, kan kamu sudah aku bilang bahwa kamu sama aku sekarang, bahkan papa sudah bilang sama papamu kalau mau melamar kamu setelah kakakmu menikah akhir tahun ini dan itu dua bulan lagi kan? Jadi sebulan sesudah Gasendra menikah, aku akan melamar kamu." Bara menatap Arum serius membuat gadis itu melongo.
"Serius mas?" tanya Arum.
"Aku bukan anak ABG, Gendhis. Setiap aku berucap dan bersikap, selalu serius. Dan aku benar-benar ingin menjadikan kamu sebagai pendamping hidupku."
Arum menitikkan air matanya. Pernyataan Bara yang tidak ada kata cinta tapi tampak serius untuk dalam pernyataan menjadikan pendamping hidup itu merupakan sesuatu yang lebih dalam artinya daripada seringnya ucapan 'Love you' namun gombal.
Arum sendiri tahu Bara bukan tipe romantis tapi dia memiliki sisi romantis tersendiri dan hanya dia dan keluarganya yang tahu.
"Oh my God Bara, kamu membuat kita-kita baper terutama adikku yang kamu lamar dengan begini seriusnya." Rani mengambil tissue yang diberikan ke Arum dan dirinya.
__ADS_1
"Kamu jadi saksinya ya Rani Jayanti" ucap Bara.
"Tenang. Ada bukti otentik" cengir Rani yang menunjukkan CCTV diatas kepalanya.
Bara hanya tertawa lalu memeluk Arum yang tidak berhenti menangis.
"Kok kamu jadi gembeng Dis?" kekeh Bara tanpa peduli kemejanya basah kena bedak dan lipstik Arum.
"Baper bambaaaaannggg!" hardik Arum gemas di tengah-tengah tangisnya.
***
Bara menggandeng tangan Arum menuju kamar rawat Arum Satu dengan wajah bahagia. Arum sendiri mengakui bahwa dirinya jatuh cinta dengan pria kaku yang dalam saat-saat tertentu bisa menyaingi kerecehannya.
"Mas Bara" panggil Arum.
"Hhmmm."
"Apa yang bikin mas Bara yakin sama aku?"
Bara tampak berpikir. "Kamu tuh apa adanya, bisa berbaur dengan keluarga ku, keluarga besarku dan mereka semua pun bisa menerimamu. Mbak Marissa dan Davina adalah orang yang kaku tapi bisa mengobrol dengan mu."
"Apa Arum Satu tidak bisa berbaur?"
"Dia lebih pendiam dan menarik diri dibandingkan kamu yang ajaib" senyum Bara.
Arum menatap Bara judes. "Aku ajaib ya?"
Arum Satu melongo melihat Bara bersikap mesra dengan seorang gadis cantik yang tampaknya adalah kekasihnya sekarang.
"Dokter Arum Pradipta? Bara? Mau besuk Arum?" sapa Azzam.
***
Bara hanya duduk di sofa bersama Azzam sedangkan Arum Satu mengobrol dengan Arum yang sedang memeriksa berkas pemeriksaan.
"Jadi kamu akan segera menikah dengan dokter Arum Pradipta?" tanya Azzam.
"Iya, insyaallah tahun depan setelah kakaknya menikah dengan dokter Rani dua bulan lagi" jawab Bara tanpa melepaskan pandangannya ke Gendhis Arum.
"Alhamdulillah" jawab Azzam.
"Bagaimana istrimu?" tanya Bara basa basi meskipun tadi Rani sudah menjelaskan bahwa kehamilan Arum Satu agak sulit.
"Harus bedrest total seminggu dan kami mematuhi perintah dokter Rani yang merawat Arum. Kami kan beda profesi dan dokter Rani yang lebih paham. Dokter Arum Pradipta juga sama kan dengan dokter Rani?" jawab Azzam.
"Iya, mereka sama-sama dokter obgyn" sahut Bara.
__ADS_1
"Mas Bara, sudah aku periksa. Memang dokter Arum harus bedrest total karena resiko gugur tinggi" ucap Arum apa adanya.
"Apakah bisa diselamatkan, dok Arum?" tanya Azzam.
"Dokter Rani sudah memberikan penguat rahim kan? Selama dokter Arum patuh dengan perintah dokter Rani, insyaallah bisa selamat" jawab Arum.
Azzam mengangguk. Arum memberikan kode ke Bara agar mereka segera pergi.
"Aku pulang dulu Zam. Sehat-sehat ya Rum" ucap Bara datar.
"Terimakasih mas" jawab Arum Satu.
"Kami permisi dulu. Kalau ada keluhan atau butuh sesuatu, bisa hubungi dokter Rani." Arum pun mengangguk lalu menghampiri Bara yang mengulurkan tangannya. Keduanya pun keluar kamar Azzam dan Arum saling bergandengan mesra.
Ternyata kamu masih belum move on dari aku ya mas Bara. Bahkan mendapatkan kekasih namanya sama dengan namaku. Arum tersenyum tipis.
***
"Sudah? Lega? Udah bisa sendawa sekarang?" goda Arum ke Bara.
"Hah? Kok malah sendawa?" tanya Bara bingung.
"Lha muka mas Bara kayak orang mau sendawa tapi nggak bisa" kekeh Arum.
"Hah?" Bara menggelengkan kepalanya.
"Mas, baju mas kotor tuh kena bedak ma lipstikku" ucap Arum sambil menunjukkan noda di kemeja putih Bara.
"Siapa yang nangis geru-geru dapat pernyataan menjadi istri Bara Giandra?" goda Bara yang membuat Arum manyun.
"Tapi bener mas, aku pernah pacaran tapi mendapatkan pernyataan seperti mas Bara itu jauh lebih dalem chuy!" cengir Arum. "Gimana aku nggak baper sih!"
Keduanya kini sudah sampai di parkiran mobil dan masuk ke dalam Rubicon Bara.
"Mas Bara sudah nggak ada perasaan lagi kan sama Arum Satu?" Arum menatap Bara serius.
"Tadi ketika melihat dia pas aku cium kamu, ada perasaan 'see I can move on' dan itu good feeling apalagi Gendhis ku ini jauh lebih cantik dan menghangatkan hatiku" ucap Bara yang menatap Arum serius.
"Whoah! Bisa ngegombal ih mas Baraku" gelak Arum.
"Mau yang lebih dari menggombal juga bisa" bisik Bara yang mencondongkan tubuhnya. Kedua tangan Bara memegang wajah Arum dan bibirnya mencium bibir Arum lembut.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️