Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Di Rumah Bu Kinanti


__ADS_3

Bara hanya bisa mengusap wajahnya kasar setelah mendengar argumen Arum soal perkentutan.


"Orang bisa kentut itu anugerah lho mas. Kebayang kan kalau gas di dalam perut itu berkumpul tapi ga bisa keluar, bikin perut mbesesek, sesak, begah bahkan bisa sampai meninggal lhooo!" Arum tetap menyatakan argumen nya. "Nama kondisi tidak bisa kentut itu adalah peritonitis. Makanya kita saban habis operasi, diwajibkan untuk bisa kentut."


"Ya Allah, Dis, kayak gini kok dibahas sih?" keluh Bara.


"Lho ini pembahasannya secara medis, ilmiah bukan soal saru atau ga pantas etika. Kalau aku tadi berani kentut di depan mas Bara, sebagai info bahwa aku tuh ya begini kalau sudah akrab sama orang. Apa adanya." Arum meminum teh mintnya.


"Iya deh, mana ada orang makan di restauran fine dining main brakoti tulang iga" kekeh Bara.


"Nah tuh tahu. Jadi tho mas, mending tahu jelek-jeleknya kita di depan dulu daripada nanti terkaget-kaget pada saat sudah menikah. Bisa-bisa gagap budaya yang membuat gugurnya impian sebelum menikah" ucap Arum santai.


"Iya juga sih. Dulu Necan Dara juga cerita kalau Ogan Abi yang tadinya kaku bisa receh." Bara tersenyum mengingat kedua opa dan omanya.


"Kok bisa Ogan dan Necan? Necan itu Nenek Cantik, kalau Ogan?"


"Opa ganteng" kekeh Bara.


"Haaaahhhh? Eh tapi memang Ogan mas Bara ganteng lho. Mungkin kalau aku hidup pas di jamannya Ogan Abi, aku bisa termehek-mehek lihatnya" cengir Arum.


"Memang, Ogan Abi paling ganteng bahkan Nisha juga mengakui meskipun papa juga cakep sih mudanya" gumam Bara.


"Mas Bara doang yang ga ganteng!" komentar Arum.


"Hah? Kok bisa?" Bara mendelik tidak percaya ada cewek yang bilang dia tidak ganteng.


"Iyalah kagak ganteng! Lha wong buat move on ajah susah banget!" gelak Arum.


"Soalnya belum menemukan cewek yang tepat, Dis. Eh sekarang sekalinya move on, dapat cewek receh tukang kentut pula!" Bara menggelengkan kepalanya.


Arum terbahak. "Sabar ya mas menghadapi aku. Kan kita masih ada waktu tiga Minggu buat mantapin hati. Mungkin mas Bara sudah tapi aku belum dan aku akan belajar memahami dirimu mas. Kita nikmati saja dan jika kita berjodoh pasti akan nempel seperti Velcro."


"Kamu tuh kalau cari istilah kok suka aneh-aneh sih?"


"Velcro masih bagus kaleee mas daripada tahi di sol sepatu? Jorok lah!" ucap Arum cuek.


Ya Allah, nih cewek! Memang berbeda!


***


Bara dan Arum pun menuju Mojosongo untuk berkumpul bersama Ghani dan Alexandra disana. Levi dan Yanti juga akan mampir ke rumah Iwan. Arum melongo melihat rumah sederhana milik Bu Kinanti dengan toko kelontong di garasi yang sudah berubah fungsi.


"Iwan punya rumah sendiri dengan Nisha dekat sini juga tapi kalau liburan gini, pasti menginap di Bu Kinanti" ucap Bara.


"Salut aku sama Nisha, mas. Notabene kalian itu begitu brojol kan sudah auto kaya dan Nisha juga CEO AJ Corp Solo, tapi kok bisa hidup sederhana begini? Bukan aku ngenyek mas, tapi biasanya tho..."


"Nisha sudah niat kok Dis kalau menikah dengan Iwan, dia akan hidup apa adanya karena Iwan bukan dari keluarga kaya. Toh mereka juga bahagia apalagi setelah sempat keguguran anak pertamanya karena Nisha shock tahu mas hilang." Bara menoleh ke Arum yang masih terkagum dengan keluarga Bara.

__ADS_1


Dengan mata kepalanya sendiri Arum melihat bagaimana Ghani dan Iwan dengan santainya duduk di lantai membenarkan Vespa klasik berdua tanpa risih kotor di tangan keduanya. Padahal Arum tahu Ghani komisaris Giandra Otomotif Co tapi disini hanya terlihat papa mertua Iwan.


Alexandra sendiri dengan santainya bersama besannya, Bu Kinanti, duduk di teras bersama bayi lucu sedangkan Danisha melayani pembeli di warung kelontong milik mertuanya.


"Ayo turun" ajak Bara yang dijawab dengan anggukan Arum.


"Assalamualaikum" sapa keduanya ketika masuk ke halaman rumah milik Bu Kinanti.


"Wa'alaikum salam" sapa semuanya.


"Kalian habis dari mana?" tanya Alexandra.


"Kemuning ma. Biasa ngadem" ucap Bara sambil Salim kepada Bu Kinanti, Alexandra dan Ghani yang diikuti oleh Arum.


"Lho ini siapa jeng? Calon mantu?" tanya Bu Kinanti.


"Aamiin. Masih penjajakan kok mbak" jawab Alexandra sambil memangku bayi bule tampan.


"Namanya siapa mbak?" tanya Bu Kinanti.


"Gedhis Arum Pradipta, Bu."


"Namanya cantik seperti orangnya. Mbak Gendhis..."


"Panggil Gendhis saja Bu" pinta Arum sambil tersenyum.


"Baik nak Gendhis. Kerja dimana?"


"Wah hebat" puji Bu Kinanti.


"Halo Rum" sapa Danisha yang sudah selesai melayani pembeli dan keduanya saling berpelukan.


"Seru Nis, jualan?" tanya Arum.


"Seru, mencoba sesuatu yang lain dari yang di kantor" kekeh Danisha yang hari itu hanya mengenakan kemeja gombrong yang dimasukkan ke celana jeans belel.


"Bu Kinanti. Bade tumbas Gendhis" suara seorang perempuan datang ke toko kelontong mertua Danisha.


"Ini Gendhisnya" tunjuk Bara sambil tertawa yang membuat orang-orang di teras tersenyum.


"Maksudnya gimana mas?" tanya ibu itu bingung.


"Mbaknya namanya Gendhis" kekeh Bara yang membuat ibu itu tertawa.


"Haaaddeeh. Itulah aku suka sebal kalau di Solo" ucap Arum sambil manyun.


***

__ADS_1


Levi dan Yanti sudah bergabung di rumah Bu Kinanti dan suasana pun menjadi ramai karena pria tampan itu pun akhirnya ikut turun membenarkan Vespa antik yang dibeli oleh Iwan. Sekarang empat pria tampan dengan yang satu beda usia, asyik mengutak-atik mesin motor itu.


"Alamat nanti aku beli baju deh buat mas Levi karena pasti kena oli dan kotoran" kekeh Yanti.


"Di depan ada toko baju kok, Yan" ucap Danisha.


"He eh ya sekedar buat ganti baju kok" sahut Yanti.


"Bapak sehat Yan?" tanya Alexandra setelah meletakkan Ega yang tertidur di kamarnya.


"Alhamdulillah sehat ma. Sekarang sudah dibantu Agus, anak pak Yono. Memang sih agak berkebutuhan khusus tapi Agus anaknya rajin dan cepat paham kerjanya. Bapak jadi seneng ada temannya apalagi Agus sama ma bapak, demen dengerin ketoprak di radio" senyum Yanti.


"Syukurlah kalau bapak sehat dan dapat teman ngobrol. Kadang mama kasihan kalau bapakmu sendirian, Yan" ucap Alexandra.


Suara Marco dan Luca tampak terdengar di halaman rumah membuat suasana rumah Bu Kinanti makin meriah.


"Tante Alexandra, Bu Kinanti" sapa Marissa sambil mencium punggung tangan Tante dan mertua Danisha. "Ini kita bawakan sate kambing buat makan malam disini."


"Tante, Bu Kinanti" sapa Marco. "Ohya, sebelum aku lupa. Tadi kita lihat Arum mantannya Bara di Manahan."


Alexandra dan Ghani hanya melotot menatap Marco yang tanpa filter lalu menatap Arum.


"Santai semua, Mas Bara sudah cerita kok. Aku rakpopo sedoyo. Pun santai mawon" gelak Arum.


"Benar Bara sudah cerita, Dis?" tanya Alexandra.


"Sampun Tante, malahan tadi mas Bara aku suruh move on kok!"


"Terus?" tanya Ghani.


"Katanya dah move on sama aku tapi kayaknya ilfill sama aku sekarang." Arum nyengir.


"Lha kenapa?" tanya Danisha.


"Gimana nggak ilfill, kentut pakai laporan" ucap Bara manyun.


"Astaghfirullah! Gendhis!"


"Daripada sakit atau diam-diam terus tahu-tahu ada aroma aduhai kan lebih baik jujur apa adanya tho?" kerling Arum.


Levi dan Marco tertawa terbahak-bahak.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaakkk


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2