
Malam ini semuanya makan malam di rumah Bu Kinanti dengan lauk sate kambing daging dan sate buntel. Levi malah sempat membeli kue putu yang lewat depan rumah karena tiba-tiba kepengen.
"Di New York kagak ada kue putu chuy!" ucap Levi yang langsung mengeluarkan selembar uang warna merah demi kue putu. Luca yang belum pernah melihat cara pembuatan kue putu itu, langsung antusias. Bocah tampan berdarah Italia itu banyak bertanya dengan tukang putu yang harus diterjemahkan oleh Marissa dan Levi.
"Sini tuh banyak makanan ya Bu" komentar Marco melihat ramainya jalan dan banyaknya orang berjualan makanan.
"Iya nak Marco, sini memang ramai jualan makanan dan harganya murah-murah.
"Benar Bu, tadi saja saya sama Marissa dan Luca kuliner sana sini habisnya nggak sampai $50. Padahal kita dah makan macam-macam" ucap Marco.
"Bang, aku jamin kalau kelamaan di Solo, badan bang Marco bakalan melar nggak six pack kayak sekarang" kekeh Arum.
"Bener Rum, bahaya nanti dimarahi Marissa kalau hilang roti sobekku" gelak Marco.
"Bang Marco kembar katanya mas Bara. Iya kah?" tanya Arum.
"Iya, aku kembar yang menikah dengan cewek kembar. Marissa punya kakak kembar namanya Josephine terus kakakku, Mario, ada kerjasama dengan AJ Corp di Tokyo ketemu dengan Jo. Eh keduanya seperti Tom and Jerry, nggak pernah akur tapi lama-lama malah jatuh cinta."
"Kalau bang Marco sama mbak Marissa?"
"Marissa sama aku tabrakan di toko pastry dan membuat wajah Marissa penuh dengan krim kue tapi menurut Abang sih dia cantik banget. Jadi Abang jatuh cinta pada pandangan pertama biarpun Marissa kaku banget orangnya. Yang konyol pas double date, Mario dan Abang datang hampir barengan terus Josephine datang, eh kita sampai berantem karena menyukai cewek yang sama tapi pas Marissa datang, kita baru tahu kalau ceweknya kembar" gelak Marco. "Kembar dapat kembar deh!"
"Pernah keliru ga bang? Antara mbak Jo sama mbak Marissa?"
"Ga mungkin bisa keliru soalnya Jo lebih suka rambut pendek, sedangkan Marissa suka rambut panjang" cengir Marco. "Waktu kita gegeran, Jo dan Marissa pas sama-sama rambut panjang."
Bara hanya diam saja memperhatikan interaksi Arum dan Marco. Dulu saat dengan Arum yang pertama, Marco tidak sampai bercerita panjang lebar karena mungkin Arum satu lebih pendiam.
"Kue putu datang!" seru Luca yang langsung memegang jarinya di kuping bawahnya karena kena panas.
"Masih panas Luca, sabar dulu" tegur Marissa.
"Luca nggak sabar ma" ucap bocah tampan itu.
"Eh ini sudah Tante ambilkan yang agak dingin. Luca bisa makan kok" Arum mengambilkan putu yang paling bawah dan sudah ditiupnya.
__ADS_1
"Thank you Tante Gendhis" senyum Luca.
"Sama-sama ganteng" ucap Arum.
"Rum, kamu tuh gimana ceritanya bisa receh begini?" tanya Levi sambil menikmati kue putu.
"Well, pada jaman dahulu kala, alkisah ada seorang eyang putri bernama Sri Pradipta yang harus memomong cucunya yang cantik ini karena kedua orang tua si cucu keseringan pindah-pindah negara. Akibatnya si cucu harus kembali ke habitat belajar bahasa Indonesia dan Jawa setelah dalam satu kalimat tergabung berbagai macam bahasa asing."
Arum menatap semua orang.
"Bagaimana supaya nih cucu bisa mudah mempelajari bahasa Jawa dan Indonesia, jadilah eyang Sri Pradipta menjadi receh dan cara itu berhasil membuat cucunya tertular receh. Begitulah ceritanya."
Semua orang disana hanya melongo mendengar penjelasan Arum yang tampak receh.
"Jadi kamu ketularan receh dari Eyang putri?" tanya Bu Kinanti.
"Leres Bu meskipun kayaknya saya jauh lebih ancur dibandingkan eyang putri" cengir Arum.
"Gue jadi nggak yakin elu tuh dokter obgyn Rum" ucap Levi. "Dokter kok receh begini. Pasiennya kan jadi ngibrit!"
Arum hanya tersenyum melihat Levi. "Mas Levi belum tahu kalau aku ketemu pasien." Arum berdiri dan mendekati Yanti yang duduk di sebelah Levi.
Bara, Marco dan Levi melongo melihat perubahan wajah Arum. Tidak ada wajah jenaka, gesrek atau pun lainnya jika gadis itu dalam mode bekerja sebagai dokter obgyn.
"Jadi gitu semua kalau aku lagi bekerja. Meyakinkan bukan?" cengir Arum.
Levi tertawa. "Bener-bener deh kamu tuh ternyata!"
Ghani dan Alexandra hanya tersenyum simpul melihat gaya receh Arum yang membuat semua orang terhibur.
***
"Jadi kamu lulusan UNS sini?" tanya Levi setelah mereka berada di mansion Al Jordan dan berada di gazebo. Yanti, Marissa dan Luca sudah istirahat di kamar sedangkan Ghani dan Alexandra memilih menginap di rumah Danisha.
"Saya mah melokal saja lulusannya, tidak seperti kalian yang di MIT, Royal Arts atau Harvard" kekeh Arum santai.
__ADS_1
"Rum, kalau misal nih suatu saat ketemu sama mantannya Bara, kamu mau gimana? Kan secara kalian sama-sama dokter pasti ada acara seminar atau gathering yang bisa saja..."
Suara Marco terhenti ketika Arum mengangkat tangannya. "Aku tidak akan bilang apa-apa. Biar dia tahu sendiri bahwa mas Bara sudah move on."
Bara menatap Arum dengan intens. "Yakin kamu tidak akan bilang apa-apa Dis?"
"Tidak bilang apa-apa, kalau dia tanya baru aku jawab. Kalau dia lihat aku jalan bareng dengan mas Bara baru aku bilang 'Terimakasih sudah jagain jodoh aku'. Buat aku bang, tidak perlu berhandai-handai dulu karena belum tentu yang kita rencanakan akan berkata abcd tapi nanti pada saatnya malah berantakan tidak sesuai pakem kan menyebalkan." Arum menatap Marco dan Levi serius.
"Yang penting mas Bara sudah bisa move on, kencan sama aku meskipun aku begini adanya, itu sudah kemajuan daripada terjebak kenangan masa lalu. Masa lalu biarlah berlalu, jangan kau ungkit, jangan ingatkan" Arum terdiam. "Ndak itu kalimat dari lagu campursari?" tanyanya dengan wajah bingung.
Ketiga pria disana terbahak. "Itu lagu dangdut, Rum" ucap Levi sambil mengecek ponselnya.
"Oh gek ngerti aku" cengir Arum.
"Beneran yakin jalan bareng sama Bara?" tanya Marco.
"Kan aku masih ada waktu tiga Minggu dari deal dengan kak Fuji. Yakin lah!"
"Misal kamu di tengah jalan jatuh cinta beneran sama Bara gimana?" tanya Levi.
"Berarti aku sama mas Bara memang jodoh. Sejujurnya, aku belum jatuh cinta dengan mas Bara tapi aku sudah jatuh cinta dengan kalian, keluarganya. Kalian itu Sultan, lahir dengan sendok emas tapi kalian bisa humble dan itu yang membuat aku menyukai keluarga kalian" senyum Arum.
"Sejujurnya Rum, aku lebih suka dengan dirimu daripada yang dulu sebab kamu lebih apa adanya dan lagipula kamu cewek yang cocok untuk Bara yang butuh sesuatu yang membuat hidupnya bewarna soalnya setahun ini, he's a monochrome boy" senyum Levi.
"Doakan saja kami berjodoh, Vi" jawab Bara pelan.
"Semoga Ra."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Maaf agak kurang gesrek soalnya aku flu berat ( no covid ) karena kehujanan.
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️