Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Bara dan Prayogha


__ADS_3

Bara sedang melakukan panggilan zoom ke Kaia ketika sekertarisnya mengatakan ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


"Siapa Santi?" tanya Bara.


"Katanya tuan Prayogha Baskara, Sir."


"Suruh tunggu sepuluh menit, baru nanti kamu bawa masuk ke ruangan saya."


"Yes Sir."


Bara menghela nafas panjang. Apa maunya orang itu?


"Siapa mas?" tanya Kaia yang sekarang sudah berada di mansion Blair. Baru saja adik sepupunya melaporkan kalau Bima dan Hoshi berantem di ruang gym dan harus dipisah oleh Abi dan Rama.


"Ayahnya Bima. Itu gimana ceritanya mereka gelut?" kekeh Bara.


"Biasa, saling ledek malah kebablasan. Sekarang Hoshi mukanya bengep nggak mulus lagi terus dikompres sama mami, Bima sedang diopeni sama Arimbi. Ya ampun, benar-benar deh berdua itu!" keluh Kaia kesal.


"Oom Duncan, Tante Rhea sama Rhett gimana?" Bara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Calon mantu kok ya bar-bar benar sesuai dengan namanya.


"Ngakak ajah sih apalagi papi, sudah lama nggak dapat mood booster rusuh jadi bahagia deh!" kekeh Kaia. "Sudah kamu urus ayahnya Bima. Nanti aku kabari update nya."


"Thanks Kai. Tolong titip Arimbi dan Bima. Kalau perlu kamu banting saja tuh Hoshi dan Bima."


"Ogah! Yang ada aku encok mas! Biar itu urusannya Abi dan Rama" gelak Kaia. "Dah diurus dulu tuh bapaknya Bima. Kasihan anak itu punya bapak kayak gitu."


***


Prayogha duduk di depan meja mewah milik Abimanyu yang sekarang menjadi milik Bara. Wajah ayah Bima itu tampak tegang dan kesal.


"Ada yang bisa saya bantu Pak Prayogha?" tanya Bara tenang.


"Stop the crap. Apakah anda dulu hampir bersama dengan istri saya?" tanya Prayogha penasaran.


"Saya memang dulu sempat ditolong oleh Arum Banowati saat mengalami kecelakaan di Pacitan dan saat itu saya mengalami amnesia. Dua bulan bersama Arum di dusunnya disana akhirnya keluarga saya bisa menemukan saya dan hubungan kami menjadi dekat. Disaat saya datang hendak melamarnya, dia sudah menikah dengan Azzam Mustafa padahal dua hari sebelumnya kami masih saling berkirim pesan karena saya berada di Jakarta, dia masih di Pacitan."


Prayogha masih menyimak penjelasan Bara.


"Setelahnya saya mengubur nama dia dan saya dipertemukan dengan Gendhis Arum Pradipta yang kebetulan memiliki nama 'Arum' dan itu bukan berarti saya mengingat Arum yang lama. Nama sama tapi watak dan tabiat berbeda." Bara menatap Prayogha dalam. "Apa yang ingin anda ketahui?"


"Apa maksud anda dengan black widow pada istri saya?" tanya Prayogha.

__ADS_1


Bara tidak menjawab melainkan mengambil sebuah map folder yang memang sudah disiapkan olehnya jika waktu ini tiba.


"Silahkan anda baca sendiri. Dan asal Anda tahu, keluarga besar saya tidak pernah mengada-ada tentang data ini karena penyelidikan berasal dari sumber terpercaya."


Prayogha membaca semua berkas disana dan rahangnya mengeras melihat data yang diberikan Bara.


"Jadi dia meminta rumah sakit milik keluarga Mustafa untuk dipindah namanya ke dia?" tanya Prayogha geram.


"Benar dan ketika Azzam menolak, dia menceraikannya setelah mengambil separuh lebih harta Azzam bahkan Faheem putranya tidak mau mengakui ibunya kan?"


Prayogha teringat ketika dia menikahi Arum, putranya dan putra Arum sama-sama memasang tampang tidak suka ke masing-masing orang tua. Saat itu dia mengira karena mereka menikah tanpa ijin anak masing-masing.


"Azzam nyaris bangkrut, Prayogha dan untung dia kuat dan berhasil bangkit kembali."


Prayogha membaca bahwa sesudah bercerai dengan Azzam, Arum menikah dengan seorang pria bule asal Amerika yang kebetulan Bara mengenalnya. Usai hampir semua aset dipindah namanya ke Arum, pria itu diceraikan. Akibatnya pria itu kaget dan mengalami stroke.


"Astaghfirullah Al Adzim. Siapa wanita yang aku nikahi, Pak Bara?"


"Seorang wanita yang serakah dan gold digger. Anda sudah kehilangan berapa toko emas keluarga anda?" tanya Bara.


"Saya sudah menyerahkan lima dari sebelas toko saya" ucap Prayogha pelan. "Saya tidak menyangka dia mampu berbuat ini."


"Apa yang membuat anda tertarik dengan wanita itu?"


"Alasannya selalu sama, membangun rumah sakit tapi uang yang dia peroleh dia simpan di sebuah bank di Swiss. Sepupu saya, Bryan Smith bisa melacaknya. Arum Banowati adalah perempuan yang selalu ingin hidup mewah untuk dirinya sendiri. Uang dari para pria yang ditipunya, dibelikan sebuah kondominium di Caymand Island dan Singapura karena tidak ada ekstradisi dengan Indonesia."


Prayogha terbayang wajah Bima yang penuh kebencian kepadanya dan memutuskan hengkang dari rumahnya karena memilih menikah dengan Arum. Hampir lima tahun putranya tidak menginjakkan kakinya di rumahnya.


"Dimana Bima sekarang, pak Bara?"


"Setelah sekian lama anda baru menanyakan Bima diluar permintaan tanda tangan pengalihan toko emasnya?" sindir Bara sinis yang membuat Prayogha meringis.


"Saya ingin bertemu dengannya" bisik Prayogha.


"Bima sedang berada di Amerika Serikat bersama dengan orang-orang yang care dengannya. Biarkan dia bahagia, pak Prayogha. Anak itu sudah terlalu lama sakit hati kepada Anda. Semoga waktu bisa membuat hatinya melunak." Bara menangkupkan tangannya dan memandang tajam ke Prayogha. "Sekarang apa keputusan anda?"


"Saya akan menceraikan Arum secepatnya. Akan saya suruh Gavin mengurusnya."


"Jika saya menjadi anda, saya tidak akan minta Gavin mengurus perceraian anda."


Prayogha terkejut. "Kenapa?"

__ADS_1


"Karena Gavin adalah pacar gelap Arum selama ini dan dialah yang mengurus semua asetnya hasil dari marriage scam selama ini sejak dari suami keduanya."


Prayogha semakin lemas.


"Saran saya, hubungi pengacara yang kuat dan buat agar semua aset yang diambil Arum bisa kembali kepada anda. Apakah kalian ada perjanjian pra nikah?" tanya Bara.


"Ada dan bahkan surat wasiat pun sudah saya buat" bisik Prayogha.


"Let me guess. Semua untuk Arum dan tidak ada yang untuk Bima? Darah daging anda sendiri?" sindir Bara kesal. Prayogha mengangguk.


"Anda benar-benar bapak yang dzolim! Jangan salahkan Bima jika tidak mau memaafkan anda dengan jangka waktu tidak bisa ditentukan karena anda juga dzolim ke istri anda, Savita Hermawan. Seorang anak laki-laki jauh lebih membela ibunya daripada ayahnya. Anda sudah jahat dan dzolim dengan Bima, dia bisa terima tapi kenangan bagaimana anda dzolim ke ibunya, itu tidak bisa dihapuskan. Forgiven maybe, forgotten never."


Prayogha tertunduk di hadapan Bara.


***


Bima masih mendapat kompres dari Arimbi setelah tadi ditantang Hoshi untuk bertarung yang menjadi berantem beneran gara-gara diledek ilmu bela dirinya masih di bawah Arimbi. Bima tahu akan hal itu tapi bukan berarti dia tidak mengupgrade dirinya sendiri. Akibatnya keduanya gelut hingga akhirnya masing-masing dipisah oleh Abi dan Rama.


"Bonyok ih tuh muka" kekeh Arimbi.


"Demi membela harga diri ini!" cebik Bima kesal.


"Kalian kan memang dari kemarin ingin gelut" gelak Arimbi.


"Kamu jangan gitu, sayang" bisik Bima.


"Kenapa?"


"Kalau melihat leher mu mendongak gitu, ingin aku gigit!"


Arimbi mendelik. "Whoah! Bimasena, apakah kamu berubah menjadi vampir?"


"Ohya, aku Dracula dari Hotel Transylvania" cengir Bima. Keduanya pun tertawa.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Lanjut Besok


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2