
Bima melongo tidak percaya mendengar ucapan 'mas' langsung dari bibir Arimbi. Mendengarkan live itu jauh bikin gue jadi numb. Gerak Bim, ayo gerak! Kenapa elu jadi kayak kena pelotot Medusa terus jadi batu begini? Bimaaaa! Ayo gerak!
"Woooiiii !" Sebuah pukulan di punggungnya, membuat Bima menoleh. Tampak Yudha dan teman-temannya datang ke sekolah untuk mendapatkan surat pengumuman kelulusan.
"Eh...Elu Yud. Baru datang?" tanya Bima kaget.
"Elu kenapa bengong?" Yudha melihat helm pink yang khusus Bima beli buat Arimbi. "Oh pantesan bengong, habis anter si ayang beb." Yudha meyengir jahil.
"Kalau Bima kayaknya nggak bakalan manggil Arimbi ayang beb, bukan gayanya. Dia kan rada-rada old fashion sok Jawa gitu" sahut temannya.
"Biarin! Mama gue kan orang Jawa jadi wajar lah kalau dari kecil sudah biasa dididik dan didoktrin ajaran Jawa" jawab Bima judes.
"Beeeuuu,. B ajah Bim. Kok elu sewot? Apa elu lagi pms kayak cewek-cewek kalau lagi datang bulan?" kekeh Yudha tanpa dosa.
"Reseh lu pada!" sungut Bima sambil memasukkan helm milik Arimbi ke bagasi Vespanya. Bahkan harum shampoo Arimbi masih tertinggal di helmnya. Kalau tidak ingat ada Yudha dan teman-temannya, maulah dia mencium sisi dalam helm Arimbi.
Sebuah pengumuman yang mengharuskan siswa kelas tiga atau kelas XII masuk ke dalam aula sekolah, membuat Bima, Yudha dan teman-temannya berjalan bersama ke lokasi yang diumumkan.
"Duh nilai gue berapa ya? Soalnya nyokap dah ribut ajah, kalau kagak bisa lolos universitas negeri, bakalan kirim gue ke gunung buat merenungi nasib" keluh Yudha dramatis.
"Baguslah! Biar elu ketemu sama demit disana!" kekeh Bima sadis.
"Gini nih punya sahabat Durjana! Kagak ada simoati dan empatinya sama sahabatnya sendiri." Yudha menatap sebal ke Bima yang hanya nyengir.
Para siswa kelas tiga itu pun berdiri rapi sesuai dengan kelas masing-masing. Lalu para wali kelas memanggil para siswanya untuk diberikan amplop yang berisikan hasil mereka.
Bima mendapatkan amplopnya tapi dia tidak berani membukanya sendiri. Gue tunggu Arimbi sajalah! Suara teriakan Yudha yang bahagia membuat Bima menoleh.
"Alhamdulillah gue lulus! Nilai gue juga bagus! Kagak jadi kumpul sama demit di gunung!" teriaknya absurd yang membuat teman-temannya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kamu nggak buka amplopmu, Bim?" sebuah suara membuat Bima menoleh. Tampak Radit berdiri di sebelahnya.
"Aku nunggu buka sama Arimbi."
Radit tersenyum mendengar ucapan keponakannya. "Ohya, hasil ujian masuk PTS mu, kamu diterima di UKI Atmajaya dan Jayabaya di fakultas teknik mesin."
"Wah, Alhamdulillah." Bima tersenyum bahagia hasil ujian masuknya lolos semua yang dia ikuti. Tinggal nunggu hasilnya dari UI.
Suara bel tanda ujian selesai membuat Bima tersentak. Arimbi pasti sudah selesai.
"Oom...eh pak Radit, aku ke kelas Arimbi dulu ya." Bima pun berjalan keluar dari aula meninggalkan Radit dan teman-temannya.
Bima melihat Arimbi bersama dengan Rina berjalan sambil membicarakan sesuatu dan Rina membuka iPad nya seperti membahas ujian tadi. Keduanya pun duduk di kursi taman seperti biasa.
"Arimbi" panggil Bima.
"Iya kak?" Arimbi mendongakkan wajahnya dari iPad nya Rina.
Bima melengos. Kak lagi? Eh tapi mungkin manggil 'mas' kalau lagi berdua kayaknya. Dimaafkan!
"Kalian ngapain?" Bima pun mendudukkan dirinya di kursi taman depan keduanya.
__ADS_1
"Ini lho, jawaban soal yang ini antara aku dan Rina berbeda" jawab Arimbi.
"Coba lihat" Bima menengadahkan tangannya meminta iPad Rina yang diberikan ke saudaranya.
Bima pun mengambil kertas dan mulai mencoret-coret. "Ini rumusnya." Bima menerangkan soal matematika yang menjadi perdebatan Arimbi dan Rina. Kedua gadis yang bersahabat sejak SD itu memang cerdas dan kedua orang tua mereka pun bersahabat baik. Tak heran jika keduanya sering saingan dalam pelajaran di sekolah.
"Wah benar aku kan Rin" cengir Arimbi.
"Huwaaaa, aku salah satu! Nggak bisa perfect dong!" Rina berpura-pura menangis dramatis.
"Derita lu Rin" ledek Bima sarkasme.
"Saudara kejam!" balas Rina sambil melotot.
"Memang! Baru nyadar?" Bima menjulurkan lidahnya.
"Eh sudah. Apa kak Bima sudah membuka amplopnya?" tanya Arimbi melerai keributan keduanya.
"Belum, aku mau membukanya bersama kamu, Arimbi." Wajah Bima melembut ketika menatap Arimbi. "Sini duduk di sebelahku!" Bima menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Idiiihhh! Modus! Jangan mau Rimbi!" cegah Rina.
"Nggak papa Rin, kak Bima nggak berani macam-macam." Arimbi tersenyum ke arah Rina menenangkan sahabatnya.
Arimbi pun pindah duduknya ke sebelah Bima dan remaja itu segera membuka amplopnya. Bima menutup matanya dan hanya mengintip kertas yang dipegangnya.
Arimbi melongok dan menepuk bahu Bima. "Lulus kok kak" ucapnya lembut yang membuat remaja itu membuka matanya.
"Ini apaan kak?" tanyanya sambil mengangkat tangannya yang digenggam Bima.
Bima terkejut. "Eh... Maaf..." Bima segera melepaskan genggamannya.
"Tuuuhhhh kaaaann! Modus banget lu Bim!" teriak Rina kesal.
***
Bima mengajak Arimbi ke bengkelnya dan ini kali pertama dia melihat bisnis remaja itu. Arimbi melongo bagaimana besarnya bengkel milik Bima.
"Wah, hebat kakak" puji Arimbi yang mendapatkan pelototan Bima.
"Kakak lagi!" omelnya sebal.
"Lha kan emang iya tho?" sahut Arimbi cuek.
"Whatever dah Rimbiii !" Bima pun berjalan masuk ke dalam bengkelnya lalu menemui Jono. "Bang Jono!"
Pria yang dipanggil Jono itu pun menoleh ketika sedang asyik membongkar mesin mobil klasik Honda Civic lama.
"Ya bang Bima" sahut Jono sambil mengelap tangannya yang kena oli.
"Gimana bengkel hari ini?"
__ADS_1
"Alhamdulillah ramai tuh bang. Ohya, ada yang cari bang Bima."
"Siapa?"
"Ada di kantor, katanya papa bang Bima."
Bima mengerenyitkan dahinya lalu menoleh ke arah Arimbi yang masih melihat-lihat bengkelnya.
"Arimbi..." panggil Bima ke arah gadis itu.
"Pacarnya bang?" Goda Jono.
"Bukan! Calon bini gue masa depan!" sergah Bima cuek yang sukses membuat Jono melongo.
"Wah, bang. Jangan sampai lepas! Dia keren lho" bisik Jono.
"Kenapa bang Jono?"
"Pacar bang Bima bisa bela diri ya?" bisik Jono ke sisi telinga Bima sambil melihat Arimbi berjalan ke arah mereka.
"Eh?"
"Cara jalannya beda dan Abang yakin, dia punya ilmu bela diri tinggi. Biasanya cewek kalau masuk ke bengkel dengan banyak laki-laki akan takut atau rikuh, tapi pacar bang Bima tampak cuek dan pede. Sekali lihat, abang bisa tahu, dia cewek kuat."
Bima tersenyum tipis.
"Ada apa kak Bima?" tanya Arimbi setelah mendekati keduanya.
"Kenalkan ini Bang Jono, tangan kananku." Jono hanya menangkupkan tangannya.
"Senang bertemu dengan anda nona Arimbi."
"Sama-sama Bang Jono. Jangan kecewakan kak Bima ya" ucap Arimbi lembut yang membuat Jono terpana.
"Ya ampun, bang Bima. Pantas elu termehek-mehek. Elu banget tipenya" bisik Jono sambil tertawa.
"Sssttt!" Bima pun menatap Arimbi. "Temani aku bentar ya." Bima pun berjalan menuju kantornya.
"Permisi bang Jono" pamit Arimbi sambil mengangguk.
"Silahkan nona." Jono tersenyum melihat kedua remaja itu. Semoga berjodoh boss!
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Maaf telat. Ren masih direview Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️