
Arum menikmati ciuman Bara di bibirnya yang semakin lama semakin menuntut dan keduanya saling berpagutan hingga sama-sama kehabisan nafas. Bagi Arum ini bukan ciuman pertamanya karena sebelumnya dia sempat berpacaran tapi ciuman dengan Bara berdampak dashyat di jantungnya.
"Whoah! Mas Bara belajar ciuman dari mana?" goda Arum.
"Kepo!" gelak Bara. "Kamu bisa sakit hati kalau tahu."
"Asal mas Bara tahu ya, mas Bara bukan orang pertama yang ciuman sama aku" ucap Arum santai.
"Sama lah! Jadi, ga usah kepo karena itu sudah lewat. Tapi menurut mas Bara, ciuman sama kamu tuh ga bisa dijabarkan. Whoah banget!" Bara tersenyum ke Arum.
"Sama mas. Rasa bibirnya mas Bara tuh enak banget!" cengir Arum. "Ada rasa mintnya."
"Ya iyalah, mas Bara kan habis makan permen mint" gelak Bara yang membuat Arum melotot.
"Jiaahh! Nyebelin!" ucap Arum manyun.
"Tapi bibir kamu juga enak kok Dis, jadi pengen cium lagi" bisik Bara.
"Mas! Ini masih di halaman rumah sakit, bisa gegeran nanti" bisik Arum.
"Haaaiissshhhh, lupa." Bara pun manyun.
Arum terkikik.
***
Arum tiduran di kamar kostnya sambil mengingat rasa ciuman tadi bersama Bara. Ciuman pertama mereka tapi rasanya begitu wow! Arum cekikikan sendiri di kamar. Beneran deh aku jatuh cinta sama mas Bara.
Suara ponsel Arum pun berbunyi dan matanya membelalak ketika tahu siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum papa" sapa Arum.
"Wa'alaikum salam princess. Gimana? Serius sama Bara kamu?" sapa Raka Pradipta, papa Arum.
"Eh? Maksud papa?"
"Siapa tadi yang melamar kamu di ruangan Rani?" gelak Raka.
"Aaahhh mbak Rani mulut ember" cebik Arum.
"Tapi beneran kamu serius sama Bara, Ndis?"
"Serius lah papa. Mas Bara tuh kayak papa, ga basa basi langsung wuusshhh!"
"Ya sudah. Kamu bilang sama Bara, dua Minggu sebelum Sendra nikah, datang menghadap papa. Kita akan pulang sebulan di Jakarta. Papa ambil cuti besar yang tidak pernah diambil sekalian berkenalan dengan keluarga Bara."
"Papa setuju kan aku sama mas Bara?" Arum memastikan lagi agar mendapatkan restu dari papanya.
"Princess, kamu pacaran dengan putra Ghani Giandra yang merupakan detektif terkenal NYPD dan papa tahu sepak terjang keluarga mereka. Nyaris tidak ada cacat. Jadi papa ayem menyerahkan putri papa ke Bara karena didikan keluarga mereka benar-benar bagus."
__ADS_1
Arum tersenyum lebar. "Terimakasih papa!"
"Setidaknya Bara lebih baik dari mantanmu yang sekarang sudah pindah ke Bali!"
"Astaghfirullah papa masih ingat saja sama Roland. Itu masa lalu Pa. Aku sudah sama mas Bara" protes Arum. "Mas Bara orangnya nggak kayak Roland."
"Papa bersyukur kamu mendapatkan jodoh yang baik, Ndis. Bagi papa, Bara bisa bertanggung jawab sama kamu, itu utama."
"Pa, Oom Ghani dan Tante Alexandra mendidik mas Bara dan Danisha dengan baik. Aku bahkan sudah bertemu dengan beberapa sepupu mas Bara termasuk Bossnya Mas Sendra. Mereka benar-benar keluarga humble. Jujur aku jatuh cinta duluan sama keluarganya mas Bara, bukan sama mas Baranya" gelak Arum.
"Alhamdulillah kalau keluarga besar mereka bisa menerima kamu yang amburadul gesreknya" ucap Raka.
"Mereka nggak mungkin nggak terima aku Pa" balas Arum yakin.
"Kok bisa? Kenapa?"
"Karena mereka aslinya sama gesreknya sama aku!" Arum tertawa terbahak-bahak.
"Oh Astagaaaaa!" Raka hanya menepuk jidatnya.
***
Bara benar-benar tidak bisa tidur karena terbayang rasa ciuman dengan Arum di parkiran rumah sakit dan sekilas ketika mengantarkan gadis itu ke kost-kostannya.
Alamat bisa kecanduan nih gue! Duh bahaya! Kudu halalin dulu Baraaaa! Sabar, sabar!
Ponsel Bara berbunyi dan wajah pria itu langsung tersenyum lebar.
"Wa'alaikum salam mas. Mas Bara, tadi papaku telepon lalu pesan bahwa mas Bara harus ketemu sama papa dua Minggu sebelum acara nikahnya Mas Sendra dan Mbak Rani" ucap Arum.
"Baik. Mas akan menghadap Oom Raka" ucap Bara tegas.
Inilah yang membuat Arum jatuh cinta dengan Bara, pria itu tidak pernah basa basi. Apapun dihadapi oleh Bara meskipun harus menghadap papanya.
"Nanti waktu dan tempat akan diberikan papa sehari sebelumnya ya mas" balas Arum.
"Baik Dis."
Hening
"Dis, besok weekend mau kemana enaknya?"
"Boleh nggak aku seharian di rumah mas Bara?"
"Ngapain?"
"Pengen masak bareng sama Tante Alexandra sekalian belajar masak masakan kesukaan mas Bara."
Bara melongo. Permintaan sederhana tapi membuat jantungku berdebar.
__ADS_1
"Boleh. Nanti aku bilang mama kalau calon menantunya mau ke rumah belajar masak" kekeh Bara.
"Yes! Besok dijemput pakai Vespa ya, kangen aku sama Sei Giorni nya."
"Oke!"
***
Alexandra menyambut baik keinginan Arum untuk memasak di mansion Giandra.
"Ajaklah Gendhis kesini, biar ramai. Kasihan kalau di kost kan bosan" ucap Alexandra.
"Besok jemput saja pagi Ra, sekalian suruh bawa baju ganti biar seharian disini" timpal Ghani.
"Baik. Ohya pa, Oom Raka minta aku ketemu dengannya dua Minggu sebelum acaranya Sendra dan Rani."
"Oh? Ya sudah ketemuan saja sama Raka" sahut Ghani santai.
"Itu yang aku bilang juga ke Gendhis kalau aku siap ketemu dengan Oom Raka dan Tante Luna."
Ghani menepuk bahu putranya. "Bagus! Itu baru anak papa!"
***
Arum melongo ketika melihat Bara dengan cueknya menjemput dengan Vespa pink milik sang mama.
"Seinya kemana?" protes Arum yang sudah siap dengan tas ransel karena dia akan seharian di mansion Giandra.
"Disuruh gantian sama papa" gelak Bara.
"Ya Ampuuunnn! Oom Ghaniiii!" omel Arum yang langsung manyun karena outfitnya tidak cocok dengan Vespa pink milik Alexandra.
Bara hanya tertawa. "Kalau mau protes sama papa, nanti saja di rumah."
Arum pun naik ke atas Vespa girly itu sambil memeluk pinggang Bara menuju mansion Giandra setelah memasang helm pink-nya.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok ( udah 4 chapter ini )
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️