Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Bersedia Menunggu Dipanggil 'Mas'


__ADS_3

Bara dan Arum kini berada di kamar dan seperti biasa mereka mengobrol dulu sebelum tidur. Besok Ghani dan Alexandra pulang dari Solo setelah membesuk besannya, Bu Kinanti yang sempat drop.


"Aku akan menyelidiki siapa Prayogha Baskara itu besok dan kenapa bisa menikah dengan Arum Satu" ucap Bara.


"Bima dan Arimbi masih remaja, mas. Kalau pun besok mereka berjodoh, ya jangan sering-sering ada acara pertemuan dengan Arum Satu. Bima anaknya Prayogha dan Savita, bukan anak Arum Satu" sahut Arum.


"Meskipun bukan anak dia, tapi dia posisinya adalah istri Prayogha, posisinya ibu tiri dan tetap saja masih bisa ketemu kan?" Bara menoleh ke Arum.


"Boleh nggak aku berharap mereka berpisah secepatnya?" cengir Arum jahat.


"Oh my, betapa jaharanya dirimu, Nyonya Giandra" kekeh Bara. "Arimbi dan Bima masih jauh jalannya apalagi princess kita mau kuliah di Harvard sedangkan anak njelehi itu kuliah di Jakarta. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kurun waktu itu bukan?"


Arum mengangguk lalu memeluk suaminya. "Kita lihat saja nanti."


"Dah, kita tidur. Besok subuh jemput Opa dan Oma di stasiun. Lagian papa dan mama tuh kok ya milih naik kereta api tho" gumam Bara.


"Biarin saja mas, yang penting papa dan mama bahagia jalan-jalan berdua. Bukankah itu membuat sehat emosi dan pikiran, apalagi di usia sekarang ini." Arum mengelus dada Bara.


"Benar-benar menikmati masa pensiun" kekeh Bara.


"Nah tuh tahu!" kekeh Arum.


***


Bima menatap layar laptopnya dan akhirnya berhasil mendapatkan informasi siapa itu Hoshi. Ternyata cucunya pianis Eiji Reeves, putra Levi Reeves salah seorang jenius di MB Enterprise.


Hoshi selama ini lebih suka memakai nama 'Paramudya Quinn' jadi tidak ada yang mengetahui dirinya dari keluarga mana.


Idiiihhh ternyata cakep juga sepupunya Arimbi. Untung sepupu, kalau kagak kan saingan gue berat chuy! Eh kok elu jadi lembek Bim? Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Yakin mah yakin ajah chuy! Arimbi bakalan jadi bini lu!


Bima mengingat lagi pembicaraan dirinya dengan Bara dan Arum. Kenapa tadi papi dan mami mertua kayak nggak senang dengar nama si Arum Banowati? Jangan-jangan kenal... Ya Amplop Bimaaaa, mami mertua kan dokter, seumuran, pasti tahu lah! Melihat wajah mereka, pasti tahu lah siapa itu si Arum! Wadduuuuhhhh, berat nih jalan gueee! Bisa auto reject jadi menantu dong!


Rasanya Bima pengen nangis gelung kuming. Kenapa juga sih bokap kawin sama tuh kampret!


***


Pagi ini Bima sudah sampai di mansion Giandra dan betapa terkejutnya ketika yang menemuinya adalah seorang pria paruh baya yang dingin menatap dirinya. Opa Ghani Giandra. Bima memang berusaha mengingat dan mengenal siapa saja keluarga inti Arimbi.


"Assalamualaikum Opa Ghani" sapa Bima sopan.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Kamu yang namanya Bimasena?" tanya Ghani dingin yang membuat Bima sedikit merinding. Jangan kalah Bim!


"Njih Opa. Nuwun Sewu, Arimbinya wonten?" senyum Bima.


Ghani sedikit terkejut melihat remaja pria berkulit putih mirip idol Korea itu tapi mampu berbahasa Jawa sopan.


"Ada. Kamu mau mengantar Arimbi ke sekolah?"


"Njih Opa. Pareng mboten?" Bima masih memberikan senyum manisnya.


"Tanya sama papinya dulu!" Ghani pun masuk ke dalam rumah sedangkan Bima masih di teras. Ya ampun, memang beda ya mantan polisi di NYPD.. Haddeeeehhh dinginnyaaaa!


"Kak Bima? Kok jemput aku lagi?" tanya Arimbi bingung melihat Bima di teras. Hari ini Arimbi memakai kaos olahraga dengan jaket dan training karena ada pelajaran olahraga di jam pertama.


"Iya, aku mau seminggu ini antar jemput kamu sebelum pemadatan ujian nasional."


"Nak Bima sudah sarapan belum? Ini baru jam enam kurang lho. Ayo sarapan dulu sama Oma dan keluarganya Arimbi" suara Alexandra terdengar di belakang Arimbi. Bima terpana melihat Oma Alexandra yang bule dan masih tampak cantik di usianya sekarang.


Pantas cucunya cantik begini, lha wong bibit unggul.


"Eh, nggak usah Oma, nggak enak saya" tolak Bima halus.


"Njih Oma." Bima pun masuk mengekori kedua wanita beda usia di depannya. Di meja makan sudah berkumpul lengkap keluarga Giandra dan lagi-lagi Anarghya menghela nafas panjang.


"Oma, kenapa kakak njelehi ini diajak sarapan bareng sih?" protes Anarghya.


"Aga, gak boleh gitu. Nggak sopan namanya! Manggil Bima dengan sebutan sopan, bukan kakak njelehi! Ayo minta maaf!" tegur Alexandra tegas.


Bima yang sekarang duduk berdampingan dengan Arimbi tersenyum tipis. Didikannya sama dengan mama.


"Maaf mas Bima" ucap Anarghya sambil menatap Bima.


"Sama-sama dik Aga" senyum Bima. Lho, adiknya manggil gue 'mas' kok Arimbi manggil gue 'kakak'?


"Mas Ghani, Bara, kenapa muka kalian ditekuk begitu?" goda Alexandra ke suami dan putranya. "Dih, nanti tambah banyak lho ubannya." Arum dan Arimbi terkikik mendengar ucapan Oma dan mama mertuanya.


"Gampang, tinggal beli cat rambut" sahut Ghani asal.


"Mas Bara, ayo dimaem sarapannya, nggak usah Julid sama Bima" tegur Arum sambil tersenyum. Entah kenapa ini suami dan papa mertuanya Julid terus sama Bima. For God's sake, mereka masih ABG! Belum mau nikah besok! Dasar posesif sama putri dan cucu perempuan satu-satunya!

__ADS_1


Danisha adik Bara, hanya memiliki anak satu, Pandega Adhinata Giandra Yustiono yang biasa dipanggil Ega, sekarang sudah kuliah di fakultas kedokteran New York University karena beda usia dua tahun dengan Arimbi. Tak heran kalau Arimbi menjadi kesayangan Ghani, Raka dan Bara karena Gasendra, kakak Arum juga hanya memiliki satu anak laki-laki yang usianya sama dengan Arimbi, bernama Guinandra Pradipta yang sekarang tinggal di Sydney setelah sang papa dipercaya menjadi GM PRC group cabang Australia.


"Kamu mau berapa lama antar jemput Arimbi?" tanya Bara judes.


Sabar Bima. Elu masuk ke keluarga yang sangat mencintai Arimbi. "Seminggu ini Oom. Kan Minggu depan sudah masuk pemadatan ujian nasional jadi saya harus berangkat lebih pagi. Kasihan Arimbi kalau sebelum jam enam pagi sudah saya jemput, terus cengok di sekolah sedangkan saya sudah di kelas."


Bara menatap Arum yang hanya dijawab senyuman istrinya. "Ya sudah, seminggu ini ya! Habis itu, kembali ke undang-undang dasar."


"UUD 45 Oom?" tanya Bima polos.


"Undang-undang antar jemput sama Oom dan Rina, Bima" pendelik Bara. Bima hanya ber 'oh' ria yang membuat Arimbi, Arum dan Alexandra tertawa kecil. Kalau memang Bima jadi jodoh Arimbi, apa nggak setiap hari mereka darting melulu ya? - batin Arum.


***


Bima dan Arimbi sudah bersiap berangkat ke sekolah menggunakan Vespa miliknya. Saat ini Bima sedang memasangkan helm di kepala Arimbi dan perbuatannya tidak lepas dari pengawasan Ghani dan Bara dengan wajah sebal.


"Arimbi..." panggil Bima.


"Iya kak?"


"Kenapa kamu manggil aku 'kakak' bukan 'mas' seperti dik Aga?" Arimbi menatap Bima yang memang lebih tinggi darinya.


"Karena panggilan 'mas' hanya aku sematkan buat suami aku nantinya" senyum Arimbi.


"Jadi, kalau aku menikah sama kamu, kamu bakalan manggil aku 'mas' gitu?" tanya Bima.


"Haaaahhhh?"


"Aku nggak sabar menunggu dipanggil 'mas' sama kamu... Jeng Arimbi" cengir Bima dengan wajah sedikit memerah.


"HAAAAHHHH?" Kok aku dipanggil 'jeng' sih?


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2