
Bima menatap judes ke Hoshi yang dengan cueknya mengganti namanya ke Werkudara meskipun nggak salah sih karena artinya sama saja hanya saja nama Bima itu dipakai saat anak kedua dari Pandu dan Dewi Kunti kecil dan setelah dewasa baru dipanggil Werkudara.
"Hoshi! Kamu tuh sukanya selalu begitu! Nggak boleh jahil sama orang!" sebuah suara feminin. terdengar dari arah ruang tengah dan tampak seorang gadis berambut pirang kecoklatan bermata biru berdiri disana mengenakan baju hitam.
Introducing Andreana Anindita Blair O'Grady
"Jiaaaahhh, kakak durjanaku datang!" cebik Hoshi kesal.
"Mbak Reana, apa kabar?" sapa Ega yang disambut pelukan gadis bule itu.
"Kabar baik, Alhamdulillah. Rama, Rimbi sehat?" tanya Reana sambil memeluk satu persatu sepupunya.
"Sehat mbak. Lho mas Pandu kemana?" tanya Arimbi mencari suami kakaknya.
"Lho mas Pandu ikut ke London sama mami jadi mbak nginap disini lah sama Oma dan opa" kekeh Reana. "Halo, kamu pasti Bimasena ya? Sorry, bokap mu lagi ke London."
"Hah?" Bima pun loading.
"Suaminya mbak Reana namanya mas Pandu. Bima kan anaknya Pandu, cumiiii ! Joke garing gitu ajah kagak paham lu!" sarkasme Hoshi yang mendapatkan keplakan dari Rhea.
"Hiiihhh Hoshi! Oma bingung dan gemas sama kamu! Mbok gennya Opa Alex, Kak Eiji dan Levi jangan kamu borong kenapa! Heran aku, Yanti ngidam apa waktu hamil kamu!" omel Rhea gemas dengan cucu tampannya itu.
"Lha mau gimana? Garis gennya Hoshi begono. Yang penting Hoshi anak yang tahu unggah ungguh Oma" cengir Hoshi yang mendapatkan tatapan malas saudara-saudaranya.
"Mbak Reana ini saudara kembar mas Abi, profesinya desainer sudah menikah dengan mas Pandu, salah satu pegawai MB Enterprise" ucap Arimbi.
"Bima kuliah di UI?" tanya Abi.
"Iya mas. Saya ambil teknik mesin" jawab Bima setelah semuanya duduk di ruang tengah.
"Oma, aku cek anggrek-anggreknya Oma ya" pamit Rama yang memang sangat menyukai tanaman.
"Iya Ram, cek saja soalnya kemarin ada yang kena kutu itu pun kata Oom Rhett."
Rama pun pamit menuju rumah kaca di belakang yang dibangun Rhea dan Rama. Putra Arjuna itu memang berbeda dengan saudaranya yang lain, sangat menyukai tanaman bahkan halaman kastil Opa Elang dan Oma Rain ditata secara apik olehnya.
Duncan Blair menatap Bima yang duduk di sebelah Arimbi dan menilai remaja berusia 19 tahun itu yang tampak santai menghadapi keluarga gadis yang diklaim menjadi calon istrinya. Dalam hati pria yang dikenal sebagai the wise person di generasinya, salut melihat Bima yang mampu menghadapi berbagai masalah keluarganya.
"Bimasena Rahadian Hermawan" panggil Duncan dengan suara baritonnya.
"Njih Opa. Wonten nopo Kulo ditimbali lengkap ( Iya Opa. Ada apa saya dipanggil nama lengkap) ?" Bima menatap Duncan serius yang membuat Rhea dan Arimbi tertawa sedangkan sang Opa hanya tersenyum smirk.
"Beneran Rey, aku kayak deja Vu saat sama Papa Abi almarhum" kekeh Duncan. Hari ini benar-benar mood booster dirinya. "Bima serius dengan Arimbi?"
__ADS_1
"Insyaallah serius Opa soalnya dalem sampun tresno sareng jeng Arimbi ( Insyaallah serius Opa, soalnya saya sudah jatuh cinta dengan jeng Arimbi )" cengir Bima yang membuat Hoshi sampai terjatuh dari kursinya.
"Seriously Werkudara!" hardik Hoshi yang meskipun tidak terlalu fasih bahasa Jawa tapi dia paham artinya dan terkadang memakainya jika mengobrol dengan sang mama.
Abi, Reana dan Ega tertawa terbahak-bahak. "Ya Allah, Rimbi. Kamu nemu dimana sih cowok ini?" gelak Reana.
"Sanes arimbi ingkang manggihaken nanging kula ingkang manggihaken ( Bukan Arimbi yang menemukan tapi saya yang menemukan )" jawab Bima kalem yang membuat semua orang disana tertawa terbahak-bahak.
"Astoge! Arimbi, kamu Nemu dia di sanggar tari kamu ya?" hardik Hoshi yang pusing dengan bahasa Jawa.
"Ya ampun, Bima. Oma langsung suka sama kamu!" kekeh Rhea. "Jaga Arimbi ya karena karakter Bima itu orangnya jujur, penyayang dan tegas. Oma harap kamu seperti itu orangnya meskipun ayahmu kebangetan jahatnya."
"Njih Oma." Bima tersenyum manis.
Hoshi pun kembali duduk di sofanya. "Haddeeeehhh! Ampun Gusti nun Agung! Kok bisa orang macam dia pengen masuk ke keluarga kita?"
"Justru yang seperti Bima ini yang pantas masuk ke keluarga kita. Mas Abi bisa melihat kalau dia punya determinasi tinggi, ulet dan mirip dengan Pandu." Abi memeluk Reana saudara kembarnya yang dulu juga mengalami percintaan yang sulit dengan Pandu karena beda level.
"Oma, anggrek Oma ada yang sakit" lapor Rama. "Eh, ada apa ini?"
Rhea tertawa. "Yuk makan siang."
***
Bara dan Arum sekarang berada di toko perhiasan milik Bima dan Radit untuk mengambil pesanan kalung untuk hadiah ulangtahun Arimbi bulan depan.
"Pak Bara, Bu Gendhis" sapa Radit ramah.
"Pak Radit" sapa Bara.
"Mau ambil pesanan kah?" Radit tahu Arum kemarin memesan kalung custom khusus untuk putrinya yang hendak berulang tahun ke 17.
"Iya. Apakah sudah jadi?" tanya Arum.
"Saya cek nya dulu. Monggo pinarak" Radit mempersilahkan Bara dan Arum duduk di sofa tamu lalu dia ke bagian produksi.
"Mas, kata Arimbi mereka ke rumahnya Oom Duncan dan Tante Rhea" ucap Arum membaca pesan dari putrinya.
"Ada siapa di mansion?" tanya Bara.
"Ada Abi dan Reana. Ini Arimbi berlima ke mansion."
"Pasti Hoshi ribut terus sama Bima" kekeh Bara.
"Mereka memang susah akur" senyum Arum.
__ADS_1
"Tampaknya cerita soal opa Abi dan opa Edward terjadi di keduanya hanya saja bedanya Arimbi adiknua Hoshi."
"Malah mirip Oom Duncan dan Papa Ghani soal Tante Rhea ini, mas. Hanya bedanya Bima mintanya sudah besar, nggak masih dalam perut" gelak Arum.
"Cerita keluarga ku memang ada dramanya sendiri" suara Bara menghilang ketika melihat dua orang seumuran mereka masuk ke dalam toko itu.
"Dimana Radit?" bentak Prayogha kepada pegawai disana.
"Pak Radit sedang..."
"Ada apa mencariku, Prayogha?" tanya Radit dingin keluar dari dalam ruang produksi.
"Dasar ipar brengsek! Toko ini kan milik ayahku!"
"Tapi toko ini sudah diserahkan ke aku dan Bima dari mbak Savita. Pak Baskara sendiri yang menyerahkan ke mbak Savita melalui wasiatnya dan kamu tahu sendiri, toko ini tidak akan kami serahkan kepadamu!" hardik Radit kesal yang memberikan kode ke pegawainya untuk memanggil keamanan.
"Mas, sudah. Kita tuntut saja mereka." Arum ikut mengompori.
"Pak Ricky pasti menangis di alamnya melihat putrinya berubah jadi black widow seperti ini."
Prayogha dan Arum pun menoleh.
"Ba... Bara Giandra?" bisik Arum Satu.
"Halo, Arum... atau perlu aku sebutkan nyonya Prayogha Baskara? Belum puas kamu mengambil harta milik Azzam Mustafa?" sindir Bara pedas.
"Kamu..." desis Prayogha.
"Apa? Ya, saya yang membantu anak kamu lepas dari bapak dzolim seperti kamu? Kenapa? Kalau kamu mau menuntut ke Radit dan Bima untuk menyerahkan ke kamu, suruh Gavin mengirimkan surat tuntutan ke pengadilan! James dan Travis Blair yang akan menjadi pengacara Radit dan Bima. Kalian pasti tahu kan siapa mereka?" ucap Bara tajam.
Prayogha hanya terdiam sedangkan Arum satu memandang Bara yang tampak perlente dengan barang-barang mewah yang dipakainya.
"Matamu bisa dikondisikan nggak, Arum?" suara dingin Arum terdengar di telinga Arum Satu. "Kamu sudah diberi kesempatan untuk bersama mas Bara tapi kamu melepaskan dan aku bersyukur akan hal itu karena kalau tidak, Giandra Otomotif Co bisa bangkrut gara-gara keserakahan mu!"
Prayogha dan Arum memandang ke arah ketiga orang disana lalu pihak keamanan mall pun datang untuk mengusir pasangan suami istri itu.
Bara hanya menghela nafas panjang. Ya Allah!
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️