Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Kencan Dengan Sei Giorni


__ADS_3

Pagi hari Bara sudah tampak rapi dan turun untuk sarapan bersama kedua orangtuanya. Ghani dan Alexandra yang melihat putranya rapi dan wangi hanya memandang penuh tanya.


"Mau kemana kamu, Boy?" tanya Ghani yang sebenarnya tahu putranya hendak menemui Gendhis.


"Mau ke tempat Gendhis pa, mau kembalikan dompetnya yang ketinggalan. Kasihan kalau pergi-pergi Gadha dompet" ucap Bara sambil memperlihatkan dompet imut feminin berwarna pink.


"Mas Bara naik apa kesana?" tanya Alexandra sambil mengambilkan nasi goreng seafood sarapan mereka pagi ini ke piring putranya.


"Pinjam Sei Giorni papa boleh?" tanya Bara.


"Pakai saja sekalian dipanasi Ra" jawab Ghani.


"Helmnya ada dua tuh, kasih saja Gendhis yang punya mama warna pink" ujar Alexandra.


"Iya ma."


***


Arum melongo melihat Bara datang naik Vespa warna hitam. Tumben pakai Vespa.


"Assalamualaikum Gendhis" sapa Bara sambil tersenyum.


"Wa'alaikum salam. Tumben pakai Vespa mas" Arum tampak menyelidiki Vespa hitam itu. "Wuuiihhhh Sei Giorni limited edition!"


Bara ternganga. "Kok tahu?"


"Tuh ada tulisannya" jawab Arum terbahak.


"Iisshhhh kirain tahu soal Vespa" cebik Bara sambil manyun.


"Punya siapa mas?" tanya Arum mengacuhkan wajah manyun Bara.


"Punya papa ku" jawab Bara. "Dibawa dari New York kesini sama Vespa pink punya mama."


"Wah, papa mas Bara penggemar Vespa ya? Cocok sama papiku yang juga suka Vespa. Entah kenapa kok pada suka scooter begini."


"Ini dompetmu, Dis." Bara mengeluarkannya dari tas selempang Bottega Veneta hitamnya.


"Alhamdulillah ketinggalan di mobil mas Bara. Selain KTP, aku juga Eman dompetnya. Soalnya hadiah ulang tahun dari Mas Gasendra dari Jepang." Arum memeluk dompetnya.


"Mau jalan-jalan atau disini?" tawar Bara.


"Jalan-jalan lah naik Vespa! Sebentar aku ambil tasku dulu." Arum pun masuk ke dalam rumah kost yang hari itu tampak lengang.


Tak lama gadis itu keluar dengan menggunakan jaket jeans dan sepatu sneaker merah. Arum masih memakai kaos hitam ketatnya dan celana jeans sobek-sobek yang dipakainya tadi. Tas selempang Elle nya pun sudah berada di bahunya.


"Yuk berangkat" ajaknya.


"Pakai helm dulu" Bara mengeluarkan helm bewarna pink dari bagasi Vespanya.


"Wah aku salah kostum, harusnya bajuku juga pink, agar lebih menjiwai dengan penuh perasaan" kekehnya yang membuat Bara menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu mau ganti baju dulu?" tawar Bara.


"Aaahhh mas Bara, aku tuh cuma ngromyang receh kok ya ditanggapi serius tho" gelak Arum.


"Karepmu deh Dis, Gendhis" gerutu Bara yang kemudian naik diatas Vespanya.


Arum tertawa sambil naik di bangku belakang Bara.


***


Bara dan Arum sangat menikmati acara jalan-jalan berdua dengan mengendarai Vespa Seri Giorni milik Ghani. Bagi Arum, berkencan dengan Vespa jauh lebih seru dibandingkan naik mobil meskipun dia harus memegang ujung jaket Bara. Untuk memeluk pinggang pria itu, Arum belum berani.

__ADS_1


"Kamu kenapa nggak pegang pinggang aku Dis?" suara Bara terdengar di helm Arum.


"Eh? Kok ada suara mas Bara di helmku?" tanya Arum bingung.


"Helmnya memang didesain papa biar mama bisa dengar jadi nggak usah teriak-teriak kayak di hutan" jawab Bara.


"Wah, papa mas Bara keren! Emang mukanya kayak mas Bara gitu?"


"Kenapa bilang mukanya kayak aku?" tanya Bara bingung.


"Mbok menowo mirip" jawab Arum.


"Mbok menowo maksudnya gimana Dis?"


"Siapa tahu mirip gitu lho mas."


"Mirip banget sih nggak. Eh apa kamu ke rumah mas Bara saja, Dis? Biar tahu orang tua mas Bara gimana?"


"Orang tua mas Bara galak nggak sih?" tanya Arum.


"Nggak galak sih cuma jago pakai senjata sama bela diri" kekeh Bara.


"HAAAAHHHH?" jerit Arum.


"Duh kupingku! Biasa aja Dis, kan papa aku pensiunan polisi" kekeh Bara.


"Duh aku jiper ih mas" cicit Arum.


"Santai saja. Dah, yuk ke rumah mas Bara saja."


"Manut Wis" sahut Arum pasrah.


***


Arum melongo melihat mansion Giandra yang tampak elegan meskipun desain nya minimalis. Melihat dua buah mobil yang sering dipakai Bara, membuat Arum yakin memang ini rumah pria itu. Arum juga melihat ada sebuah Vespa pink di dalam garasi.


"Ayo masuk." Bara mengajak Arum masuk dan gadis itu pun mengikuti Bara.


"Assalamualaikum" sapa Bara dan Arum.


"Wa'alaikum salam" suara seorang wanita menyapa dari dalam.


Arum melihat interior rumah yang sangat elegan dan tampak foto-foto keluarga.


"Siapa ini Bara?" tanya Alexandra.


Arum terkejut. Ibu mas Bara bule? Cantik banget!


"Ini Gendhis Arum Pradipta, Ma. Dis, ini mama aku, Alexandra."


Arum pun mengulurkan tangannya. "Arum, Tante."


"Tante panggil kamu Gendhis saja ya, lebih beda gitu" pinta Alexandra.


"Monggo Tante selama masih nama saya jadi nggak usah bancaan bubur merah putih" kekeh Arum yang membuat Alexandra tertawa geli mengingat dulu Bara hampir dibuatkan bubur merah putih oleh Levi dan Aidan.


"Ayo masuk ke ruang tengah saja." Alexandra pun berjalan menuju ruang tengah diikuti Bara dan Arum.


"Papa kemana Ma?" tanya Bara mencari Ghani.


"Papa masih di kamar Ogan, biasa yasinan disana."


Arum melihat foto-foto yang ada di ruang tengah. Terdapat foto Abi dan Dara, lalu foto pernikahan Ghani dan Alexandra serta Rhea dan Duncan.

__ADS_1


"Ini adik kamu, mas?" tanya Arum melihat cewek bule yang berpose manja ke Bara.


"Iya. Memang kenapa?"


"Kalian kok beda?"


"Adil kan, mama aku bule, papa aku Jawa." Bara tersenyum.


"Ternyata mas Bara kalah cakep sama papanya" komentat Arum yang sukses membuat Bara manyun.


"Kok kamu kalau ngomong bener?" suara bariton membuat Arum membeku.


"Eh?"


Arum melihat seorang pria paruh baya yang masih tampak tampan dan cool turun dari tangga.


"Pa, ini yang namanya Gendhis Arum Pradipta" ucap Bara ke Ghani.


Ghani hanya menatap Arum yang menundukkan kepalanya dengan wajah memerah.


***


Bara dan Arum duduk di sofa ruang tengah di hadapan Ghani dan Alexandra yang tersenyum melihat gadis cablak itu jadi malu akibat mulutnya terlalu receh.


"Dis, kok diam saja?" goda Bara.


"Iisshhhh mas Bara tuh nggak tahu situasi sih!" cebik Arum manyun.


"Gendhis, nggak papa ya Oom panggil begitu. Soalnya namanya antik" kekeh Ghani. "Beneran kamu itu dokter?"


"Hah?" Arum mengangkat wajahnya. "Oom nggak percaya juga? Masa aku harus keluarin kartu sakti lagi sih?"


"Kartu sakti apa?" tanya Alexandra.


"Id card nya dia yang membuktikan bahwa dia dokter obgyn ma" jawab Bara.


"Owalaahhh" kekeh Alexandra. "Sesama dokter harus saling mendukung."


"Lho Tante juga dokter? Dokter apa Tan?" tanya Arum antusias.


"Dokternya orang mati" jawab Ghani.


"Hah?" Arum tampak berpikir. "Huwaaaa, dokter forensik? Mas Bara, jangan bilang mamamu itu dokter Alexandra Cabbot!"


"Memang dia. Kenapa?" tanya Bara bingung.


"Dokter legend di kalangan anak-anak kedokteran yang berani marahin orang di kursi saksi!"


Bara melongo.


Alexandra dan Ghani hanya saling memandang.


"Kasus Joseph Miller" ucap kedua pasutri bebarengan.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaaaa


Maaf telat, lagi ke Solo ini.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


*Kara nyusul ya*


__ADS_2