
"Astagaaaaa! Bara!" seru Alexandra tidak menyangka putranya akan seberani itu di depan publik dan keluarga calon mertuanya.
Bara melepaskan pagutannya dari bibir Arum yang wajahnya merah padam apalagi dia melihat tatapan tajam kedua kakaknya dan orangtuanya.
Raka Pradipta mengambil alih mic dari MC dan menyelamatkan wajah putrinya.
"Perkenalkan semua, ini adalah putri saya Gendhis Arum Pradipta dan kekasihnya Bara Giandra" ucap Raka sambil tersenyum. "Kita tahu kan bagaimana kalau sedang jatuh cinta."
Para tamu undangan tertawa kecil dan memaklumi apalagi pria yang berani mencium putri diplomat Raka Pradipta adalah cucu Abimanyu Giandra yang sekarang menjabat sebagai CEO Giandra Otomotif Co.
"Bara dan Gendhis insyaallah akan segera melakukan pernikahan tahun depan karena menurut aturan tata cara Jawa dan Islam, tidak patut kakak adik menikah di tahun yang sama jadi tahun depan kami akan mantu" lanjut Raka lagi.
"Yuk acara kita lanjutkan lagi. Suatu hal yang wajar kalau di lantai dansa kita sering hanyut dalam perasaan bukan" kekeh Raka sambil memeluk Luna, istrinya. "Saya pun." Raka mencium pipi istrinya yang disambut tawa para undangan.
Setelah adegan ciuman Bara berhasil diredam oleh Raka, Ghani dan Alexandra sama-sama memukul dan menjewer putra mereka.
"Kamu tuh! Bikin heboh!" desis Ghani yang hanya dijawab cengiran Bara.
"Kan biasa Pa kalau di tempat dansa begitu" kilah Bara sambil masih memeluk pinggang Arum.
"Sayang, sini tuh Jakarta, Indonesia bukan New York atau negara bebas lainnya!" pelotot Alexandra. "Kamu juga Dis, kok diam saja?"
"Habis mas Bara ciumannya enak" jawab Arum yang sejurus kemudian menutup mulutnya. Bara terbahak sedangkan kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepalanya.
"Dah habis lamaran, kalian cari tanggal baik sesuai adat Jawa biar ga bikin pusing!" gerutu Ghani.
Raka dan Luna menghampiri keempatnya sambil tersenyum.
"Pak Ghani, kalau kita-kita yang terbiasa tinggal di luar negeri memang biasa melihat seperti itu di lantai dansa tapi kita tahu sendiri di Indonesia berbeda tapi saya sih santai saja karena saya juga begitu kalau lagi dansa dengan Luna" kekeh Raka.
"Maafkan Bara ya pak Raka" ucap Ghani dengan perasaan tidak enak.
"Santai saja pak Ghani, saya tahu rasanya pria jatuh cinta bahkan kita pun sama kan pak Ghani, tidak mau jauh-jauh dari wanita yang kita cintai bukan?"
***
Rani menghampiri Arum yang sedang mengambil minum setelah sebagian besar tamu sudah pulang.
"Gila tuh Bara, dik. Berani!" komentar Rani meskipun tadi pun Gasendra juga menciumnya sesekali.
"Aku juga nggak nyangka mbak" sahut Arum dengan wajah memerah.
"He's a good kisser Yaaa?" goda Rani yang semakin terbahak melihat wajah Arum yang semakin memerah hingga ke telinganya. "Wis, Ndang lamaran Ndang halal tahun depan." Rani memeluk Arum sayang. "Bajumu bagus lho! Mama yang pilih ya?"
__ADS_1
"Tuh kan, semua orang bilang gaunku bagus. Mas Bara doang yang bilang nggak" cebik Arum.
"Lha memang Bara bilang apa?"
"Katanya punggungnya bolong kayak Suzanna" ucap Arum manyun dan Rani pun semakin terbahak.
"Astagaaaaa Bara, Bara" gelak Rani.
***
"Semoga kamu tabah ya dengan adik perempuanku, Bar" ucap Gasendra kepada Bara. Kedua pria tampan itu sudah melepaskan jas mereka dan duduk di sebuah kursi tempat keluarga.
"Aku sudah terbiasa dengan sepupu durjanaku jadi menghadapi Gendhis sudah tabah lah" kekeh Bara.
"Apakah benar keluarga kalian gesrek? Sebab selama aku bekerja di PRC group, pak Fuji, Bu Davina, pak Kris sangat serius" ucap Gasendra.
"Mereka hanya seperti itu dengan keluarga tapi soal pekerjaan dan bisnis, mereka akan serius. Bisa dibilang kita memiliki dua kepribadian yang hangat dengan keluarga dan serius di bidang pekerjaan." Bara menatap Davina yang ribut dengan Ali Khan. "Sebentar."
Bara menghampiri Davina yang hampir menangis. "Kamu kenapa Vina?" Davina langsung memeluk Bara.
"Mas, aku ikut pulang sama mas saja ya" pinta Davina.
"Vin, kamu datang sama aku, harusnya aku antar pulang sama aku juga" pinta Ali Khan.
"Aku nggak mau pulang sama kamu!" bentak Davina.
Ali Khan hanya mengacak-acak rambutnya kasar. "Titip Davina ya Ra."
"Iya Al. Hati-hati di jalan" ucap Bara masih memeluk Davina.
"Aku besok ke mansion. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Ali Khan pun keluar dari ballroom meninggalkan Davina dan Bara namun dia masih menempatkan untuk memandang gadis yang sedang terluka itu.
"Kamu nggak papa?" bisik Bara ke sepupu cantiknya. Davina menggeleng.
"Kamu kenapa?" tanya Arum menghampiri keduanya.
"Nggak papa." Arum merengkuh Davina dan memeluknya hangat. Seira pun mengusap punggung gadis bule latin itu.
"Kamu kenapa Vin?" tanya Fuji.
"Ji, jangan ditanyain dulu, biar Davina sama aku dan Gendhis" pinta Seira. Fuji pun mengangguk.
__ADS_1
"Pak Fuji, Bu Davina nggak papa?" tanya Gasendra yang melihat sendiri bagaimana eratnya hubungan keluarga antara Bara, Fuji dan Davina. Tak heran kalau Arum bilang dirinya jatuh cinta dengan keluarga Bara dulu baru Baranya.
"Tak apa Sendra. Kok pada belum pulang atau masuk kamar buat malam pertama?" goda Fuji.
"Rani masih ngobrol dengan papi dan papa. Maklum, maminya Rani sudah meninggal jadi masih ada rasa gimana harus meninggalkan papinya" senyum Gasendra.
"Ayo kita pulang, biar bisa istirahat semua." Bara menepuk Gasendra. "Ajak Rani istirahat, papamu dan papinya pasti juga lelah."
***
Davina tidur dengan ditemani oleh Alexandra karena dirinya tampak begitu berantakan seperti mengalami kejadian yang tidak mengenakkan.
"Ada apa dengan Davina, Ra?" tanya Ghani setelah mereka berganti pakaian dengan baju rumah.
"Aku tidak tahu Pa tapi Davina malam ini tidak seperti biasanya. Memang kaku tapi tidak sampai menarik diri seperti itu" gumam Bara.
"Apakah terjadi sesuatu dengan dirinya dan Ali Khan?"
"Aku tidak tahu Pa."
"Semoga bukan sesuatu yang buruk karena papa tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Javier jika ada orang yang berani menyakiti putrinya."
Bara menatap Ghani dengan cemas. Semua keluarga besarnya tahu lah siapa Javier Arata, orang paling jago berstrategi yang juga lima kali lolos hell week Navy Seals. Bahkan Bara sendiri hanya berani ikut satu kali Hell week.
"Semoga Pa."
***
Alexandra terpaksa memberikan obat penenang ke keponakannya karena sejak tadi Davina tampak gelisah. Mata coklat dokter cantik itu membulat sempurna melihat adanya kiss Mark di beberapa tubuh Davina ketika dia berusaha menggantikan bajunya.
Astaghfirullah Davina. Siapa yang melakukan ini, sayang?
Alexandra gemetar ketika baju Davina terlepas semua dan hanya mengenakan baju dalam. Kiss Mark itu terdapat di dada dan perut Davina.
Apa yang terjadi padamu Davina? Kenapa kamu tidak melawannya. Air mata Alexandra pun menetes.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Davina rencananya mau aku buat sendiri jadi ga gabung di Bara dan Arum. Ini cuma prolog tapi masih agak nanti setelah Bara dan Kara selesai.
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️