
Bima tampak menengadah melihat langit gelap kota New York yang tanpa bintang. Hatinya sangat berantakan mengingat dilema yang dihadapinya. Satu sisi dia menyykuri ayahnya yang kena batunya tapi di sisi lain dia juga tidak mau harta milik kakeknya jatuh ke wanita sosiopath itu.
Mama, Bima kangen ma. Bima harus gimana?
"Bimasena." Bima menoleh dan melihat Rhea datang menghampiri dirinya yang duduk di kursi halaman belakang mansion Blair. "Boleh Oma duduk di sebelah kamu?"
"Monggo Oma. Monggo pinarak ( duduk )" ucap Bima sambil bergeser memberikan tempat untuk Rhea.
"Kamu kenapa? Bingung ya?" tanya Rhea lembut.
"Njih Oma. Saya bingung harus bagaimana" jawab Bima.
"Bima, kita tidak pernah bisa memilih lahir di keluarga siapa tapi kita bisa memilih jalan hidup kita, ikut yang baik atau yang buruk. Ndilalahnya, kamu lahir di keluarga Baskara tapi kamu adalah didikan mama Savita. Bersyukurlah akan hal itu." Rhea menatap remaja yang beranjak dewasa itu dengan tatapan lembut.
"Apalagi kamu juga dididik oleh Oom Radit. Meskipun kamu ada gen dari papamu, tapi karena mama dan Oom Radit mu membentuk karakter mu menjadi seperti ini, nyaris tidak ada campur tangan papamu, dan jadilah Bimasena Rahadian Hermawan yang kuat, berani dan tegas. Kenapa Opa Neil memilih semua aset jika sudah diambil semua akan diatas namakan denganmu, karena Opa kenal baik dengan eyangmu."
Bima melongo. "Opa Neil kenal dengan Eyang Baskara?"
"Kenal baik malahan bahkan toko emas terbesar yang diserahkan oleh eyang Baskara ke mamamu itu juga saran dari opa Neil."
Rhea mengelus punggung Bima. "Kamu itu memiliki watak yang sesuai dengan karakter Bima di perwayangan. Papamu, tidak. Seperti pesan almarhum Necan Dara, watuk Kuwi iso diobati, nanging watak iku ora iso ( Batuk itu bisa diobati, tapi watak itu tidak bisa ) begitu juga dengan Arum Banowati. Watak dan karakter plus kepribadiannya yang bisa diobati dengan terapi terus menerus tapi Oma yakin dia tidak mau."
"Jujur Oma, aku antara pengen bilang ke Prayogha 'kapokmu tekan kapan?' tapi satu sisi, aku tahu itu dia ayah biologis aku dari hasil sumbangan kecebongnya. Sisi lain, aku bersyukur dipertemukan dengan Arimbi yang memiliki keluarga yang aku rindukan setelah mama tiada dan membantu aku menghadapi semua ini" Bima menatap Oma cantik itu.
"Kamu besok pulang dengan Travis dan apa perlu kita kasih pengawal untukmu?"
Bima menggeleng. "Nggak usah Oma. Anak buahku kebanyakan mantan preman dan aku akan minta tolong Bang Jono menjagaku."
"Oma lupa kamu ketua geng preman" kekeh Rhea.
"Oma" panggil Arimbi.
"Kenapa sayang?"
"Dipanggil Opa Duncan" jawab Arimbi.
"Well, my other half sudah mencari. Bima, ingat pesan Oma. Bersyukurlah selalu meskipun itu hal yang kecil sekalipun" senyum Rhea.
"Njih Oma. Maturnuwun acara curhatnya" senyum Bima.
"Hati-hati besok kalau di Jakarta." Rhea pun berjalan dengan anggun menuju ke dalam rumah.
Arimbi duduk di sebelah Bima. "Mas yakin nggak perlu pengawal?"
Bima menoleh ke arah gadisnya. "Hei, aku kan bossnya preman jadi punya banyak anak buah lah" gelak Bima. "Preman insyaf, Sayang."
"Kalau ada apa-apa, minta bantuan papa atau bang Travis ya" pesan Arimbi dengan wajah sedikit khawatir.
"Don't worry. Hoshi saja bisa aku kalahkan" ucap Bima jumawa.
__ADS_1
"Baru Hoshi, belum mas Abi, mas Rama, Ega" kekeh Arimbi.
"Ya Allah, Arimbi Maheswari. Masa mukaku harus bonyok lagi? Tega nian kau!" keluh Bima dramatis sambil meletakkan kepalanya di bahu Arimbi.
"Jauhkan kepalamu dari adikku!"
Bima hanya mengacuhkan suara yang sangat dihapalnya.
"Shut up Hoshi! Cari cewek sana!" sahut Bima cuek.
Hoshi hendak menarik kepala Bima ketika sebuah tangan menjewer telinga pria tampan itu.
"Kamu tuh!" bentak suara Yanti, sang mama. "Mau kamu mama hukum semua kartu dan tabungan kamu dibekukan? Dan mama minta semua saudaramu tidak ada yang memberikan uang saku ke kamu!"
Hoshi langsung manyun. Bahaya ini! Kagak bisa jajan dong gue!
***
Travis dan Bima sampai di Jakarta setelah pesawat pribadi milik Blair family mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Seorang sopir menjemput keduanya dan bergegas meluncur ke bengkel Bima.
Semalam Bima sudah mengobrol dengan Radit dan Jono tentang perlindungan untuk dirinya selama proses perceraian Prayogha dan Arum masih berjalan.
"Apa kamu yakin tidak butuh pengawal Bim?" tanya Travis sambil menatap MacBook nya.
"Bang, para pegawai bengkelku itu mantan preman bahkan bang Jono adalah ketua geng preman yang aku kalahkan saat aku mulai membuka usaha bengkel" kekeh Bima.
"Oke tapi Abang minta kamu hati-hati ya Bim" pesan Travis.
***
Travis kagum melihat usaha bengkel milik Bima yang cukup ramai dan besar. Dirinya respek dengan Bima yang berani kabur di usia masih belia dan membuka usaha sendiri hanya dengan modal nekad dan ulet.
"Hebat kamu Bim. Bisa membangun bengkel sebesar ini" puji Travis.
"Alhamdulillah bang. Setidaknya mama bisa bangga sama aku bang. Berkat warisan mama, aku bisa membangun bengkel impianku" senyum Bima.
"Bang Bima" sapa Jono. "Siapa ini bang?"
"Perkenalkan ini bang Travis Blair, dia pengacara aku." Bima memperkenalkan Travis. "Ini bang Jono, tangan kananku."
"Tolong jaga Bima, ya bang Jono" pinta Travis.
"Of course bang. Bima itu sudah seperti adik saya sendiri."
"Kamu disini sendirian Bim?" Travis melihat ruangan yang terpisah dari bengkel yang dibuat sebagai kantor dan kamar tidurnya..
"Aku biasanya ada beberapa anak buah yang tidur disini bang" Bima memencet tombol di pintu penghubung. "Yuk masuk ke rumahku."
__ADS_1
Travis melongo. Bukannya di sebelah itu kantor dan kamar tidurnya? Travis mengikuti Bima dan terlihat desain rumah minimalis yang keren.
"Wow, Bima. Apa Arimbi pernah masuk sini?" tanya Travis.
"Belum pernah. Oom Radit dan Bang Jono saja yang sudah pernah masuk sini dan sekarang Abang." Bima meletakkan tas nya dan mulai mengambilkan dua botol air mineral dingin dari kulkasnya untuknya dan Travis.
"Aku suka penataan interior mu, Bim" ucap Travis sambil menerima botol minum itu.
"Thanks Bang."
Ponsel Travis berbunyi dan nampak Dad James dilayar ponselnya.
"Halo, Dad."
"Kamu lagi sama Bima nggak boy?" tanya James.
"Ini masih di bengkel Bima, kami mau makan siang dulu disini" jawab Travis yang mendapatkan pelototan Bima. Belum ada rencana, kampret!
"Ajak Bima ke kantor Dad. Ada yang ingin Dad dan Opa bicarakan ke anak itu."
Travis memandang Bima dengan serius. "Nanti akan aku ajak ke kantor Dad dan Opa."
"Sekalian makan siang disini" sahut James.
"Oke Dad."
Travis mematikan ponselnya. "Kita harus pergi sekarang ke kantor Dad."
"Ada apa?" tanya Bima bingung.
"Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan."
"Okelah. Yuk berangkat."
***
Bonus babang Bima
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Sorry telat
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️