Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Gue Bakal Buktikan!


__ADS_3

Bima menatap pria tampan yang seumuran dengannya ( lebih muda setahun darinya sih sebenarnya ) dengan tatapan tajam.


"Apa maksud Lu dengan B saja?" sergah Bima kesal.


"Iya lah! B saja menurutku, tidak cocok dengan Arimbi. Siapa nama lu? Bimasena? Setahu gue, Bima itu badannya besar tapi elu? Kena angin terbang!" gelak Hoshi tanpa beban.


"Brengsek! Ke Jakarta kalau berani!" tantang Bima.


"Ngapain gue ke Jakarta? Berantem sama elu? Wong elu adu sama Rina saja pasti kalahnya! Apalagi sama gue? Terus elu ngaku-ngaku kalau bakalan nikah sama Rimbi? Mimpi lu ketinggian!" ledek Hoshi semakin menjadi.


"Dasar muka cewek! Itu mulut Julid banget!" sarkasme Bima.


"Muka gue setidaknya lebih keren dari muka lu!" balas Hoshi.


"Hoshi, body shamming!" tegur Arimbi dengan lembut tapi terdengar tegas.


"Dan rasis! Bisa-bisanya elu bilang gue Arab nyebelin!" timpal Rina.


"Gue kagak rasis sama elu Rin. Kan benar kamu masih ada turunan Arab. Benar kan?" Rina memutar matanya malas.


"Heh Bima. Kalau elu misalnya memang jodoh ma adik gue, apa anaknya mau dikasih nama Gatotkaca? Secara di Mahabarata kan emang begitu. Duh kasihan anak elu tar" kekeh Hoshi semakin sadis menggoda Bima.


"Dasar kampret! Banci lu! Beraninya di video call doang! Pulang ke Jakarta!" hardik Bima.


"Rimbi, gue punya teman cowok banyak disini. Elu bisa juga sama teman-temannya Abi atau minta sama Jendra atau Rama. Jangan terpancang sama si Werkudara! Kamu masih 15 tahun dan masih banyak yang belum kamu capai."


Sebentar. Abi? Jendra? Rama? Siapa lagi mereka? Sepupunya Arimbi lagi kah?


"Sudah, sudah nggak usah berantem. Bye Hoshi, salam buat Oom Levi dan Tante Yanti. Assalamualaikum."


"Nanti aku sampaikan ke bokap nyokap. Rimbi, stay away from him ya. Wa'alaikum salam."


Arimbi mematikan ponselnya lalu menoleh ke arah Bima yang masih mode kesal. "Maafkan Hoshi ya. Dia memang mulutnya pedas."


"Njelehi, lambe turah, minta diulek pakai muntu!" tambah Rina. "Lu yang sabar ya Bim. Sodaranya Arimbi yang nyebelin cuma dia kok, lainnya baik-baik semua."


Bima hanya manyun. Enak saja bilang gue B aja! Gue buktiin bahwa gue pantas jadi bagian keluarga besar Arimbi!


***


Setelah bertemu dengan Hoshi, Bima seperti orang kesetanan. Dia benar-benar fokus untuk belajar dan bekerja di bengkel supaya bisa banyak mendapatkan pelanggan lagi meskipun sudah banyak pelanggan tetap tapi Bima ingin lebih dari sekarang.


Setelah ujian nasional, Bima semakin tenggelam dengan belajar untuk spmb dan bengkel dia serahkan kepada Jono sementara waktu dia konsentrasi ujian masuk perguruan tinggi.


Bima memutuskan untuk tidak bertemu dengan Arimbi dulu karena bisa mengganggu konsentrasinya. Dia hanya mengirimkan pesan setiap hari yang mengabarkan sedang belajar.


Malam ini Bima merasa jenuh lalu dirinya mengambil ponselnya. Dia tahu Arimbi juga sedang ujian semester genap tapi rasanya ingin mendengar suara gadisnya.


"Assalamualaikum" sapa Arimbi lembut seperti biasanya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Arimbi?"


"Iya kak Bima?"


"Kamu lagi ngapain?"


"Istirahat. Capek belajar."


"Aku... aku gugup pengumuman besok" ucap Bima. Besok memang pengumuman lulus atau tidaknya ujian nasional plus nilainya. Meskipun Bima jarang masuk sekolah, tapi dia tetap belajar online dari rumah merangkap bengkelnya. Dia mulai masuk karena hendak ujian nasional saja.


"Kak Bima kan tetap masuk sekolah kan meskipun online?"


"Iyalah! Kalau nggak, Oom Ra...eh pak Radit bisa ngeroweng! Apalagi dia satu-satunya keluarga yang care denganku semenjak mama meninggal."


"Nilai-nilai kak Bima gimana?"


"Almost perfect!"


"So, nggak ada yang dikhawatirkan kan?"


"Arimbi..."


"Iya kak."


"Apa kamu ada perasaan sayang sama aku gitu, seperti aku sayang sama kamu bahkan mungkin aku sudah bucin sama kamu."


"Hop! Cukup sampai situ saja aku sudah seneng!" potong Bima.


"Eh, ini belum selesai ngomong, kak Bima" protes Arimbi.


"Cukup sampai di kalimat 'aku suka kakak' malah lebih bikin klepek-klepek lagi kalau kamu bilangnya 'aku suka mas' ... Rasanya seperti terbang ke langit tujuh" gombal Bima.


Arimbi hanya terdiam. Ya ampun bocah satu ini.


"Arimbi? Rimbi? Halo?" Bima melihat layar ponselnya. Masih tersambung. Apa dia marah ya? Wadduuuuhhhh, bahaya kalau dia marah! Gue bisa dihajar iniii!


"Iya kak." Bima menghela nafas lega.


"Kamu marah sama aku kah? Karena ucapan aku?" tanya Bima hati-hati.


"Nggak kak, aku nggak bisa marah sama kakak soalnya kakak kan hanya bilang apa adanya. Biarpun kakak rada ngegombal, tapi aku bisa merasakan kakak jujur sama aku."


Bima terpana. Fix! Sampai kapanpun gue ga bakalan lepasin nih cewek meskipun nantinya dia kuliah di Harvard, kudu gue ikat dulu! Eh? Ikat pakai apaan ? Tali rafia? Masa cincin? Sabar Bim, sabaaarrr!


"Aku selalu berusaha untuk jujur sama kamu, Rimbi. Haaaahhhh, kapan kita cepat dewasa yaaaa. Nggak sabar aku membawa seserahan buat melamar kamu." Bima tiduran sambil menatap langit-langit kamarnya.


Arimbi tidak menjawab namun pipinya merona. Ya Allah, aku masih 15 tahun tapi sudah ada anak usia 17 tahun mikir sampai soal lamar melamar.


Arimbi jadi teringat cerita cinta Opa Duncan dan Oma Rhea yang diceritakan oleh keduanya bahwa Opa Duncan sudah mengklaim Oma Rhea dari sebelum lahir. Menurut Arimbi, itu cerita paling romantis yang dia peroleh. Apalagi Opa Duncan sabar menunggu Oma Rhea sampai dewasa baru menikah.

__ADS_1


Dan sekarang aku mengalaminya sendiri dan rasanya ... very romantic. Tapi aku harus meyakinkan diriku dulu apakah Bimasena Rahadian Baskara pantas masuk di keluarga besar ku yang lumayan rewel.


"Arimbi..."


"Ya kak?" suara Bima membuyarkan semua lamunan Arimbi.


"Besok aku jemput ya. Kita berangkat sekolah bareng. Aku kangen, tahu nggak."


Arimbi tertawa kecil. "Iya kak. Besok Arimbi tunggu."


Bima melongo. Kuping gue nggak salah denger kan? Besok Arimbi nunggu dia? Woohooo! Bimaaaa, besok lu bisa lihat cewek lu!


"Besok kakak jemput seperti biasanya ya. Biar bisa ikut sarapan sama kalian. Kan kalau ada Oma Alexandra, Oom Bara sama Opa Ghani nggak berkutik" kekeh Bima durjana.


"Ih ketawanya kok nyebelin gitu sih?" protes Arimbi.


"Nggak bagus ya?"


"Nggak."


"Durjana ya?"


"Iya."


"Kamu kok gemesin sih Arimbi."


"Haaaahhhh?"


"Fix! Kamu hanya untuk aku, Arimbi!" putus Bima tegas.


"Kak Bima, aku mau istirahat. Sudah jam setengah sebelas ini."


Bima melirik ke arah jam dindingnya. Buseeettt! Lama juga gue telpon Arimbi.


"Iya deh. Selamat istirahat ya Arimbiku. Mimpi indah, mimpi aku ya" cengir Bima gombal meski ta urung pipinya memerah juga.


"Iya ... mas."


Bima terjatuh dari tempat tidur.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2