
Bara menatap gadis cantik di hadapannya dan tampak dia termasuk gadis yang cuek apa adanya. Bara gatal melihat noda kecap yang ada di sudut bibir Arum.
"Eh, itu" Bara menunjukkan sudut bibirnya ke arah Arum.
"Apa mas?" tanya Arum bingung.
"Ada kecap di ujung bibir kamu" jawab Bara masih dengan nada dingin.
Arum melongo. "Aattaaahh, ya ampun! Arum Arum, makan kok ya amburadul tho!" omelnya kepada diri sendiri lalu mengambil cermin dari tas nya dan membersihkan sudut bibirnya dengan tissue.
"Maaf ya mas. Aku kelaparan benar!" senyumnya yang menunjukkan lesung pipi.
Manis. Bara menggelengkan kepalanya. Stop! Cuma sama nama, Ra!
"Mas Bara habis dari mana?" tanya Arum yang makan lagi dengan santai.
"Kenapa nanya?" Bara menatap Arum itu dingin.
"Ya biar ada percakapan gitu. Masa satu meja kayak orang jotakan" kekeh Arum.
"Kamu bukan orang Jakarta ya?" tanya Bara.
"Bukan, aku asli Solo tapi aku terdampar di ibukota yang lebih kejam dari ibu tirinya Cinderella dan bawang putih. Mungkin lebih mirip si Sirik nya Juwita majalah Bobo." Arum meminum es soda lemonnya.
"Majalah Bobo?" beo Bara.
"Hu um. Aku dulu dapat dari Oom ku yang bundel majalah Bobo jadi tahu lah tokoh-tokoh ikonik macam Bona dan Rongrong, Paman Kikuk, Bibi Titi Teliti, Bobo Coreng Upik. Eh kok aku nyerocos terus ya" gelak Arum tanpa dosa.
Benar-benar berbeda dari Arum Banowati.
"Mas Bara nama lengkapnya siapa?" tanya Arum.
"Kenapa nanya-nanya?" sahut Bara judes.
"Duh Ya Allah, jangan judes-judes mas. Sambalnya tadi level berapa sih?" kekeh Arum santai seolah tidak terpengaruh dengan sikap Bara.
"Level 100!" jawab Bara asal.
"Ah masa? Bangkrut dong rumah makannya uleg cabe setan, cabe rawit banyak banyak" gelak Arum. "Namaku Ghendis Arum Pradipta. Lebih suka dipanggil Arum soalnya kalau di Solo suka dipelesetkan 'mbak, tumbas Gendhis'. Memangnya aku gula Jawa?" celoteh Arum yang membuat Bara menaikkan sudut bibirnya.
__ADS_1
"Mas Bara, kalau mau ketawa, ketawa saja sebelum ketawa itu dilarang plus didenda. Nyesek tahu!" goda Arum.
"Kamu umur berapa sih?" tanya Bara yang takjub melihat cewek receh di depannya yang bisa dijadikan satu server dengan Levi, Arjuna dan Arya.
"Eh nggak sopan nanyain umur sama cewek, pamali. Itu sama saja dengan nanya 'Kamu beratnya berapa sih, kok dari jauh sudah kelihatan jumbo'." Arum tersenyum manis. "Tapi kalau sama mas Bara yang sudah berbaik hati memberikan kursi padaku, aku kasih tahu. Aku umur 27 tahun, jomblowati akut, dan seorang dokter kandungan."
Bara melongo. Dokter lagi? Dokter kandungan receh begini?
"Tuh kan, nggak percaya kalau aku dokter obgyn. Papa mamaku saja nggak percaya" gelak Arum.
Bara masih menatap Arum tanpa ekspresi.
"Eh serius aku mas Bara. Kalau nggak percaya, sebentar" Arum mengambil sebuah id card yang menunjukkan dirinya bekerja di rumah sakit ibu dan anak dekat dengan kantor Bara.
"Percaya kan mas Bara sekarang?" kerling Arum.
"Iya deh percaya" jawab Bara datar.
"Mas Bara mau ke daerah mana rumahnya?" tanya Arum lagi.
"Kenapa?"
"Kamu apa nggak takut kalau kamu diculik sama aku?" tanya Bara.
"Mas Bara bukan potongan penculik ah" kekeh Arum.
"Kok kamu bisa nyasar kesini?"
"Aku tadi tuh hanya pengen jalan-jalan naik MRT sama trans Jakarta eh malah nyasar sampai sini. Belum terlalu hapal Jakarta soalnya. Aku cuma hapal Jakarta Barat sama Selatan, Utara sama Timur wassalam deh" cengir Arum.
Benar-benar berbeda dengan Arum ku dulu.
"Boleh ya mas Bara?" wajah cantik itu memasang tampang memohon sambil mengerjapkan matanya.
"Apa benar kamu usianya 27 tahun?" selidik Bara.
"Perlu aku keluarkan KTP?" balas Arum.
"Potonganmu nggak kelihatan usia segitu. Bahkan adikku yang lebih muda dari kamu saja sikapnya lebih dewasa" ledek Bara.
"Wah, berarti aku awet muda dong! Alhamdulillah. Masih kelihatan anak SMA nggak?" kelakar Arum.
__ADS_1
Bara hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah makannya?" tanya Bara.
"Sudah. Eh tapi gimana mas? Aku boleh ikut? Sampai rumah sakit tempat aku kerja saja soalnya aku kost dekat situ. Mas Bara rumahnya dimana? Jakarta Barat juga nggak? Kalau nggak, ya udah aku nanti nebeng sampai halte bis Trans saja" cerocos Arum.
Bara hanya berjalan menuju kasir dan membayar makanan dirinya dan milik Arum.
"Lho dibayarin? Alhamdulillah. Nanti aku urun duit bensin deh" cengirnya.
"Jadi mau nebeng?" tanya Bara.
"Jadilah!" Gadis itu lalu berjalan di sebelah Bara.
Mungil. Bara menilai tinggi gadis ini hanya 165 cm dibanding tingginya yang 185 cm.
"Ini mobilnya mas Bara?" tanya Arum di depan Rubicon hitam.
"Kenapa?" tanya Bara yang memencet tombol kunci.
"Pas, cocok dengan Mas Bara. Cowok banget!" komentar Arum sambil naik ke dalam mobil lalu memasang seatbeltnya.
"Aku antar sampai kost-kostan mu nanti" ucap Bara.
"Bener nggak papa?" tanya Arum sambil menoleh ke arah pria tampan itu.
"Bener."
"Oke berangkat. Bismillahirrahmanirrahim" doa Arum yang mendapat lirikan dari Bara.
Manis.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Semoga nggak pending lagi
Thank you for reading and support author
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1