
Arimbi mencubit lengan Bima yang dengan cueknya berteriak seperti itu. Bima pun langsung menutup mulutnya dan menatap Bara, Ghani dan Raka lalu nyengir.
"Sorry Papi, Opa Ghani, Opa Raka, Opa Duncan, Papa" ucapnya dengan tampang tidak bersalah. Prayogha hanya menutup wajahnya sedangkan Duncan hanya tersenyum simpul, teringat saat dulu hendak menikah dengan Rhea.
"Rimbi, sekarang Bima jadi tanggung jawab kamu! Bikin dia nggak slengean!" ucap Bara kesal.
"Njih papi, Rimbi akan berusaha" senyum Arimbi.
"Mas Bima, Mbak Arimbi, ayo acara tukar cincin dulu sama mbak Arimbi Salim ke mas Bima" ucap pak penghulu. "Acaranya belum selesai. Nanti kalau sudah selesai, boleh deh dilanjutkan acara debatnya dengan Pak Bara dan Pak Ghani."
"Dih pak penghulu kok bener sih?" kekeh Bima yang membuat Ghani memutar matanya malas.
Bima dan Arimbi lalu saling menukar cincin di jari manis tangan kanan ke tangan kiri. Lalu keduanya melakukan acara sungkem yang merupakan kesempatan Bara memukul bahu Bima keras.
"Jaga Rimbi, jangan bikin darting baik ke Rimbi atau ke kami!" bisik Bara sambil memukul punggung Bima saat memeluknya.
"Tapi Papi, bukannya bikin darting papi dan Opa bikin awet muda?" cengir Bima.
"Haddeeeehhh!"
Setelahnya kedua pengantin itu mendatangi para Opa dan Oma yang memberikan selamat serta para sepupu-sepupunya.
"Maaf Tante Gendhis, Tante Rani. Bisa minta tolong?" bisik Pandu ke Arum dan Rani.
"Kenapa Pandu?" tanya Arum dan Rani.
"Reana muntah-muntah dari tadi pagi. Apa dia hamil ya? Soalnya saya minta test pack tidak mau."
Arum dan Rani lalu mengajak Pandu membawa Reana ke kamar tamu yang berada di lantai satu. Arum segera mengambil tas dokternya dari kamar tidurnya.
"Reana kenapa itu Kai?" tanya Rhea bingung.
"Katanya nggak enak badan. Semoga saja dia hamil ya mami, sudah nunggu empat tahun soalnya" ucap Kaia.
"Aamiin" jawab Rhea dan Duncan.
Hoshi dan Ega mendatangi Bima dan Arimbi yang sedang mengobrol dengan Rajendra dan Aruna yang sedang membawa putri mereka, Nadira McCloud.
"Kalian nanti bakalan gue bikin gagal unboxing" seringai Hoshi.
"Jangan khawatir Hoshi. Nggak ada acara unboxing malam ini" kekeh Arimbi.
Bima langsung mendelik. "Jangan bilang..."
Arimbi hanya tersenyum kikuk. "Sorry..."
Jendra, Aruna, Hoshi dan Ega tertawa terbahak-bahak. "Bagooosss!" Keempatnya lalu berjalan meninggalkan kedua pengantin yang sedang saling menatap dengan ekspresi berbeda, judes dan nyengir.
Brengseeeekkkk!
"Hari ke berapa jeng?" bisik Bima.
"Hari ketiga" bisik Arimbi.
"Biasanya berapa hari?" tanya Bima lagi.
"Seminggu."
Bima tersenyum. Nggak papa pending unboxingnya sekarang, kan Arimbi dah di rumah aku terus pasukan Durjana dah pada pulang. Amaaannn!
***
__ADS_1
Arum dan Rani memandang Pandu dan Reana dengan wajah tersenyum.
"Selamat ya Pandu dan Reana, akhirnya setelah sekian tahun" ucap Arum.
"Rea hamil Tante?" tanya Reana.
"Iya. Kemungkinan besar kembar deh Re, soalnya Tante dengar ada dua suara jantung tapi lebih mantapnya, besok diperiksa saja ke rumah sakit" sahut Rani.
"Alhamdulillah" Pandu dan Reana saling memeluk satu sama lain.
"Kandungannya Re aman kan Tante? Soalnya lusa kan kita kembali ke New York" tanya Pandu dengan wajah cemas.
"Kalau besok hasil USG baik, tidak ada masalah kalian terbang ke New York. Tante rasa kandungannya Reana kuat kok." Arum mengusap bahu keponakannya.
"Kita ketambahan cucu lagi, Ndis" kekeh Rani.
***
Kabar Reana mengandung membuat keluarga besar bersyukur, apalagi Abi saudara kembarnya. Abi sendiri sudah menikah dengan Gandari, seorang pemilik galeri seni di New York dua tahun lalu dan memiliki seorang putra berusia setahun bernama Bayu O'Grady.
Elang dan Rain hanya tertawa kecil mendengar Reana hamil dan meledek Raymond Ruiz dan Valora Arata. "Kok aku jadi keingat kalian ya. Saat aku dan Elang menikah, kamu pingsan yang bikin heboh Tante Vivienne" kekeh Rain.
"Apa tradisi ya di keluarga kita. Pasti ada yang hamil di acara pernikahan" gumam Valora sambil tersenyum.
"Kita semakin tua Rain" bisik Elang yang menatap Rajendra asyik menggendong putrinya, Dira.
"Kok makin kesini, Rajendra makin mirip Arjuna, Rama makin mirip kamu ya sayang?" tanya Rain. "Bahkan kalian itu seperti pinang dibelah dua."
"Gen aku bagus kan?" kekeh Elang.
"Tapi kan Rajendra dari Lily, sedangkan Rama dari Sekar. Kok bisa ya?" gumam Rain.
"Berarti tidak usah tes DNA, Rain. Ketahuan anak dan cucu siapa" gelak Raymond.
"Tapi kalau memang saatnya kita pulang, semoga kita pulang dalam keadaan Husnul khatimah" sahut Valora.
"Aamiin."
***
Hoshi melihat Rina tampak kesulitan berjalan karena gaunnya yang memang panjang dan ribet.
"Eh cewek Arab, duduk manis. Kamu dah kerepotan gitu jalannya!" ledek Hoshi.
"Enak saja duduk manis. Gue mau makan enak!" balas Rina.
"Kamu minta apa, aku ambilkan" jawab Hoshi yang membuat Rina melongo. Nih si mulut cabe kesambit apaan kok jadi kalem begini?
"Serius lu?" Rina memincingkan matanya.
"Serius. Gue sepet lihat elu kayak dress malfunction begitu. Dah elu duduk manis, minta apa, gue ambilin! Mumpung gue lagi baik nih!" Hoshi menatap tajam ke Rina.
Gadis itu meminta makanan yang diinginkannya dan Hoshi mengambilkannya. Keduanya makan bersama sampai Ega dan Rama ikut menyusul bareng Joey Bianchi dan Luca Bianchi.
***
Malam harinya para keluarga Sultan itu sudah berada di ballroom hotel Mulia dan yang membuat Bima geleng geleng kepala, keluarga Arimbi sendiri boleh dibilang hampir 100 orang termasuk sampai ke cucu dan cicit.
Meski begitu, Bima bersyukur dengan anggota keluarga sebanyak itu, semuanya saling guyub dan akur. Bima sudah masuk ke dalam ballroom mengenakan tuxedo dan sempat memangkas rambutnya sedikit lebih pendek dari acara ijab.
__ADS_1
Dirinya menunggu istrinya dengan sabar. Kata Rina, Arimbi memakai baju yang berbeda dibandingkan saat ijab.
"Sama yang dipakai ijab, bagus mana Rin?" tanya Bima penasaran.
"Bagus lagi kalau Arimbi polosan" gelak Rina dengan muka jahil.
"Astaghfirullah! Otakmu ketularan rusuh nya Hoshi dan Ega" sungut Bima ke sepupu jauhnya.
"Bima!" panggil seseorang. Bima tersenyum lebar melihat pria yang datang menghampirinya.
"Yudha! Akhirnya elu datang juga bro!" Bima langsung memeluk pria tampan yang baru datang itu.
"Alhamdulillah bisa pas waktunya. Elu tahu sendiri kan kerja di perminyakan bikin susah cuti" kekeh Yudha sahabat Bima waktu SMA. "Lho Rina? Kok elu jadi cantik?" godanya.
"Ya iyalah! Kan gue sudah cantik dari dulu! Elunya saja yang kagak ngeh" kekeh Rina.
"Eh itu Arimbi? Masyaallah! Bim, doa lu terkabul juga ya akhirnya bisa sama gadis idamanmu."
"Alhamdulillah." Bima tersenyum melihat istrinya datang. Ayune jeng Arimbiku.
Yudha melirik ke arah Rina. Sejak kapan dia jadi cantik begini? Masih jomblo nggak ya?
Hoshi yang bertugas sebagai best man Bima menatap pria yang sedang mencuri-curi pandang ke Rina. Kok gue pengen colok matanya tuh cowok ya?
"Yuk jalan ke pelaminan!" suara Hoshi terdengar judes yang membuat Rina menoleh.
"Siapa yang ke pelaminan? Gue sama elu?" tanya Rina.
"Ya kali!" jawab Hoshi asal. "Bima sama Arimbi, cewek Arab, bukan gue sama elu!"
"Ih, dasar mulut cabe setan!" cebik Rina kesal.
"Lagian elu juga ngomong ambigu, muka cewek!" kekeh Bima geli.
"Dianya aja yang kagak ngeh Werkudara!" balas Hoshi.
"Mas, B aja, kagak usah ngegas" lerai Yudha.
"Siape lu?" selidik Hoshi.
"Gue Yudha, sobatnya Bima." Yudha mengulurkan tangannya dan disambut Hoshi dingin.
"Udah yuk, tuh papi dan Opa dua-duanya sudah bete mukanya" senyum Arimbi.
Siapa sih cowok songong satu ini? - batin Yudha.
Sok kecakepan! Gue tendang ke Timbuktu, nyahok lu! - batin Hoshi.
Kayaknya ada yang panas nih! - seringai Bima.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Maaf tadi listrik seharian mokat n hp lupa di charge jadi irit dulu.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️