Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Satu Server


__ADS_3

Bara pagi ini kedatangan Ali Khan yang tampak kusut meskipun tidak mengurangi ketampanannya khas orang India. Pria pengusaha kain berkualitas tinggi khusus interior mobil dan motor mewah serta kain sari itu hanya duduk manis di sofa ruangan Bara sambil melamun.


"Are you okay Al?" tanya Bara tanpa mengalihkan pekerjaannya di depan iMac miliknya.


"To be honest? No" jawabnya pelan.


"Kalau kamu butuh menenangkan diri, kamu boleh disini seharian tapi jangan lupakan pekerjaan mu. Banyak orang yang tergantung pada kita meskipun terkadang kita ingin egois" senyum Bara.


"Aku sudah koordinasi dengan Naseer, adik sepupuku yang juga bekerja denganku. Khan fabrics company kan sama dengan keluargamu, Ra. Family company." Ali Khan mengambil sebungkus rokok. "May I?"


"Silahkan. Ada asbak di depanmu fungsinya untuk apa?" kekeh Bara.


"Kukira ini hiasan meja" cengir Ali Khan sambil menyalakan rokoknya dengan pemantik Zippo nya.


"Davina?" selidik Bara.


"Who else?" sahut Ali sembari menghembuskan asap rokoknya.


"Allah itu terkadang memberikan jalan dengan caraNya sendiri, Al. Aku yang dulu menganggap gadis yang menyelamatkan aku adalah jodohku ternyata aku ditikung pada saat aku akan melamarnya dengan menikahi pria lain" senyum Bara yang membuat Ali mendelik.


"Hahahaha, masih bagus begitu daripada kamu sudah menikah malah ditikung, diporotin uangmu dan diselingkuhi" sahut Ali getir.


"Setidaknya kita sudah terbebas dari wanita-wanita seperti itu Al dan aku bersyukur mendapatkan gantinya yang jauh lebih baik meskipun recehnya sering membuatku pusing" kekeh Bara.


"Kamu sudah mendapatkan Gendhis Arum sedangkan aku masih harus berusaha menaklukkan Davina."


Bara menatap Ali Khan. Sejujurnya dia belum terlalu mengenal pria asal Mumbai India itu namun Arjuna menjamin dia bersih dan memang bisnisnya di Inggris dan India termasuk stabil dan menjanjikan.


"Bersabarlah menghadapi Davina karena dia memang tertutup karakternya."


***


Bara terkejut ketika Fajar memberitahukan bahwa Arum berada di lobby bawah. Kali pertama gadisnya yang sekarang menjadi tunangannya datang ke perusahaannya.


"Suruh nona Gendhis naik Jar" perintah Bara ke asistennya.


"Baik pak."


Tak lama suara ketukan terdengar di pintu ruangan Bara dan pintu pun terbuka. Tampak Arum datang mengenakan blus bewarna biru tua dan celana kantor bewarna khaki beserta sepatu sandal hitam. Tampak di tangannya sebuah paper bag dari restauran sushi favorit Bara.


"Assalamualaikum pak Giandra. Saya kurir baru sushi tei hendak mengatarkan makan siang buat bapak" ucap Arum dibuat-buat yang membuat Bara menggelengkan kepalanya.


"Wa'alaikum salam. Dis, mana ada kurir kasih salam. Adapun 'Selamat pagi kakak. Ini ada kiriman' gitu."


Arum tergelak. "Wah akhirnya setelah sekian purnama, neng Toyib ini bisa masuk ke ruang kerja milik Bara Giandra" komentar Arum yang memindai ruang kerja Bara.

__ADS_1



"Dis, cukup Levi saja yang punya nama Toyib, kamu jangan" kekeh Bara sambil menghampiri gadisnya.


"Eh? mas Levi itu dipanggil Toyib? Ganteng begitu dibilang Toyib?" ucap Arum dramatis yang langsung membuat Bara manyun.


"Iyaaa Levi ganteng, Bara nggak" cebik Bara sebal.


Arum tertawa melihat tunangannya manyun. "Lho tapi kan bukan salah mas Levi juga lho mas kalau punya wajah ganteng. Semua saudara-saudara mas itu fisik paripurna, otak encer, kelakuan minus akhlak top! Kombinasi yang bagus!" Gadis itu pun duduk di sofa yang diikuti Bara.


"Bawain apa nih?" tanya Bara sambil melihat gadisnya menyiapkan makannya.


"Sushi, jelas lalu salmon mentai sukaanmu. Tadi tuh aku udah nggak ada pasien jadi kabur duluan buat makan siang lah." Arum dengan telaten meletakkan semua peralatan makan di antara kotak salmon mentai. "Sebelum kesini, ya mampir lah ke sushi tei."


"Thanks sayang" Bara mencium pelipisnya.


Keduanya pun memulai makan siang dan Arum melihat foto besar Abimanyu Giandra, Ogan Bara di sudut dinding ruang kerja Bara.



"Mas, serius deh. Kalau aku mungkin hidup di masa Ogan Abi masih ada, aku bisa termehek-mehek lihat dia" kekeh Arum.


Bara melihat ke arah foto Ogannya lalu menatap Arum.


"Mungkin kamu bakalan termehek-mehek tapi Ogan Abi di mata, hati dan otaknya hanya buat Necan Dara" senyum Bara. "Bagi Ogan, Necan itu segalanya. Ogan tidak pernah cemburu kalau bertemu dengan keluarga saling peluk cium pipi tapi diluar itu, beeeuuu cemburunya."


"Dua-duanya cinta mati, Dis. Aku dan Nisha saksinya bagaimana Necan patah hati ditinggal Ogan" Bara tersenyum sendu. "Di keluarga kami Dis, rata-rata till death do us part semua dan keluarga kami jika sudah memantapkan hati, setia sampai waktunya."


"Semoga kita bisa seperti Ogan dan Necan ya" Arum memegang tangan Bara.


"Aamiin."


***


Arum membereskan sisa-sisa makan mereka dan membuangnya ke tong sampah di luar ruangan Bara lalu kembali ke dalam. Tampak Bara masih menelpon seseorang dengan wajah serius.


"Jun, kamu nggak usah ikut campur dulu karena semua mau dihandle papa dan Oom Javi. Ali Khan juga akan lama di Jakarta karena kantor cabangnya akan dibuka akhir bulan ini dan lokasinya dekat dengan kantorku."


Bara memberikan kode agar Arum duduk di depannya.


"Kalau kamu datang ke Jakarta untuk peresmian kantornya Ali, datang saja tapi nggak usah ikut urusannya Davina dan Oom Javier. Mereka tidak mau semua gegeran meskipun tahu. Biarkan mereka bertindak secukupnya, jika nanti kewalahan kan baru minta bantuan kita."


"..."


"Oke. Salam buat Sekar, Rajendra, Rama, Oom Jeremy dan Tante Rain Yaaa. Wa'alaikum salam."

__ADS_1


"Mas Juna?" tanya Arum.


"Iya. Mau ke Jakarta menghadiri peresmian kantor milik Ali Khan."


"Memang Davina kenapa mas?" tanya Arum.


"Ada masalah di kantor PRC. Makanya Oom Javier terbang dari Sydney ke Jakarta buat bantu putrinya."


"Mas Sendra tahu nggak ya?" gumam Arum.


"Mas mu nggak tahu kayaknya Dis karena itu urusannya Davina dan Oom Javier" sergah Bara yang belum ingin Arum tahu banyak tentang kasus Davina karena dia menjaga nama baik adik sepupunya itu.


"Iya ya, mas Sendra kan urusan sama desain sedangkan Davina banyak yang dihandle" cengir Arum.


"Nah tuh paham" senyum Bara.


"Mas Bara. Apa benar rumah sakit ibu dan anak tempat aku bekerja milik PRC group? Aku dikasih tahu sama kak Fuji kemarin pas lagi ngobrol sama Seira di acaranya Mas Sendra."


Bara menatap Arum. "Mas nggak hapal aset PRC group, Dis" jawab Bara apa adanya. "Kalau Fuji bilang begitu ya kemungkinan besar iya karena setahu aku, eyang buyut Aryanto Pratomo dan Rani Pratomo membangun rumah sakit juga tapi mana saja aku nggak hapal."


Arum mengangguk.


"Memang kenapa?" selidik Bara.


"Baru sadar kalian crazy rich no kaleng-kaleng" gelak Arum. "Soalnya yang aku lihat, kacaunya kalian kalau kumpul."


Bara tersenyum. "Kalau sudah kaya dari lahir kan tidak perlu pamer, orang bisa menilai. Kalau kayamu baru netes atau tanggung, biasanya sok pamer kemana-mana termasuk ke sosial media.


Mas Bara dan keluarga besar punya akun Instagram tapi apa di open publik? Tidak. Karena apa, itu wadah komunikasi internal kita. Nisha dulu sempat diopen akunnya dan dibilang cewek murahan karena dicium oleh Aidan dan Levi saat wisuda di Oxford. Netizen kalau tidak tahu, judgingnya luar biasa. Makanya kami seringnya tampil santai tanpa harus menunjukkan aku punya apa."


Arum menatap kagum ke calon suaminya. "Ternyata kita satu server mas."


"Namanya jodoh, Dis."


***


Yuhuuu Up Siang Yaaakkk


Maaf telat karena tadi bete Davina baru lolos review sejaman lalu padahal sudah up dari semalam.



Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2