
Prayogha masuk ke dalam kamar rawat Arum Banowati. Tampak mantan istrinya yang selalu tampil chic, trendy dan sophisticated sekarang tampak pucat, kurus dan...layu. Tidak ada Arum Banowati yang selalu memakai outfit branded dan perhiasan, hanya seorang wanita paruh baya yang memakai baju rumah sakit yang terbaring lemah dan tak berdaya.
"Mas...Yoga?" bisik Arum melihat mantan suaminya berdiri di ujung tempat tidurnya.
"Assalamualaikum Arum" sapa Prayogha. Sebangke-bangkenya Prayogha, dia sudah berusaha untuk berhijrah. Kasus percobaan pembunuhan ke Bima, membuatnya sadar bahwa dirinya sudah banyak melakukan kesalahan besar hingga putra kandungnya nyaris kehilangan nyawanya.
"Wa'alaikum...salam. Mas Yoga...ada apa...kemari?" suara Arum terdengar lemah.
"Aku hanya membesuk mu. Arimbi dan Bima memberitahukan kalau kamu sakit. Jadi aku..."
"Maafkan aku...mas Yoga. Aku ... bersyukur... mas Yoga kemari... Aku mau minta... maaf. Maaf mas... membuat mas Yoga..."
"Aku sudah memaafkan mu, Arum. Dan harusnya kamu berterimakasih dengan Bima, putraku yang memberikan pencerahan untuk menjadi ikhlas dan hati yang luas untuk bisa memaafkan."
Arum menitikkan air matanya. "Sampaikan...pada Bima... aku... minta maaf."
Prayogha berjalan mendekati Arum dan menggenggam tangannya yang semakin kurus. "Dia sudah memaafkan kamu, Rum."
Arum tersenyum tipis. "Ini... sepertinya... balasan untukku... berbuat jahat kepada... mas Azzam... Bennett ... dan... kamu mas ..."
"Jangan berpikir seperti itu, Rum."
"Tidak..mas. Aku tahu ini... siapa yang berbuat... akan... menuai hasilnya" Air mata Arum pun turun. Prayogha mengusapnya dengan lembut. Bagaimana pun mereka pernah bersama.
"Aku akan tiap hari menjenguk mu, Rum" putus Prayogha. Dirinya tidak tega melihat mantan istrinya seperti itu.
"Terimakasih...mas" bisik Arum.
***
Bima dan Rani yang duduk di kursi tunggu dekat ruang rawat Arum melihat Prayogha keluar dengan mata basah. Bima pun berdiri dan memapah sang papa yang tampak sedih.
"Duduk dulu Pa" ajak Bima.
Prayogha mengambil saputangannya dan mengusap wajahnya. Rani yang melihat ikut sedih melihat betapa rapuhnya Prayogha.
"Dokter Rani..."
"Ya pak Prayogha" jawab Rani.
__ADS_1
"Berapa lama lagi waktunya ... Arum?" tanya Prayogha.
"Honestly, saya tidak tahu pak. Saya dan Dokter Tatang sudah hands up karena sel kanker sudah menyebar kemana-mana bahkan sudah menyerang ke hati dan usus besar." Rani menatap prihatin ke Prayogha.
"Astaghfirullah Al Adzim" Prayogha menghela nafas panjang berulangkali sembari beristighfar.
"Papa mau di Jakarta dulu?" tanya Bima yang seolah tahu apa yang dipikirkan Prayogha.
"Iya Bim. Bagaimana pun papa pernah bersamanya" bisik Prayogha.
"Nanti saya berikan ijin khusus untuk pak Prayogha agar bisa bebas menemani dokter Arum" ucap Rani.
"Terimakasih dokter Rani." Prayogha menyalami Rani hangat.
***
Prayogha memutuskan untuk tinggal di rumah sakit sampai jam empat sore karena nanti malam dia akan ke rumah Bara acara lamaran Bima dan Arimbi. Bima sendiri membiarkan ayahnya untuk menemani mantan istrinya dan segera pergi ke rumah Arimbi guna menjemputnya seusai rencana akan ke rumah Raka dan Luna.
Bima sudah sampai di rumah Arimbi dan bertemu dengan Ghani yang sedang mengobrol dengan Alexandra di ruang tamu. Acara lamaran Bima nanti malam memang hanya Keluarga inti saja yang datang dan itu pun dibuat santai karena bagi Bara dan Arum, yang penting datang resmi. Keluarga besar datang pada saat acara pernikahan saja biar tidak terlalu merepotkan banyak orang.
"Habis dari mana Bim?" tanya Ghani ke calon cucu menantunya.
"Antar papa ke rumah sakit, Opa" jawab Bima.
"Papa nggak papa Oma. Tadi kita kesana buat besuk mantan istrinya dan bertemu dengan Tante Rani juga disana."
"Kabarnya mantan istrinya papamu sakit, Bim?" tanya Ghani.
"Iya opa. Kanker serviks stadium empat" ucap Bima pelan.
"Astaghfirullah Al Adzim." Ghani dan Alexandra saling menatap. Apakah ini hasil hukum tanam tuai?
"Kok yang merawat Rani?" tanya Alexandra bingung. "Bukannya Rani dokter obgyn?"
"Mintanya begitu kok Oma. Tapi kata Tante Rani, dokter Tatang yang ahli onkologi juga merawatnya."
"Dokter Tatang onkologi?" tanya Arum mendengar ucapan Bima.
"Njih Tante." Bima mencium punggung tangan Arum.
__ADS_1
"Stadium empat, Bim?" tanya Bara yang datang menyusul.
"Njih Oom."
Bara dan Arum pun duduk di sofa sebelah kanan Bima.
"Astaghfirullah Al Adzim."
Bima hanya terdiam melihat calon mertuanya tampak terkejut.
***
"Mas, kalau nanti Opa Raka dan Oma Luna tidak bisa datang ke acara kita, nggak papa ya?" ucap Arimbi disaat mereka berdua sudah berada dalam mobil Bima menuju rumah Raka Pradipta.
"Kita minta restu saja disana karena kan tahu kondisinya Oma Luna yang masih harus tiduran agar kakinya sehat" jawab Bima. "Arga yang cerita padaku."
"Iya mas."
Mobil Mustang Shelby Bima sampai di rumah mewah milik Raka dan penjaga rumah membuka pintu karena sudah hapal dengan Bima, apalagi ada Arimbi di sebelahnya.
Raka menyambut cucu dan calon cucu menantunya dengan hangat meskipun tidak sedarting Ghani yang hampir tiap Minggu bertemu dengan Bima.
Keduanya pun masuk ke dalam kamar Raka dan Luna melihat sang Oma tersenyum bahagia ditengok oleh cucu kesayangannya. Arimbi adalah satu-satunya cucu perempuannya karena anak Gasendra dan Rani, laki-laki bernama Arsyanendra Garvi Pradipta yang sekarang bekerja di pabrik Mercedes Benz di Jerman.
"Ah, cucu Oma dan calon cucu menantu. Bagaimana kabar kalian?" Luna melihat jari manis Arimbi dan terbelalak. "Kalian sudah...?"
"Semalam Oma tapi berdua dulu" senyum Bima.
"Selamat buat kalian berdua" Luna merentangkan tangannya membuat Arimbi dan Bima memeluk Omanya.
"Kalian bertunangan tanpa bilang ke Opa?"
Suara Raka membuat ketiganya menoleh ke sumber suara yang berdiri di pintu kamar.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️