Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Masak Bersama


__ADS_3

Arum dan Alexandra kini berada di dapur sedang memasak Risotto seafood kesukaan Bara dan Ghani. Gadis cantik itu sudah berganti pakaian dengan kaos putih dan celana rumahan, rambut panjangnya dia ikat cepol.



"Aku kira mas Bara sukanya masakan Jawa, ternyata masakan Italia demen juga ya Tan" komentar Arum sambil mengaduk Risotto nya.


"Kalau Bara sama papanya bisa makan apa saja asal nggak ada petai. Mas Daniswara nggak bisa makan petai, eh nurun ke Bara."


Arum melongo. "Duh petai kan enak banget tuh Tante! Apalagi dimasak sambal goreng ati atau nggak digoreng gitu dikasih sambal terasi atau sambal tomat. Ya Ampuuunnn, aku jadi ngeces!"


Alexandra menoleh kearah gadis cantik itu. "Kamu doyan petai?"


"Buanget Tante! Jengkol ajah doyan!"


"Pantes tukang kentut, lha wong makannya gitu!" sindir Bara yang masuk ke dapur buat ambil pizza beku yang hendak dipanaskan di microwave.


"Lho kok kentut lagi dibahas Thow mas Baraku sayang. Apa kurang meledek diriku yang jujur apa adanya" balas Arum dramatis yang membuat Alexandra dan pelayan di dapur tertawa.


"Iisshhhh kok aku bisa suka sih sama cewek demen makan petai dan jengkol begini?" gerutu Bara sambil menunggu pizza nya matang.


"Berarti hasil melet pakai petai dan jengkol berhasil! Beneran lho mas, enak tuh yang bau-bau gitu! Durian doyan nggak?" tanya Arum sambil mengerling jenaka.


"Durian masih suka tapi kalau petai dan jengkol, wassalam!" cebik Bara sambil mengeluarkan pizza dari microwave.


"Mas Bara nggak asyik!" protes Arum.


"Biarin!" sahut Bara sambil keluar dapur.


***


Ghani dan Bara menikmati Risotto buatan Arum dan Alexandra yang menurut mereka pas di lidah apalagi dengan topping seafood yang memang favorit keluarga Giandra. Ghani bersyukur karena keluarganya tidak ada yang alergi seafood.



"Ini beneran enak Dis" puji Ghani.


"Makasih Oom. Aku cuma bagian aduk-aduk sama potong-potong tapi kalau bumbu masih Tante Alexandra yang kasih" ucap Arum yang mengakui Risotto nya enak.


"Kamu dah tahu kan bumbunya Dis?" tanya Bara.


"Udah, tadi udah ta catat" jawab Arum.


"Siang makan apa enaknya?" tanya Alexandra.


"Semur jengkol!" seru Arum antusias.


"NGGAK!" seru Ghani dan Bara.


Arum pun manyun. "Isshh padahal enak tuh!"


***

__ADS_1


Setelah perdebatan, akhirnya diputuskan siang ini mereka akan memasak asam-asam daging dengan tempe mendoan, bakwan jagung dan bakwan udang.


Arum sangat senang membuat camilan ndeso seperti itu bahkan dirinya tidak perduli terkena tepung di wajahnya.


"Rupanya kamu suka bikin camilan begini ya Dis?" komentar Alexandra.


"Eyang putri tuh jago bikin camilan ndeso Tan, dan aku harus bisa bikin kalau nggak, bahaya di kuping aku" kekeh Arum.


"Ohya, Rani gimana ceritanya bisa jadi calon kakak ipar kamu?"


"Mbak Rani tuh aku kenal pas ambil spesialis obgyn di UI. Dia senior ku dan orangnya cerdas banget plus receh. Pas suatu hari aku habis ujian, mbak Rani aku ajak ke rumah terus ketemu sama mas Sendra. Eh ngobrol-ngobrol malah cocok, akhirnya pacaran deh."


"Lho kamu punya rumah di Jakarta?" tanya Alexandra.


"Ada Tante, tapi di Jakarta Timur sedangkan aku kan kerja di Jakarta Barat jadinya aku milih kost lah di dekat rumah sakit. Tua di jalan nanti aku Tan kalau tinggal di Jaktim" papar Arum santai. "Hanya saja, karena aku nggak begitu hapal daerah sana jadinya malas disana. Kan aku pindah ke Jakarta karena ambil spesialis obgyn di UI, Tan setelah sebelumnya terdampar di Solo."


"Owalaahhh. Katanya Papamu minta ketemu sama Bara. Benarkah?"


"Iya Tan, papa minta ketemu dengan mas Bara, Oom Ghani dan Tante supaya enak ngobrol nya mumpung papa bisa ambil cuti besar. Papa kan orang yang paling jarang ambil cuti jadi harus diambil dan ngepasi buat nikahannya mas Sendra dan Mbak Rani."


"Kalau Rani, anaknya siapa Dis?"


"Mbak Rani itu anaknya Oom Hari, pemilik bengkel di daerah Pancoran Tan tapi mbak Rani kuliah pakai beasiswa terus karena otaknya encer. Kuliahnya juga cepat saking pintarnya, aku saja kalah" kekeh Arum. "Padahal aku udah serius dan ngebut belajarnya tapi memang otakku masih kalah sama mbak Rani."


Alexandra tersenyum mendengar ocehan calon menantunya.


***


"Gendhis yang buat. Kenapa mas?" tanya Alexandra ketika mereka semua sedang makan siang di ruang makan.


"Bentuknya beda sama yang kamu buat" komentar Ghani.


"Rasanya?" tanya Alexandra lagi.


"Sama enaknya sama buatanmu" jawab Ghani.


"Nggak terlalu berminyak juga" komentar Bara.


"Alhamdulillah kalau pada suka" senyum Arum.


"Ternyata beneran kamu bisa masak" goda Bara.


"Mas Bara kok senenganne godani aku tho! Awas besok kalau sudah serumah, bakalan ta masakin semur jengkol! Ben doyan!" ancam Arum sok judes.


"Aku kabur lah ke rumah mama!" balas Bara.


"Kabur piye, Ra wong nanti kalau kamu ma Gendhis dah nikah, tinggalnya ya disini!" gelak Ghani. "Dis, no jengkol no petai ya! Awas!"


"Aaaahhhh Oom Ghani sama ma mas Bara. Ga seruuuu!" Rajuk Arum sambil manyun.


***

__ADS_1


Bara dan Arum menikmati acara tv di ruang tengah sedangkan Ghani dan Alexandra memilih masuk kamar setelah keempatnya sholat dhuhur berjamaah.


"Serius mas? Kalau sudah nikah tinggal disini?" tanya Arum.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya balik Bara.


"Nggak, malah seneng aku sama Tante Alexandra dan Oom Ghani. Jadi ramai rumah."


"Asal kamu tahu Dis, rumah ini sering dijadikan basecamp keluarga besar aku jadi jangan kaget kalau tiba-tiba sepupu aku main datang ke Jakarta dan menginap disini."


Arum meletakkan kepalanya di atas paha Bara. "Kenyang, ngantuk, molor" gumamnya.


Bara mengusap rambut coklat Arum dengan sayang. "Love you Gendhis."


Arum tersenyum sambil terpejam. "Love you too mas Bara."


"Dah bobok aja dulu, nanti mas Bara bangunin kalau paha mas dah kebas." Namun Arum tampaknya tidak mendengarkan ucapan Bara karena sudah terlelap dan nafasnya tampak teratur.


Alamat semutan deh paha gue!


Bara pun lama-lama juga merasakan kantuk dan akhirnya terlelap di sofa sambil memeluk Arum.


Alexandra yang keluar kamar melihat putra dan kekasihnya tertidur di sofa tidak tega untuk membangunkan.


Duh manisnya! Jadi ingat dulu waktu masih pacaran sama mas Daniswara - senyum Alexandra.


Pelan-pelan ibu cantik itu mematikan tv besar di ruang tengah dan meninggalkan keduanya di sofa.


Semoga kalian bisa seperti ini selamanya, Aamiin.


"Bara ngapain Lexa?" tanya Ghani ketika melihat Alexandra masuk ke dalam kamar.


"Tidur berdua dengan Gendhis di sofa, seperti mas dulu tidur di pahaku."


"Bara niru aku?" selidik Ghani.


"Bukan, Gendhis yang tidur di paha Bara."


"Owalaahhh."


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


maaf hari ini ga banyak chapter kayak kemarin, Eike beneran drop


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2