
"Azzam?"
Bara menoleh ke arah Arum yang masih dalam pelukannya. "Ada apa ini Dis?"
"Tadi dokter Arum pingsan dan aku yang memeriksanya. Benar dugaanku kalau dia sedang hamil lalu aku dan Thomas mengantarkan ke rumah sakit ini karena aku kenal dengan dokter obgyn disini" ucap Arum sambil menatap Bara.
"Kalau tadi tidak ada dokter Arum, aku tidak sadar kalau Arum ku hamil" ucap Azzam. "Sebab dia tadi hanya mengeluh jetlag karena kami baru saja sampai dari Surabaya tadi pagi."
Bara menatap Azzam. Arum hamil.
"Ini kekasihmu Bar?" tanya Azzam.
"Iya, ini Gendhis, kekasihku" jawab Bara tegas sembari memeluk pinggang Arum.
"Maaf tapi karena kalian sudah ditangani, aku dan Arum ini mau kembali ke acara seminar" potong Thomas yang merasakan ada aura tidak enak diantara mereka.
"Iya, aku sudah bilang sama dok Rani supaya dia yang mengurus dokter Arum dan dokter Azzam" ucap Arum sambil memeluk pinggang Bara dengan sikap posesif.
"Baiklah. Terima kasih semuanya" ucap Azzam.
"Kami permisi dulu" pamit Thomas sedangkan Bara hanya mengangguk ke arah Azzam.
***
"Yakin kita akan kembali ke seminar? Sedangkan sekarang sudah jam tiga sore dan seminar selesai jam empat. Tanggung amat!" celoteh Thomas.
"Kita skip saja ya soalnya pasti sudah tahu isinya apa. Toh besok bisa ikut lagi" ucap Arum. "Mas Bara mau balik kantor atau gimana?" tanya Arum ke arah Bara yang masih memasang wajah datar.
"Kita ke kantorku saja, Dis."
Arum mengangguk. "Aku duluan ya Thomas, besok ketemu lagi."
"Oke. Hati-hati. Senang bertemu dengan mu Bara. Jaga sahabatku" Thomas mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu denganmu juga dan soal Gendhis, dia akan selalu aku jaga" ucap Bara sambil menyambut uluran tangan Thomas.
Keduanya pun naik ke mobil Rubicon hitam milik Bara lalu meninggalkan pelataran parkir sedangkan Thomas memilih naik taksi biru untuk kembali ke hotel tempat dia menginap.
***
"Mas Bara baik-baik saja?" tanya Arum sambil menatap Bara intens. Arum tahu sakitnya ditinggal nikah itu masih ada di diri Bara.
Bara tidak menjawab namun dia menepikan mobilnya di sebuah parkiran restauran fast food disana. Pria itu lalu melepaskan seatbeltnya dan memeluk Arum.
__ADS_1
Gadis itu hanya diam dipeluk oleh pria tampan itu, membiarkan Bara melampiaskan emosinya.
"Kamu tahu, ketika kamu bilang ada di rumah sakit bukan di tempat seminar, rasanya aku seperti terkena serangan jantung. Bukannya tadi seminar di hotel kok tahu-tahu di rumah sakit yang bukan rumah sakit mu pula!" gumam Bara di ceruk leher Arum.
"Iisshhhh mas Bara mikirnya kejauhan. Masa nggak bisa mikir ada pasien mendadak atau gimana gitu. Panikan melulu ih yang katanya pacarnya Gendhis ini" kekeh Arum.
Bara menatap Arum. "Iya pacarnya Gendhis panikan apalagi punya pacar tukang kentut!"
"Haaaiissshhhh, kentut melulu dibahas! Aku lapar! Yuk makan!" ajak Arum sambil melepaskan seatbeltnya. Cacing dalam perutnya demo melihat restauran KFC di depan mata.
"Kamu belum makan siang?" pelotot Bara.
"Belum lah! Wong urus mantanmu dulu mas!" kekeh Arum santai.
Bara hanya mengusap wajahnya kasar. Mantan yang kayak jelangkung!
Keduanya pun turun dari mobil Bara dan masuk ke dalam restauran sambil bergandengan.
***
Seminar di hari Jumat ini memang hanya setengah hari karena dipakai untuk jumatan jadi Arum sudah selesai dan bingung hendak kemana. Mau ke tempat Davina, kok malas. Akhirnya Arum menuju rumah sakit tempat Arum Satu dirawat untuk mengetahui kondisinya terkahir. Azzam tadi memang tidak ikut seminar karena menemani istrinya.
Arum pun mengirimkan pesan kepada Bara agar nanti usai jumatan menjemput dirinya di rumah sakit tempat Arum Satu. Thomas yang mengajak Arum untuk makan siang, ditolaknya dengan alasan sudah janjian dengan Bara.
Arum memang sengaja ingin menunjukkan bahwa Bara yang dulu berbeda dengan Bara yang sekarang. Setibanya di rumah sakit, Arum mencari dokter Rani yang merawat Arum Satu.
"Kalau nggak cantik, mas Gasendra mana doyan sama kamu mbak" kekeh Arum ke pacar sang kakak. Dokter Rani berusia 30 tahun, dua tahun diatas Arum dan menurut rencana akhir tahun akan menikah dengan Gasendra.
"Dih, durjana nih calon adik ipar aku! Ada apa Ndis?" dokter Rani pun duduk di kursinya.
"Soal dokter Arum Banowati. Gimana keadaannya?" tanya Arum serius.
"Tumben kamu nanyain pasien orang lain eh tapi kamu yang tahu Ding ya dia hamil." Rani membuka berkas milik Arum Satu. "Kehamilannya agak sulit Ndis, harus bedrest total."
"Jadi dia harus lama disini?" tanya Arum.
"Paling tidak sekitar seminggu disini lalu jika sudah kuat, baru boleh kembali ke Surabaya. Yang aku heran, kok si Azzam nggak ngeh sih bininya bunting!" omel Rani. Soal gesrek, Rani dan Arum sama-sama saling mengisi dan itulah kenapa Gasendra cocok dengan Rani karena bisa klop dengan adiknya.
"Isshh mbak Rani kalau ngomong suka bener deh!" gelak Arum.
"Lha iya Thow Ndis, sebagai seorang dokter kan harusnya bisa melihat perubahan fisik seseorang apalagi yang setiap hari ketemu. Wong aku ajah yang jarang ketemu kamu wae bisa tahu kalau kamu lagi jatuh cinta. Hayoooo ngaku!" goda Rani.
"Eh? Apa maksudnya mbak?" elak Arum dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Yang kemarin peluk-peluk kamu itu?" kerling Rani.
"Iyaaaa itu pacar aku mbak" cengir Arum.
"Papa mama sudah tahu? Mas Gas?" Arum ngakak mendengar panggilan Rani ke kakaknya meskipun sudah bolak balik disuruh ganti, tetap saja Rani memanggil Gasendra 'Mas Gas'.
"Papa Mama sudah tahu bahkan kedua orangtua mas Bara sudah ngobrol sama papa. Mas Sendra juga tahu dan auto lampu hijau lah begitu tahu siapa pacarku" cengir Arum.
"Namanya siapa Ndis?"
"Sambara Ganendra Giandra."
Rani melongo. "CEO Giandra Otomotif Co?"
"Bingo!"
"Yang merger dengan MB Enterprise dan masih ada hubungan keluarga dengan PRC group dan AJ Corp?"
Arum mengangguk.
"Whoah ya pantes papa sama mas Gas auto oke, wong keluarganya aduhai dan sultan semua, jadi papa ayem kamu dapat pasangan bukan ngadi-ngadi" komentar Rani. "Apalagi kan mas Gas kerja di PRC group jadi tahu lah!"
"Iya mbak" Arum mengambil ponselnya yang berbunyi. "Assalamualaikum mas Bara."
Rani hanya mendengarkan interaksi calon adik iparnya sambil bersyukur putri satu-satunya keluarga Pradipta mendapatkan pria dari kalangan yang semua orang tahu siapa.
"Mas Bara mau kesini mbak. Nanti mbak Rani kenalan saja."
Tak lama suara ketukan di pintu terdengar dan Arum membukanya, tampak Bara di hadapannya.
"Masuk mas, ta kenalkan ke mbak Rani pacarnya mas Sendra" ucap Arum sambil memeluk lengan Bara.
Rani pun melongo melihat Bara.
"Dik, mbak juga auto setuju kalau kamu sama Bara. Dia bukan kaleng-kaleng!" ucap Rani yang membuat Arum terbahak sedangkan Bara bingung melihat keduanya.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️