Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Wisuda


__ADS_3

Can I Graduate,


Can I look into the faces that I meet,


Can I get my punk-a**ss off the street,


I've been living on for so long,


Bima membuka matanya dan mendelik mendengar lagu milik Third Eye Blind yang sengaja diputar oleh Radit.


"Gue wisuda kaleee Oom!" teriak Bima kesal. Radit hanya tertawa mendengar teriakannya. Hari ini adalah hari wisuda Bima di UI jurusan teknik mesin. Setelah sempat tertatih tatih akibat musibah yang menimpanya, Bima bisa menyelesaikan kuliahnya 4,5 tahun, lebih lama setengah tahun dari target karena dia membagi konsentrasi skripsinya dengan bisnisnya.


Setahun usai musibah itu, bengkel dan rumah Bima sudah berdiri lagi sesuai dengan keinginannya meskipun harus membutuhkan proses lama tapi Bima puas dengan hasilnya. Sengaja Bima memakai jasa PRC group dan meminta Tante Davina yang merancangnya.


Toko emas yang dimilikinya pun berjalan dengan baik dan Bima selalu melaporkan kepada ayahnya Prayogha perkembangan toko warisan dari eyang Baskara. Prayogha yang sekarang berbisnis rumah makan ayam geprek, sangat berterimakasih kepada putranya yang selalu update. Hubungan keduanya pun semakin membaik apalagi Bima sering sharing dengan Radit dan keluarga Giandra yang selalu mendukung cara Bima untuk selalu komunikasi dengan ayah kandungnya.


Arimbi memang masih menyelesaikan pendidikannya di Harvard namun Bima setiap malam Minggu pasti ke mansion Giandra entah hanya untuk main catur atau mengobrol dengan Ghani dan Bara. Anarghya, adik yang sudah SMA sekarang pun tak jarang mengajak main video game dengan Bima.


Bima sangat bersyukur mengenal Arimbi dan keluarganya yang meskipun sok galak dengannya tapi mereka selalu care. Tak jarang, Bima menginap di mansion Giandra di waktu weekend dan paginya mereka akan berjalan pagi mengelilingi kompleks. Ghani dan Bara salut dengan sikap Bima kepada orang lain termasuk para pedagang disana.


Sikap Bima yang tahu unggah ungguh dan sedikit slengean membuat banyak tetangga dan para pedagang disana sampai hapal. Tak sedikit yang meminta Bima menjadi calon menantu dan membuat Bara emosi. Arimbi yang tahu cerita itu hanya tertawa mendengar papinya marah-marah.


"Mas Bima ya mas Bima. Papi nggak usah khawatir, mas Bima nggak bakalan berani macam-macam" kekeh Arimbi.


"Dia berani macam-macam, papi sunat habis dia!" sungut Bara.


***


Bima menunggu kedatangan gadisnya yang katanya sedang dalam perjalanan. Menurut rencana mereka akan bertemu di tempat wisuda.


Kemana ini Arimbi? Bima hari ini mengenakan suit hitam, kemeja putih dan dasi hitam. Matanya jelalatan mencari gadisnya yang sudah lama tidak dia temui secara live karena Bima ingin segera menyelesaikan pendidikannya dan dia memang memilih menunggu Arimbi yang pulang ke Jakarta daripada dia yang terbang ke New York.



"Bima ... " Bima pun menoleh.


"Papa" senyum Bima yang langsung mencium punggung tangan Prayogha dan pria paruh baya itu segera memeluk putranya.

__ADS_1


"Selamat ya Boy. Papa bangga sama kamu" senyum Prayogha bahagia.


"Terimakasih papa jauh-jauh datang kemari." Bima tersenyum dan melihat Radit masih mengobrol dengan pengawal sang papa.


Bima dan Radit memang meminta salah satu asisten ayahnya untuk terus menemani ayahnya di Pemalang agar tidak sendirian.


"Arimbi belum datang?" tanya Prayogha. Hubungan Prayogha dan keluarga Giandra mulai membaik setahun belakangan ini. Tak jarang Prayogha dan Bara saling bertukar kabar apalagi kedua anak mereka memang berpacaran.


"Katanya sudah perjalanan dari tadi ... Nah itu dia!" Prayogha menoleh dan melihat seorang gadis cantik mengenakan gaun bewarna garis-garis biru putih. Wajah Arimbi tampak cerah meskipun make up yang dikenakannya simpel dan minimalis.



"Mas Bima, Oom Prayogha" sapa Arimbi ramah sambil mencium punggung tangan Prayogha. "Kapan Oom datang ke Jakarta?"


"Semalam dari Pemalang lalu pagi ini datang kesini" jawab Prayogha.


"Sehat kan Oom?"


"Alhamdulillah" senyum Prayogha.


"Yuk masuk, aku mau pakai toga dulu" ucap Bima sambil memakai toganya.


"Mari masuk. Arimbi kapan selesai kuliahnya?" tanya Radit sambil berjalan masuk ruang auditorium tempat wisuda.


"Insyaallah akhir tahun ini selesai karena skripsiku sudah mulai berjalan" jawab Arimbi.


"Habis ini langsung kembali ke Jakarta?" tanya Prayogha.


"Iya Oom. Meskipun di New York banyak saudara, tapi lebih enak disini meskipun panas dan macet."


"Karena ada Bima disini" goda Radit yang membuat Arimbi tersipu dengan pipi merona.


"Oom rasa, setelah kamu selesai skripsi dan wisuda di Harvard serta kembali ke Jakarta, kalian segera saja menikah. Lagian kan kalian pacaran juga sudah lama kan?" usul Prayogha.


"Njih Oom. Mas Bima juga sudah berencana begitu" angguk Arimbi.


Ketiga orang itu duduk di kursi undangan dan Prayogha bersama Radit maju ke depan untuk berfoto bersama Bima dan rektor beserta dekan karena Bima adalah wisudawan terbaik dengan IPK 3,8 ... Hanya 0,1 kalah dari Hoshi dan Bima kesal bukan main karena musuhnya itu semakin durjana meledeknya.

__ADS_1


***


"Mas, ipk 3,8 itu sudah bagus banget!" senyum Arimbi.


"Tetap saja masih kalah sama si muka cewek!" sungut Bima kesal. "Dan dia semakin durjana, sayang."


"Kalian tuh kenapa sih susah akur?" Arimbi sampai menggelengkan kepalanya karena hampir lima tahun terakhir ini Bima dan Hoshi selalu ribut bahkan lebaran terakhir, keduanya memang saling bermaaf-maafan di hari pertama idul Fitri tapi besoknya keduanya bertengkar kembali.


"Sayang, kasih Hoshi pasangan deh! Biar jinak dia! Lagian Oom Levi kasih nama 'Hoshi' yang artinya macan kalau di bahasa Korea. Ya wassalam senenganne ngaum terus!" keluh Bima. "Siapa tahu kalau ada pawangnya, kayak di sirkus-sirkus gitu jadi jinak terus diajak lompatin lingkaran besar."


Prayogha dan Radit terbahak mendengar analogi Bima yang kesal dengan sepupu Arimbi itu. Prayogha memang baru empat kali bertemu dengan Hoshi yang awalnya tidak suka dengannya namun demi menghormati ke orang yang lebih tua, si mulut cabe setan itu bisa menerima Prayogha namun dengan ancaman jangan membuat perkara lagi.


Ayah Bima itu melihat aura Hoshi yang tegas dan tidak main-main pun hanya tersenyum tipis mendengar ancaman pria tampan itu. Pria paruh baya yang memilih melajang setelah ceritanya dengan Arum selesai, tahu dibalik mulut judesnya. Hoshi, tapi sepupu Arimbi itu care dengan Bima.


"Eh Pa, mantan istri papa katanya sakit sekarang" lapor Bima kepada Prayogha.


"Biarkan saja karena papa sudah malas berhubungan dengannya."


"Dia sakit kanker serviks lho, Yoga" sahut Radit kepada mantan kakak iparnya. Saat ini mereka semua sedang ada di restauran Padang usai acara wisuda Bima yang memang meminta untuk makan siang disini.


Prayogha tertegun. "Stadium berapa?"


"Menurut mami, Tante Arum sudah stadium empat dan sulit diobati, Oom. Mami tahu karena Tante Arum hanya mau diobati oleh Tante Rani, kakak mami."


Rani adalah istri Gasendra Pradipta, kakak kandung Gendhis Arum dan dia adalah dokter Obgyn juga.


Prayogha tertegun.


"Papa mau besuk?" tanya Bima.


***


Yuhuuu Up Subuh Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2