Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Lamaran ala Bima 1


__ADS_3

"Eh Opa" cengir Bima.


"Eh opa, eh opa! Kamu lamar cucu Opa nggak bilang-bilang! Kapan bapakmu ke Bara?" pendelik Raka sok galak.


"Nanti malam Opa. Jam tujuh, papa, saya dan Oom. Radit akan ke rumah buat melamar ke Oom Bara dan Tante Gendhis. Nih aku dah bilang" jawab Bima santai seolah sudah biasa kena omel.


Rasanya Raka ingin menabok pria tampan yang sudah membuat dia emosi sejak Bima masih putih abu.


"Duh sayang, kamu bisa ke rumah Bara nggak?" tanya Raka ke Luna. "Acaranya santai kan Bim? Kok Ghani atau Bara nggak ngabarin ya?"


"Ngabarin kok. Gendhis malah telpon aku tapi dia tahu kondisi aku begini jadi..."


"Aku kok nggak dikabari?" desis Raka kesal dengan keluarga besannya.


"Hpnya mas Raka kemana? Nggak mungkin Bara atau pak Ghani nggak ngabari" kekeh Luna.


Raka mencari-cari ponselnya tapi tidak ketemu. "Lha aku taruh dimana tadi?"


"Aku misscall saja Opa" jawab Arimbi yang mengambil ponselnya dari dalam tas. Ada nada sambung dan terdengar nada sayup-sayup lalu semakin keras yang tak lama seorang pelayan datang ke kamar Luna yang pintunya tidak tertutup.


"Nyuwun Sewu, pak Raka. Ponselnya ketinggalan di kamar mandi atas" seorang pelayan membawakan ponsel Raka.


"Owalaahhh. Dasar Opa. Hp kok ya ditinggal di kamar mandi" kekeh Luna melihat suaminya menerima hpnya.


"Lha ini Ghani dan Bara misscall banyak banget dan ada pesan acara lamaran nanti malam" cengir Raka.


"Makanya jangan suudzon. Kok telpon dari Ghani dan Bara kita nggak denger ya" gumam Luna.


"Kamar atas kan tadi tertutup, mana kedap gitu kan. Baru denger setelah bik Darmi beberes kamar atas" jawab Raka.


"Jangan suudzon ya Opa Raka. Mboten pareng ( tidak boleh )" sahut Bima yang mendapat pelototan Raka tapi tawa Luna dan Arimbi.

__ADS_1


"Astaga Bima! Pantas Ghani dan Bara sering darting sama kamu" pendelik Raka yang ta urung tertawa juga.


"Oma bisa pakai kursi roda kalau ke rumah. Apa Bima pesankan sekarang?" Bima mengeluarkan ponselnya untuk memesan kursi roda buat Luna.


"Eh nggak usah Bim. Tuh kursi roda Oma ada di pojokan cuma Oma nggak mau pakai kalau nggak kepaksa sih" ujar Luna.


"Lha ini kan kepaksa, saya melamar Arimbi dan nanti tidak ada siaran ulang. Kurang syahdu nanti Oma kalau diulang-ulang terus adegannya" kekeh Bima yang mendapat keplakan dari Luna.


"Duh kamu tuh! Benar-benar cucu menantu asal njeplak!" Luna tertawa.


"Arimbi, sekarang Opa paham kenapa Opa Ghanimu sering ngedumel soal Bima. Wong slengean begini" bisik Raka ke Arimbi.


"Bikin awet muda kan Opa" senyum Arimbi.


"Bikin tensi naik!" cebik Raka.


***


Jam tujuh malam semua keluarga inti Giandra dan Pradipta sudah hadir di mansion Giandra. Ghani dan Alexandra memakai batik sarimbit bernuansa coklat merah, Bara dan Arum sama, sarimbit biru navy, Arimbi memilih memakai gaun batik bewarna pink sedangkan Anarghya, batik hitam dengan motif warna emas.


Keluarga di New York, London, Amsterdam, Tokyo, Bali, Solo ikut menyaksikan acara lamaran Bima dan Arimbi melalui live streaming.


Raka dan Luna datang dan sang Oma mau memakai kursi roda demi menyaksikan cucunya lamaran apalagi Arimbi cucu perempuan satu-satunya. Gasendra dan Rani pun datang sedangkan putra mereka Nendra memilih melihat di MacBook dari Jerman.


Bima datang bersama Prayogha dan Radit serta Jono, tangan kanan Bima. Mereka semua berada di ruang tamu yang sudah disetting agar semua orang bisa duduk di dalam.


Setelah acara pembukaan dari Radit sebagai salam dan kulonuwun ke keluarga Giandra, Bima yang maju menghadap ke Ghani dan Bara. Mata coklatnya melirik ke arah Hoshi yang memberikan wajah meledek. Jiaaaahhh! Muka cewek pakai acara ikutan nongol di streaming! Bima lalu bersikap cool menghadapi keluarga Arimbi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya hormati, Opa Ghani, Oma Alexandra, Opa Raka, Oma Luna, Oom Bara, Tante Gendhis, Oom Gasendra, Tante Rani, Oom Arya, Tante Amberley, dik Anarghya. Udah ya? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Bima.


"Heh Werkudara! Adik gue kagak elu sebut!" celetuk Hoshi yang mendapatkan pelototan dari Levi dan Yanti.

__ADS_1


"Eh iya, jeng Arimbiku" cengir Bima yang mendapat senyuman Arimbi yang tahu tunangannya hanya ingin membuat suasana ramai.


"Haddeeeehhh!"


"Anyway, saya dan papa saya Prayogha Baskara serta Oom saya Radit Hermawan, datang kemari untuk melamar putri Oom Bara dan Tante Gendhis yang bernama Arimbi Maheswari Pradipta Giandra."


"Bukannya kamu sudah melamar Arimbi duluan?" cebik Bara.


"Lha kan sengaja, Oom. Biar syahdu berduaan sama Arimbi, sekarang resminya dan yakin Solihin nggak bakalan ditolak karena sudah DP kasih cincin di jari manis Arimbi" sahut Bima pede.


"Astaghfirullah Al Adzim" ucap Bara, Ghani dan Raka sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan pria tampan itu. Prayogha dan Radit hanya bisa memegang pelipisnya sedangkan Jono serta keluarga lain tertawa dengan gaya slengean Bima.


"Okay, back to topic. Oom Bara, Tante Gendhis, saya sudah jatuh cinta dengan Arimbi sejak pertama kali bertemu enam tahun lalu pada saat usia saya 17 tahun. Dan saya bertekad untuk akan menjadi pendamping Arimbi di masa depan dan sekarang saatnya. Oom Bara dan Tante Gendhis, ijinkan saya meminang putri anda berdua yang bagi saya adalah satu-satunya wanita idaman saya.


Saya bukan pria sempurna, saya banyak kekurangan bahkan saya sering membuat Oom Bara dan Opa Ghani darting dengan saya tapi saya sangat menghormati anda. Selama ini, saya yang tidak pernah merasakan memiliki ayah karena...yah kalian tahu storynya dan hanya Oom Radit yang selalu bersama saya, seolah mendapatkan sosok ayah di anda berdua." Prayogha tersentuh mendengar ucapan Bima yang sangat kesepian dan mencari sosok ayah ke Ghani dan Bara. Keluarga Giandra pun terharu mendengar ucapan Bima.


"Saya beruntung memiliki kekasih dan calon istri Arimbi karena dengan mengenal keluarga Arimbi, saya bisa mendapatkan rasa hangat dan guyub sebuah keluarga. Disaat saya mengalami musibah, kalian semua tanpa ragu menolong saya" Bima sedikit tercekat. "Dan saya bersyukur akan semua karunia yang Allah berikan kepada saya."


Bima mengusap matanya yang mulai berembun. "Ucapan terimakasih kepada keluarga besar klan Pratomo mungkin tidak cukup tapi saya benar-benar berterima kasih atas semuanya dan saya berterima kasih bahwa saya diterima di keluarga kalian, saya memiliki banyak saudara yang meskipun jatuhnya saya ipar, tapi kalian semua menerima saya dengan hangat. Dan saya berterimakasih, kalian bisa menerima dan memaafkan papa saya meskipun memang membutuhkan waktu.


Oom Bara dan Tante Gendhis, saya berjanji saya akan selalu membahagiakan Arimbi, melindungi, menyayangi dan membuatnya selalu tersenyum seumur hidup saya mendampinginya." Bima menatap serius ke Bara dan Gendhis. "Jadi, sah kan diterimanya?" cengirnya.


"Astagaaaaa, Bimaaaa!" teriak Bara kesal.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Acara darting masih berlanjut nanti


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2