
Bima dan Bara masih saling menatap seperti dua ekor singa yang sedang memindai kelemahan masing-masing. Arimbi tersenyum melihat papi dan kakak kelasnya. Gadis remaja itu salut kepada Bima yang di usianya masih belia tapi berani menghadapi papi dan opanya hanya demi restu akan menikahinya bila sudah dewasa.
"Kamu bisnisnya buka bengkel kan?" tanya Bara.
"Belum sebesar perusahaan Oom tapi nanti akan mendekati" ucap Bima yakin. "Kok Oom tahu aku buka bengkel?"
"Tahu lah! Tanya Rina" sahut Bara cuek.
"Lho ada Bima. Baru datang nak?" Arum tampak masuk ke dalam rumah masih membawa tas dokter dan sneli di tangannya.
"Nggak Tante, udah sewindu disini" senyum Bima sambil mencium tangan Arum.
Arum tertawa. "Kamu tuh lucu!"
"Nggak lucu, Gendhis! Dia mah njelehi!" cebik Bara.
"Duh Oom, jangan bilang saya njelehi dong!" pinta Bima memelas.
"Lha terus apa?" pelotot Bara.
"Ngangeni" cengirnya yang membuat Arum dan Arimbi terbahak.
"Sudah-sudah, kamu pulang saja! Bikin naik tensi saya!" Bara pun berdiri dan merangkul Arum masuk ke dalam ruang tengah. "Rimbi, suruh anak njelehi itu pulang!"
Arimbi tersenyum mendengar papinya ngomel-ngomel. Sudah lama dia tidak mendengar kejulidan sang papi soalnya Hoshi di New York. Putra Oom Levi itu casingnya saja keren, tapi mulutnya sama saja sama Papa dan Opa Eiji.
Selama liburan ke Jakarta, setiap hari papi dan Hoshi ribut bahkan hal sepele pun dibikin ramai. Hoshi lebih tua setahun darinya dan sekarang sudah lolos ujian masuk Harvard Business School untuk tahun depan.
"Arimbi" panggil Bima.
"Iya kak?" tanya gadis itu.
"Kalau besok pagi aku jemput berangkat sekolah, mau nggak?"
Arimbi menatap Bima. "Maaf kak, aku sudah biasa diantar papi dan lagipula nanti fans kakak pada julid sama aku."
"Biarin saja mereka julid! Macam-macam kan tinggal kakak hajar!" dengus Bima.
"Nggak usah kak. Repotin kakak nanti" senyum Arimbi manis.
"Aku nggak merasa direpotkan kok!" Bima menatap mesra ke Arimbi yang wajahnya sedikit memerah.
"Eh bocah! Pulang gih!" seru Bara yang keluar kamar bersama Arum yang tertawa melihat kejulidan suami dan remaja laki-laki itu.
"Iiihhh si Oom mah gitu! Lihat saja Oom nanti kalau aku sudah jadi menantu Oom, kita bakalan jadi partner in crime!" balas Bima tidak mau kalah.
"Eh, bocah tengil!"
__ADS_1
"Dalem Oom. Kulo mboten tengil, nanging kulo limited edition" cengir Bima yang membuat Arimbi tertawa melihat ekspresi berbeda antara Bara dan Bima.
"Princess, sana seret dia pulang! Kalau perlu todong pakai Glock mu!" Bara lalu berbalik tapi mendapatkan pukulan dari Arum.
"Mas tuh! Anak orang kok ditodong sih!" omel Arum.
Bima melongo mendengar ucapan Bara.
"Todong? Glock? Maksudnya apa Arimbi?" tanyanya bingung.
"Nggak papa. Papi kan biasa kalau julid sukanya asal bicaranya" senyum Arimbi. Dia tidak mau orang lain tahu bahwa bisa menembak dan pencak silat.
"Aku pulang dulu ya Rimbi. Pamit dulu deh sama Oom Bara dan Tante Gendhis."
Arimbi mengangguk dan berdiri bersamaan dengan Bima. Gadis itu berjalan mendahului Bima dan harum parfum lembutnya tercium melalui hidung mancung remaja itu. Ya ampun, kamu pakai parfum apa sih? Baunya enak banget!
"Papi, Mami, kak Bima mau pamit pulang" ucap Arimbi ke arah kedua orangtuanya yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton TV.
"Akhirnya pulang juga kamu bocah!" ledek Bara.
"Pulang lah Oom tapi bakalan kesini sambil bawa seserahan nanti pas pada waktunya" cengir Bima sambil mencium punggung tangan Bara dan Arum takzim.
"Astaghfirullah!" Bara langsung memegang pelipisnya. Arum dan Arimbi cekikikan melihat kedua pria itu ribut sendiri.
***
Arimbi mengantarkan Bima menuju motornya yang terparkir di depan garasi.
"Yang mana?"
"Aku tahu yang hitam itu Sei Giorni. Itu punya Oom Bara ya?" tanya Bima memastikan.
"Bukan, punya Opa Ghani, yang pink punya Oma Alexandra. Kalau yang biru tua punya papi, yang krem punya mami."
"Kalian suka sunmori?" tanya Bima. Bisa ikutan dong! Itung-itung pedekate sama calon mertua.
"Jarang sih tapi kadang kita pergi ramai-ramai sama Opa Raka dan Oom Gasendra." Arimbi menatap Vespa milik papinya.
"Eh, minta nomor ponselmu dong! Masa nggak punya nomor ponsel calon istri" cengir Bima.
"Hah? Calon istri? Yakin sekali dirimu kak" kekeh Arimbi.
"Yakinlah! Kalau di cerita Mahabarata kan Arimbi yang ngejar-ngejar Bima tapi Bima nggak mau karena dia masih berbentuk raksasa. Begitu Dewi Kunti bilang harus ganti wujud, jadi gadis cantik baru Bima doyan" Bima mendengus. "Dasar pria, yang dilihat fisik dulu!"
Arimbi tertawa. "Kak Bima kan pria, lihat aku pertama kan juga fisik dulu."
"Tapi kan kamu bukan raksasa sebelumnya, Rimbi." Bima tersenyum melihat gadis cantik di hadapannya. "Ohya, ngomong-ngomong Hoshi tuh siapa?"
__ADS_1
Arimbi terkejut. "Kok tahu Hoshi?"
Bima mengambil ponselnya. "Ini foto kamu waktu tersenyum, taken by Hoshi."
"Oh, dia sepupu aku yang tinggal di New York dan aku sudah janji akan masuk Harvard bersama dia. Aku lagi menunggu hasil ujian masuk karena aku kan memang ambil kelas akselerasi SMA ini. Jadi tahun depan langsung ke Harvard."
Bima menatap Arimbi dengan tatapan sedih. "Serius kamu mau masuk Harvard?"
Arimbi mengangguk. "Rencananya ambil jurusan Teather, Dance and Media karena basic aku di tari."
"Serius kamu mau meninggalkan aku, Rimbi?" Bima mulai mendekatkan wajahnya ke wajah cantik itu.
"Eh? Kok kakak makin dekat sih?" tanya Arimbi yang mulai mundur selangkah.
"Sedih hatiku mendengar kamu akan meninggalkan diriku, Arimbi" ucap Bima dramatis.
"Lho kan kakak juga lulus duluan, terus kuliah juga" senyum Arimbi.
"Iya, tapi aku kan kuliahnya disini saja. Dah, kamu jangan pergi ke Harvard!"
"Maaf kak Bima, tapi keputusan Arimbi sudah bulat."
Bima hanya menunduk dan bahunya pun turun. "Masih ada waktu bisa mengantar jemput kamu. Jangan menolak!"
"Nggak bisa kak, aku tidak mau diantar jemput sama kakak." Arimbi tetap tidak mau karena dirinya malas menghadapi kekepoan para pemuja Bima di sekolah.
"Eh bocah! Belum pulang-pulang?" teriak Bara judes dari teras rumah.
"Ini juga mau pulang papi mertua!" balas Bima cuek.
"Eh? Enak saja! Kembali ke panggilan semula!"
"Pareng Oom Bara" pamit Bima. yang segera memakai helm full face nya. "Kak Bima pulang dulu" ucapnya sambil naik motor Kawasaki nya.
"Hati-hati."
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam."
Arimbi hanya tersenyum geli melihat mata Bima yang saling menatap judes ke Bara. Pria oh pria.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️