
Bara datang ke rumah sakit tempat Arum bekerja dan lagi-lagi dia harus menunggu pasien yang mengantri di ruang praktek tunangannya. Para pasien yang masih mengantri, diam-diam melihat pria itu dan mengelus perutnya berharap anaknya bakalan ganteng seperti Bara. Entah mitos atau bukan sih tapi ngarep kan boleh.
Bara bukannya tidak tahu kalau para calon ibu itu melakukan hal yang menurutnya proses pensugestian diri padahal itu kan tergantung gen dan bibit plus DNA nya. Bara teringat cerita Necan Dara ketika menemani mamanya di rumah sakit gara-gara Danisha sakit amandel dan harus opname.
"Dulu waktu Necan hamil papamu, kita kan kontrol di rumah sakit dan saat antri, hampir semua ibu-ibu hamil itu minta Ogan mengelus perutnya supaya anaknya ganteng kayak Ogan. Tentu saja Oganmu mendelik" kekeh Dara.
"Memang pengaruh ya Necan?" tanya Bara yang waktu itu berusia delapan tahun.
"Mana Necan tahu" gelak Dara.
Dan sekarang melihat para calon ibu itu mencuri curi wajah Bara, pria itu jadi tahu perasaan Ogannya.
"Maaf mas. Kalau boleh tahu, mas mau periksa sama dokter Arum juga?" tanya seorang ibu-ibu.
"Hah? Oh nggak, saya menunggu dokter Arum selesai praktek" jawab Bara sambil tersenyum meskipun dia malas menyebut nama 'Arum' tapi gadis itu dikenal dengan nama Dokter Arum Pradipta SpOG disini.
"Masnya apanya dok Arum?" tanya ibu-ibu yang lain.
Bara hanya melihat para suami ibu-ibu itu yang merasa sebal istri-istrinya malah menghampiri Bara.
"Saya tunangannya dokter Arum" jawab Bara apa adanya.
"Waaaahhh kebetulan. Mas, bisa nggak elus perut saya kebetulan hasil USG kemarin anak saya laki-laki. Saya maunya punya anak cowok putih tapi sayang, suaminya saya hitam, saya sawo matang. Siapa tahu kalau dielus masnya bisa jadi putih" cengir ibu-ibu itu sambil menunjuk suaminya yang menurut Bara berkulit Indonesia.
"Emang ngaruh Bu? Kan gen dan bibitnya dari suami ibu?" senyum Bara.
"Iiihhh masnya lhoooo, permintaan ibu hamil tolonglah dikabulkan" rayu si ibu itu.
"Pak, apakah tidak apa jika saya mengelus perut istri bapak?" tanya Bara ke suami ibu itu.
"Nggak papa mas dari kemarin istri saya ribut minta ketemu mas supaya bisa elus perutnya daripada anak saya ngeces" ucap suami ibu itu.
"Nggak ngeces, ayah tapi biar putih!" protes istrinya.
"Kalau nanti lahirnya putih, kan bisa gegeran?" tanya Bara.
"Kan suami saya tahu saya minta anakku dielus biar putih sama tunangannya dokter Arum. Malahane mas, anakku putih sesuai request" senyum ibu itu.
Bara hanya melongo.
***
Arum tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Bara yang mengatakan dia harus menjadi baby whisperer dan rub Belly ibu-ibu yang sedang hamil agar bayinya tampan dan putih kayak Bara.
__ADS_1
"Emang ngaruh Dis kayak gitu? Kalau menurutku kan sesuai dengan gen nya tho?" tanya Bara sambil makan soto Betawi di kantin rumah sakit.
"Sebenarnya sih lebih ke mensugesti diri sendiri meskipun nantinya tidak sesuai ekspektasi tapi setidaknya sudah mencoba dan ngarep" kekeh Arum.
"Aku hanya takut diminta pertanggungjawaban membuat anaknya putih padahal kedua orangtuanya berkulit sawo matang" ucap Bara dramatis.
Arum semakin terbahak. "Berarti tangan mas Bara adalah bleaching soalnya bisa memutihkan anak."
"Hah? Kamu kira aku tuh kayak cairan pemutihan gitu? Haaaiissshhhh!" Bara makin manyun.
***
Pulang dari praktek, Bara sengaja mengajak Arum jalan-jalan ke sebuah mall di Jakarta Selatan untuk berbelanja berbagai barang untuk acara pernikahan. Meskipun semuanya diurus oleh WO dan EO bersama dengan Alexandra dan Luna, tapi Bara dan Arum tetap berbelanja di luar itu.
Pelan-pelan Arum mulai memindahkan beberapa barangnya seperti sneli, tas dokternya serta baju ops yang diberikan oleh Arjuna dan Arya sewaktu dia ulang tahun.
Alexandra yang meminta Arum mulai menyicil karena pesta pernikahan mereka akan dilakukan dua Minggu lagi. Semua undangan sudah disebar sejak Minggu lalu.
Mansion Giandra sendiri sudah mulai berbenah dengan mulai membereskan taman, mengecat ulang tembok-tembok yang mulai agak kusam.
Menurut rencana, keluarga besar akan datang seminggu sebelum hari H termasuk yang tinggal di Amerika Serikat dan Eropa. Mengingat banyaknya keluarga yang datang, klan Blair, McCloud, Al Jordan, Reeves yang memang memiliki rumah di Jakarta meminta untuk segera membersihkan semua mansion mereka termasuk rumah milik eyang-eyang mereka.
Arum sendiri sebenarnya tidak terlalu memikirkan soal barang-barang karena menurutnya semua masih bisa dipakai apalagi barang-barang yang di kotak seserahan masih utuh. Arum menolak penawaran Alexandra untuk ada seserahan lagi saat menikah karena menurutnya berlebihan.
"Beneran Dis, nggak mau tambah lagi?" tanya Alexandra.
"Benar tante. Jangan berlebihan meskipun saya tahu mas Bara keluarganya Sultan."
Dan kini, Bara dan Arum berada di mall untuk makan malam bersama setelah membeli beberapa keperluan keduanya.
"Mas, mas Sendra katanya bisa pulang Minggu depan dari Sydney" ucap Arum sambil membaca pesan di ponselnya.
"Syukurlah."
"Mantan diundang nggak mas?" tanya Arum.
Bara menatap Arum. "Penting?"
"Penting nggak penting sih" cengirnya.
"Nggak aku undang Dis, kan dia lagi hamil besar juga jadi pasti engap lah perjalanan jauh" sahut Bara.
"Mas kok perhatian engap di jalan?" goda Arum.
__ADS_1
"Hah? Mas tuh nggak ada pikiran macem-macem lho Dis" Bara memincingkan matanya.
"Iya aku tahu kok, cuma godain mas ajah" Arum cengengesan.
"Walah Gusti. Kene serius, kono cengengesan" omel Bara.
Arum terbahak. "Mas ketularan kak Fuji ya? Sok fasih bahasa Jawa."
"Haaaiissshhhh!" Bara terdiam ketika melihat dua orang bule yang sedang celingak-celinguk mencari tempat duduk. "Keia!"
Orang yang dipanggil Keia pun melihat Bara lalu melambaikan tangannya dan menarik pria bule itu.
"Bara Bere Bambang!" seru Keia Al Jordan sambil memeluk dan mencium pipi Bara. "Akhirnya ketemu juga!" Arum melongo melihat seorang gadis bule tinggi semampai dengan wajah cantik itu mencium dan memeluk tunangannya.
"Keia! Akhirnya ya. Halo, Ezra. Apa kabar?" sapa Bara sambil berjabat tangan dan berpelukan dengan pria bule tampan.
"Hai. Kamu pasti Gendhis. Halo, aku Keia Al Jordan Hamilton, adik Fuji Al Jordan dan ini suamiku, Ezra Hamilton" sapa Keia ramah sambil memeluk Arum.
"Halo, aku Gendhis. Akhirnya bertemu dengan adiknya kak Fuji" senyum Arum yang menerima jabatan tangan dengan Ezra.
Keempatnya pun duduk di meja Bara dan mulai memesan makanan. Arum tak lepas-landas menatap Keia yang menurutnya bak super model.
"Kamu kenapa?" tanya Bara.
"Jiwa insecure ku muncul. Benar kata mbak Sekar, sepupumu lebih pantas jadi supermodel dan aku paling pendek dari kalian semua." Arum memanyunkan bibirnya.
"Fisik boleh bak supermodel tapi aku demen petai lho" bisik Keia yang langsung mendapatkan wajah sumringah Arum.
"Bule selera lokal, aku padamu!" seru Arum yang disambut tawa Keia.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Maaf hari ini agak tersendat Up nya
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1