Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Acara Lamaran di rumah Pradipta


__ADS_3

Terkadang penampilan menipu isinya. Bara Giandra bukanlah tipe orang yang memamerkan kekayaan milik keluarganya. Arum Satu hanya melihat satu sisi saja tanpa melihat keseluruhan. Ayahnya memang baik tapi anaknya belum tentu. Don't we often hear that?


Bara melihat bagaimana kotak-kotak seserahan yang akan dibawanya hari ini ke rumah Raka Pradipta dalam acara lamaran dirinya kepada Gendhis Arum Pradipta secara resmi tersusun rapih di ruang tamu menunggu dimasukkan ke dalam mobil Alphard hitam milik Maira Harsaya Ramadhan.


Iwan dan Danisha bersama putra mereka Ega sudah datang ke Jakarta demi acara lamaran ini. Gozali, Maira dan Arya pun sudah siap, begitu juga Savitri dan Jaehyun bersama putra mereka Nathan Kim yang terbang dari Singapore bersama dengan Fuji Al Jordan tanpa Seira Hayami yang sudah kembali bekerja di Tokyo.


Javier dan Agatha Arata datang bersama Davina dan Ali Khan mengesampingkan urusan mereka yang belum selesai. Joshua Akandra dan Miki Al Jordan bersama Josephine dan Mario serta Marissa dan Marco pun datang. Darren dan Luca, kedua cucu Joshua pun turut serta.


Memang belum semua anggota keluarga lainnya ikut karena mereka akan datang pada saat hari H nya. Ghani dan Alexandra memaklumi akan hal itu apalagi yang domisili di Amerika Serikat dan Eropa.


Kini sepuluh mobil mewah milik keluarga Sultan itu sudah siap di halaman mansion untuk membawa rombongan dan seserahan.


Danisha yang melihat barang-barang yang diminta Arum sama dengan seleranya dan sang mama hanya tertawa.


"Pantas Arum yang ini bisa klop sama aku dan mama, wong seleranya sama" kekeh Danisha ketika melihat make up dan parfum yang ditata cantik sesuai dengan request.


"Itulah mama juga ketawa pas dengar mintanya apa" senyum Bara.


"Selamat ya mas. Akhirnya mas Bara menemukan tambatan hati yang jauh lebih baik dari kemarin." Danisha memeluk kakaknya.


Malam ini keluarga tidak memakai seragam namun kebaya atau gaun yang nuansanya bewarna sama yaitu biru navy. Ghani dan Alexandra tidak mau terlalu pakem karena yang penting lancarnya acara Bara.


Bara mendelik ketika Arum mengantakan hari ini dia tidak memakai kebaya melainkan baju tradisional Philipina Maria Clara. Tentu saja para anggota keluarga hanya tersenyum mendengarnya.


"Kamu tuh kayak ga hapal Gendhis saja. Sukanya aneh-aneh" kekeh Ghani.


"Yang penting sekarang berangkat lah!" ucap Bara yang malam ini memakai suit hitam.



***


Rombongan sampai di sebuah rumah mewah di daerah Pulomas dan disambut para keluarga Pradipta yang antusias dengan kehadiran rombongan Sultan yang bisnisnya tersebar di seluruh dunia.


Raka dan Luna Pradipta menyambut calon besan mereka Ghani dan Alexandra Giandra dengan ramah, begitu juga pasangan pengantin baru Gasendra dan Rani yang menyambut bossnya.


"Mari silahkan pak Ghani, Bu Alexandra" Raka mempersilahkan para tamu masuk ke dalam rumahnya yang mewah. Keluarga besar Ghani tahu bahwa keluarga Pradipta juga memiliki bisnis batubara di Kalimantan serta beberapa resort di area Jawa Tengah.


Setelah berbasa-basi sebentar, Luna menjemput Arum untuk ikut bergabung dengan keluarga di ruang tamu dan tengah yang sudah disulap menjadi ruangan yang luas.


Bara menahan nafas melihat Arum yang datang benar-benar memakai gaun Maria Clara khas negara Philipina. Wajah gadis itu tampak cantik dan aura bahagia muncul dengan sendirinya.


__ADS_1


"Cantik" bisik Bara yang mulutnya sedikit menganga.


Danisha bersama Josephine dan Marissa tersenyum melihat calon iparnya yang memang pantas memakai gaun itu bukannya kebaya.


"Wah, benar-benar acara lamaran ini nuansanya internasional ya Pak Raka" komentar Ghani yang tersenyum melihat gaun pilihan calon menantunya.


"Gendhis memang suka cari yang praktis" kekeh Raka.


Acara lamaran pun berlangsung lancar termasuk tukar cincin dan perkenalan kedua keluarga besar. Setelah menghitung hari, acara pernikahan antara Bara dan Ghendis akan dilaksanakan tiga bulan ke depan. Baik Raka maupun Ghani pun menyetujui karena semuanya sesuai dengan hitungan tanggal lahir dan weton keduanya.


Usai acara, kedua keluarga pun memulai menyantap hidangan makan malam.


"Lagi-lagi punggungnya terbuka kamu, Dis" omel Bara.


"Bilang Suzanna lagi, tar ta suruh gangguin mas Bara" cebik Arum manyun.


"Tapi aku surprise lho Dis, kamu milih gaun Maria Clara begini" komentar Marissa.


"Aku tuh punya mbak, tapi nggak pernah ta pakai. Terus aku bilang sama papa kalau ta pakai acara lamaran gimana? Sekali-kali anti mainstream gitu, eh papa kasih. Soalnya tahu aku dan suka kesrimpet kalau pakai kebaya" gelak Arum.


"Wong Jowo kok iso kesrimpet jarik kiiee diragukan darah Jawamu, Dis" komentar Josephine yang malam ini memang memakai kebaya bewarna biru navy kembaran dengan Marissa.


"Wah nek ngene aku ora iso bedakno mana mbak Jo mana mbak Marissa" seru Arum melihat dua saudara kembar itu karena keduanya sama-sama memakai kebaya kutu baru.


"Ih, Fuji ga asyik!" protes Josephine sambil memukul pelan bahu kakak sepupunya.


"Rencananya konsep pernikahan besok apa?" tanya Iwan yang datang sambil menggendong Ega dan memeluk Danisha.


"Garden saja ya mas Bara, biar ga ribet" ucap Arum sambil memandang Bara yang tentu saja membuat semua keluarga klan Pratomo tertawa.


"Beneran deh Rum, kamu cocok masuk di keluarga kita" komentar Mario yang membawakan minuman untuk Josephine.


"Kenapa bang?" tanya Arum bingung.


"Keluarga besar kita sukanya garden party" seru semuanya.


"Wah! Sip jos gandos lah!" gelak Arum bahagia diterima di keluarga besar Bara.


***


"Kayaknya Gendhis mau konsepnya garden party jeng Alexandra" ucap Luna kepada calon besannya.


"Pas lah mbak Luna, soalnya keluarga besar kami sukanya memang garden party karena yah, mbak kan tahu sendiri. Bisa satu RW jika kami kumpul" kekeh Alexandra.

__ADS_1


"Iya lho jeng. Saya sampai bingung tadi siapa saja yang rawuh" gelak Luna.


"Untung Gendhis sudah mulai hapal keluarganya Bara tapi memang yang di Amerika belum semuanya bertemu."


"Dulu kayak apa ramainya jeng?"


Alexandra tertawa. "Rusuh mbak. Waktu adiknya mas Daniswara menikah, kami ndilalahnya bisa kumpul semua lengkap. Ampun deh mbak, nggak yang sepuh nggak yang muda sami mawon. Jadi boleh dibilang nggak ngundang tamu saja sudah penuh orang padahal baru keluarga."


"Aku tuh salut lho sama keluarga dari klan Pratomo, didikannya bagus bahkan sampai generasi keempat ya jeng?"


Alexandra mengangguk. "Leres, Bara dan Danisha itu generasi keempat."


***


Arum melihat cincin tunangannya yang memiliki satu mata berlian besar di bawah sorotan lampu di meja makan.



"Kenapa cincinnya?" tanya Bara yang duduk di sebelahnya sedang menikmati hidangan.


"Berliannya kebesaran" gumam Arum yang membuat Bara melongo.


"Bukannya perempuan paling suka berliannya besar?" tanya Bara bingung.


"Aku mah lebih suka emas batangannya yang besar soalnya harga emas tuh pasti, kalau berlian kan nggak semua paham harga" celoteh Arum.


"Ya ampun Dis" kekeh Bara.


"Aku bukan matre lho mas, hanya realistis harga" cengir Arum.


Bara hanya bisa terbahak. "Dasar calon emak."


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Insyaallah Davina bisa launching secepatnya. Kalau nggak malam ini ya besok pagi.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2