
Alexandra akhirnya bisa menggantikan baju Davina dengan daster baru yang memang tersedia di mansion Giandra. Alexandra meniru Necan Dara yang terbiasa menyimpan banyak daster dan piyama baru karena seringnya keluarga yang menginap di mansion.
Pelan-pelan Alexandra keluar kamar tamu yang dulunya bekas kamar opa Antasena. Wajah Oma satu cucu itu tampak kusut dan sedih. Ghani dan Bara yang melihat wajah istri dan mamanya bingung.
"Lexa, ada apa?" tanya Ghani khawatir. Perasaannya tidak enak melihat ekspresi Alexandra.
"Mas Daniswara, tampaknya Davina habis...aku bingung mengatakan tapi aku minta kalian tenang ya. Harus cari buktinya" Alexandra menatap dua pria di hadapannya.
"Apa yang terjadi dengan Davina, Ma?" tanya Bara tidak sabar.
"Ada ... beberapa kiss Mark di tubuh Davina" jawab Alexandra pelan.
Ghani dan Bara melongo. "AAAPPAA??!" seru keduanya.
"Ssstttt! Jangan teriak!" desis Alexandra.
"Haduh! Siapa yang melakukannya?" Ghani mengusap wajahnya kasar. "Javier bisa membunuh orang itu!"
"Agatha pun!" timpal Alexandra mengingat ibu Davina itu menguasai krav maga.
"Apakah Ali Khan berani melakukan hal itu ke Davina?" gumam Bara yang membuat kedua orangtuanya menoleh.
"Pria India itu?" tanya Ghani. "Bukannya dia rekan bisnis Arjuna, kamu dan Davina?"
"Iya pa dan Ali memang naksir Davina."
"Kalau sampai berani dia seperti itu kepada Davina, cari mati!" desis Ghani.
"Tapi sebelumnya Ali sempat mengobrol denganku dan bilang dia akan menghormati Davina. Aku yakin dia tidak akan sebodoh itu melakukan hal menjijikkan dengan resiko bisnisnya auto bangkrut." Bara menatap ke kedua orangtuanya.
"Papa akan meminta Oom Gozali mencari rekaman CCTV hotel. Kamu jam berapa ngobrol dengan Ali?"
Bara melirik jam tangannya. "Tidak lama setelah kita datang sekitar jam setengah delapan lalu acara dansa jam delapan malam kan? Nah ketika aku dan Gendhis ke lantai dansa, aku tidak melihat Davina dan Ali di meja tempat kita duduk sebelumnya."
"Mas, jangan sampai keluarga besar tahu dulu. Kamu kerja diam-diam dulu sama Bang Gozali." Alexandra mengelus bahu Ghani.
"Aku telpon Gozali sekarang mumpung jejaknya masih hangat." Ghani mengambil ponselnya dan menghubungi Gozali.
***
Setengah jam kemudian Gozali datang sendirian tanpa Arya karena Ghani tidak mau banyak orang tahu dulu.
"Siapa yang berani melecehkan Davina? Kenapa dia tidak melawan?" Gozali tampak kesal mendengar keponakannya mengalami hal buruk seperti itu.
__ADS_1
"Kita harus ke hotel Goz sekarang sebelum rekaman itu dihapus."
"Kita berangkat sekarang. Kalaupun sampai terhapus, kita hubungi Abian." Gozali dan Ghani masuk ke dalam Range Rover milik Gozali menuju hotel tempat pesta pernikahan antara Gasendra dan Rani berlangsung.
***
Alexandra dan Bara memutuskan menunggu Ghani dan Gozali di ruang tengah sembari nonton tv meskipun akhirnya tv yang menonton mereka karena ibu dan anak itu tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
Bara mengingat kembali ekspresi Ali Khan saat bertengkar dengan Davina. Ekspresi mencoba melindungi Davina bukan melecehkan. Bara tidak mau mengambil kesimpulan sebelum papa dan Oomnya datang.
Jam dua pagi, kedua pria bersaudara angkat itu datang dengan wajah emosi. Alexandra dan Bara sudah hapal dengan ekspresi Ghani yang saat itu juga ingin makan orang.
"Bagaimana?" tanya Alexandra ke arah kedua pria seumuran itu.
"Bukan Ali Khan."
Bara dan Alexandra melongo. "Lalu siapa?"
Gozali mengeluarkan sebuah foto dari hasil CCTV yang memperlihatkan seorang pria Asia yang asyik mencumbu Davina dan setelahnya pria itu ditarik oleh Ali Khan. Pria itu diberikan bogem oleh Ali dan didorong keluar dari pintu darurat.
"Astaghfirullah Al Adzim" bisik Alexandra sedangkan Bara memalingkan wajahnya tidak tega melihat adiknya dilecehkan seperti itu.
"Ini siapa mas?" tanya Alexandra.
***
Keesokan harinya, Ali Khan sudah sampai di mansion Giandra pukul tujuh pagi. Ghani dan Bara mengajak pria itu ke ruang kerja miliknya yang sebelumnya milik Abi.
"Jelaskan pada kami, apa yang terjadi semalam?" tanya Ghani dengan menatap tajam ke arah pria India itu.
"Oom Ghani, Bara. Sebelumnya saya minta maaf saya lalai menjaga Davina. Saya memang mengantarkan Davina ke kamar kecil tapi saya juga ingin ke belakang. Setelah saya selesai, saya menunggu Davina tapi tidak muncul-muncul. Lalu saya mendengar suara aneh-aneh di dekat pintu darurat dan saya melihat pria itu melecehkan Davina."
"Kenapa Davina tidak melawan? Bukannya dia menguasai krav maga?" tanya Bara.
"Dia dibius, Bara, old style, chloroform. Masih beruntung bukan date rape drugs sebangsa GHB atau rohypnol meskipun efeknya sama-sama membuat tidak sadar." Ali Khan menatap kedua ayah dan anak itu.
"Apakah kamu mengenal pria itu?" tanya Ghani. "Sepertinya dia orang Korea atau Jepang ya."
"Saya tidak mengenalnya tapi tampaknya dia juga salah satu tamu undangan karena ada gelang khusus tamu undangan di tangannya."
Ghani menatap Bara. "Tampaknya Papa harus minta bantuan Oom Abian kalau begini."
"Jadi kamu selama itu menemani Davina sampai dia sadar?" tanya Bara memastikan meskipun dia dan Ghani tahu Ali tetap menemani Davina di tangga darurat sampai dia sadar. Selama itu Ali tetap memeluk Davina, tidak melakukan apapun, hanya menepuk pipi gadis itu agar segera sadar.
__ADS_1
"Iya. Aku tidak mungkin membawanya dia keluar tanpa dilihat banyak orang." Ali Khan menunduk.
Bara memegang pelipisnya. "Haaaahhhh! Aku kesal sekali!"
"Oom Ghani, maafkan saya" Ali Khan menatap Ghani. "Saya akan menghadapi Oom Javier agar tidak menghajar Davina. Bukan salah Davina. Salah saya yang tidak bisa melindungi putri Oom Javier padahal saya sudah diberikan mandat."
"Masalah Javier, biar nanti Oom yang urus. Sekarang yang penting kita harus cari tahu siapa yang melakukan hal itu ke Davina!"
***
Davina terbangun dan melihat tatapan sedih Alexandra ke dirinya.
"Tante..."
"Masih pusing?" tanya Alexandra lembut.
"Sedikit...Tan." Davina terkejut melihat dirinya sudah berganti pakaian. "Tante...?"
"Iya, Tante semalam yang menggantikan gaunmu. Siapa yang melakukannya, Vina?"
Davina memalingkan wajahnya dan mulai menangis.
"Vina, di ruang kerja Oom Ghani ada Ali Khan yang menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjagamu sesuai permintaan papamu. Bantu Oom Ghani mencari tahu siapa pria itu, sayang." Alexandra mengelus kepala Davina lembut. "Tante masih bisa jamin orang itu bisa selamat kalau kamu memberitahukan sekarang tapi tidak menjamin kalau mereka mencari tahu sendiri. Kamu tahu kan bagaimana keluarga besar kita?"
Davina mengangguk.
"Ingat Jimmy? Mantan tunangan Keia? Bagaimana nasibnya sekarang? Tidak ada yang mau menerimanya di seluruh dunia meskipun dia lulusan Harvard karena dia berani selingkuh dari Keia. Masih bagus hanya itu daripada disunat sampai habis meskipun kita semua tahu sepupumu ingin melakukannya."
Davina semakin terisak.
"Beri tahu Tante, Vina karena kami semua tidak mau papamu turun tangan" bujuk Alexandra.
Davina terdiam.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1