Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Arga si Tukang Ngiler


__ADS_3

Anarghya melihat kakak iparnya dengan santainya duduk di belakang meja kerjanya sedangkan Jono masih sibuk mengurus beberapa mobil yang masuk ke dalam bengkel Bima.



"Mas Bima" panggil Arga setelah menyapa para pegawai bengkel yang mengenalnya sebagai adik ipar si pemilik bengkel.


Bima pun menoleh. "Hei dik. Gimana semalam? Jadi berantem?"


Arga duduk di depan kursi meja kerja kakak iparnya. "Nggak lah. Alhamdulillah. Bisa diomeli tujuh turunan aku sama Oom Nathan dan Oom Fuji nanti" gelak Arga karena tahu rumah sakit PRC group itu sekarang dikelola oleh kedua orang itu.


"Cih, sayang banget nggak jadi gelut!"


"Yaelah mas, mbak Rimbi lagi hamil kok malah mikir gelut" sungut Arga.


"Mbak mu juga pengen gelut tahu, eh untungnya aku bisa ajak gelut di kamar" gelak Bima tanpa filter.


"Astaghfirullah Al Adzim! Rusuh bambaaaaannggg! Aku masih polos maaaasss!" Arga memegang pelipisnya pusing mendengar ucapan unfilter minus akhlak kakak iparnya.


"Tapi kamu kan anak kedokteran dik, tahulah proses pembuatan manusia" ucap Bima.


"Proses meneruskan garis keturunan. Mbok pakai bahasa yang enak kenapa sih mas?" Arga semakin pusing apalagi dia kurang tidur semalam.


"Intinya kan sama saja dik... Lho kamu mau kemana?" Bima melihat adiknya main ngeloyor masuk ke kamar sebelah ruang kerjanya.



"Numpang tidur. Ngantuk aku!" jawab Arga cuek yang langsung membuka sepatu dan jaketnya lalu naik ke tempat tidur milik Bima. Tak lama Bima mendengar suara dengkuran halus dari kamar tidurnya dan pria itu menutup pintu kamar tidurnya membiarkan adik iparnya beristirahat.

__ADS_1


Suara ponsel Bima berbunyi dan pria itu tersenyum.


"Assalamualaikum mami" sapa Bima.


"Wa'alaikum salam. Bim, Aga disana kah? Kata Opa Ghani, Aga belum pulang" ucap Arum.


"Dik Arga disini mami. Semalam banyak kejadian dan sekarang dia tidur di kamar tidur aku di ruang kerja. Kasihan dia tampak capek sekali."


"Ya sudah, mami ayem kalau Aga disana. Tolong jagain ya, tugas Co as Aga makin banyak soalnya." Arum tahu putranya memang cerdas jadi dia mengebut kuliahnya dan akibatnya waktunya habis untuk belajar.


"Iya mami. Mami jaga kesehatan juga ya. Besok Sabtu kita kontrol cucu mami" jawab Bima.


"Oke Bim tapi mami harap, cucu mami tidak seslengean dirimu atau seasal mami" ujar Arum serius.


"Memang kenapa mami?"


"Kamu mau papi Bara dan Ogan Ghani darting tiap hari seperti ketemu sama kamu?"


***


Arimbi pulang dari kantor PRC group terkejut melihat adiknya tidur nyenyak sekali.


"Dari jam berapa dik Arga tidur disana?" tanya bumil cantik itu.


"Arga datang jam satu siang... Hampir empat jam kayaknya. Sampai skip makan siang dan sholat dhuhur. Tadi aku sudah mencoba membangunkan tapi dia kebluk kayak kebo dan tampaknya tugas menjadi dokter melelahkan jadi ya sudah, aku biarkan saja. Soalnya seperti orang tidak tidur berhari-hari."


__ADS_1


Arimbi mendekati adiknya dan perlahan menggoyangkan bahunya.


"Dik, bangun. Sudah sore ini dah mau jam lima" panggil Arimbi lembut.


"Bentar...lagi maaaaa. Masih ngantuk..." gumam Arga.


"Kamu mau sampai kapan tidur di kamar kerja mas Bima?" kekeh Arimbi.


Mata Arga terbuka. "Mbak... Memang aku tidur dimana?" gumamnya masih mode belum menyatu jiwa dan raga.


"Di bengkelnya mas Bima. Ayo bangun, nggak ilok tidur mau Maghrib."


Anarghya pun bangun dan tak lama Bima berteriak.


"Argaaaaa! Kenapa elu ngiler iniiii!" Bima menunjukkan bekas air liur di bantal dan guling yang dipeluk Arga tadi.


Anarghya hanya nyengir. "Sorry!"


***



Dua Kakak beradik Arimbi dan Anarghya Giandra


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2