
Bima menatap Bara dan Ghani yang hanya menunggu jawaban pria itu. Sedikit susah payah dirinya untuk menelan salivanya karena dua ayah dan anak itu seperti hendak menginterogasi di kantor kepolisian meskipun ini di ruang tamu. Hawa dingin pun mulai terasa...Eh tapi dinginnya gara-gara pintu rumah dibuka lebar jadi angin malam semilir masuk ke dalam rumah.
"Well?" suara Ghani terdengar di ruang tamu yang hening itu sampai-sampai ada suara nyamuk nyasar pun terdengar sebelum mantan kapten NYPD itu bersuara.
"Saya memang sudah melamar Arimbi, Opa dan Oom Bara" ucap Bima menatap kedua pria paruh baya itu. Kedua pria yang dianggap sebagai pengganti ayahnya yang nyaris tidak pernah berhandai-handai dengannya. Dua pria yang Bima hormati selain Oom Radit.
"Terus?" Bara sekarang yang buka suara.
"Terus ya nggak belok Oom. Nabrak nanti" cengir Bima.
"Bimasenaaaa" desis Bara.
"Njih Oom. Kan aku niru Opa Ghani. Lamar berdua dulu baru ke orang tua" elak Bima.
"Posisi waktu itu kan Opa di New York, Ogan Abi dan Necan Dara di Jakarta, Bima. Kamu kan sama-sama tinggal di Jakarta!" protes Ghani.
"Sama saja Opa. Kan posisi Opa dan Oom Bara tadi kan lagi besuk Oma Luna dan Opa Raka" eyel Bima.
"Tapi kan tetap satu kota, Bambaaaaannggg" balas Bara.
"Lho Oom Bara, kok namaku diganti Bambang?" Bima mengambil dompetnya dan membukanya untuk mengambil KTP nya. "Masih Bimasena Rahadian Hermawan kok namaku. Rasanya kemarin barusan bancaan ganti nama masa harus bancaan maning."
"Ya Ampun! Bima!" Bara mulai jengkel dengan kekasih putrinya yang celakanya semakin kacau gara-gara kelamaan kumpul dengan para keponakannya yang durjana.
"Njih Oom. Mangke kulo bekta papa kagem dugi melamar ( Nanti saya bawa papa buat datang melamar )" jawab Bima kalem.
"Bagus! Kapan?" tanya Bara.
"Besok Oom. Kan pas hari Minggu dan papa masih di Jakarta jadi ngepasi tho?"
"Oom dan Opa tunggu besok malam jam tujuh!"
Bima mengangguk.
***
Minggu pagi, Bima dikejutkan dengan kehadiran Prayogha di rumah pribadinya yang bersebelahan dengan bengkelnya. Karena hari Minggu, otomatis bengkel tutup dan Bima santai saja karena rencananya sehabis duhur, hendak ke rumah Opa Raka dan Oma Luna.
"Papa? Kebetulan datang" sapa Bima ramah.
"Ada apa memang?" tanya Prayogha sambil masuk ke dalam rumah Bima dan melihat ada foto Arimbi di meja Konsul.
"Nanti malam ditunggu Oom Bara dan Opa Ghani" senyum Bima.
"Memang ngapain?"
__ADS_1
"Lamar Arimbi lah!" Prayogha melongo.
"Lha memang kamu bikin perkara apa Bim?" Prayogha melihat sebuah cincin di jari Bima yang biasanya polos. "Kamu sudah melamar Arimbi tanpa bilang Bara?"
Bima hanya menyengir lebar. "Oh Astaga!" Prayogha menepuk jidatnya. "Ya sudah, jam berapa nanti malam?"
"Jam tujuh malam pa." Prayogha mengangguk. "Papa kesini ada apa?"
"Temani papa besuk Arum, Bim. Mau?" Prayogha menatap putranya yang semakin mirip dengan dirinya waktu muda tapi sifat Bima dan dirinya sangat bertolak belakang.
"Tak apa aku temani tapi aku tidak mau masuk. Aku takut tidak bisa menahan emosiku nanti." Prayogha mengangguk paham.
Orang-orang jahat di sekitar mereka sudah mendapatkan akibatnya semua. Gavin harus mendekam di penjara selama sepuluh tahun dan lisensi advokat nya dicabut. Gracia dipenjara seumur hidup akibat perbuatannya dua orang meninggal dan dipastikan dia tidak akan bisa bebas. Arum sendiri dijatuhi hukuman yang sama dengan Gavin, sepuluh tahun tapi tampaknya hukuman yang sebenarnya sedang didapatkan.
"Beneran kamu mau menemani papa?" tanya Prayogha lagi.
"Iyalah tapi nanti habis duhur mau jemput Arimbi dan kita hendak ke rumah Oma Luna dan Opa Raka." Bima mengajak Prayogha untuk sarapan bersama. Pagi ini mereka sarapan nasi uduk yang dibeli Bima dekat bengkel.
"Pak Raka kenapa Bim?"
"Opa sehat tapi Oma Luna habis kepeleset jadi kakinya keseleo."
"Ya udah, nanti papa ditinggal saja Bim kalau waktunya tidak cukup. Papa suruh Ruslan jemput papa. Biar dia disini saja sembari menjaga rumahmu."
***
Bima dan Prayogha tiba di sebuah rumah sakit ibu dan anak tempat dimana Arum Banowati dirawat sesuai dengan permintaan dirinya yang hanya mau dirawat dokter Rani Jayati Pradipta meskipun Rani bukan dokter onkologi.
Bima menanyakan kepada bagian administrasi dan memberitahukan kamar tempat Arum dirawat. Keduanya berjalan menuju kamar wanita itu setelah mendapatkan informasi dan bertemu dengan Rani Pradipta.
"Lho Bima? Kok tumben kesini..." suara Rani terhenti ketika melihat Prayogha berada di belakang calon menantu keponakan.
Bima mencium punggung tangan Rani. "Menemani papa yang mau besuk mantan istrinya, Tante Rani."
"Selamat pagi dokter Rani. Perkenalkan saya..."
"Pak Prayogha, Monggo kalau mau besuk Bu Arum" senyum Rani. "Terus terang keadaannya tidak terlalu baik."
Prayogha tertegun. "Saya masuk dulu, dokter."
"Owh sebaiknya bapak pakai baju steril dulu." Rani memanggil suster yang mengikuti nya. "Suster Lora, tolong persiapkan pak Prayogha ya."
"Siap dokter."
***
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Tante?" tanya Bima setelah melihat Prayogha masuk ke dalam ruang rawat Arum Banowati.
"Sejujurnya Bim, Tante dan dokter Tatang, dokter onkologi nya, sudah hands up."
"Astaghfirullah Al Adzim." Bima beristighfar. "Semoga sudah insyaf ya tante."
"Insyaallah Bim. Beberapa hari ini tante lihat dia tidur sambil mendengarkan Al Qur'an di telinganya. Setidaknya hatinya tidak terlalu mati lah" ucap Rani. "Kamu gimana sama papamu? Much better?"
"Alhamdulillah Tan. Masih taraf belajar ikhlas menerima papa tapi semakin kesini, perasaan aku jauh lebih enak daripada memupuk dendam dan benci."
Rani menepuk punggung Bima. "Arimbi tidak salah memilih calon suami. Kapan melamarnya?"
"Sudah, tadi malam" cengir Bima yang membuat Rani terkejut.
"Lho? Kok nggak undang-undang?"
"Berdua dulu Tan, nanti malam papa baru mau ke rumah Oom Bara dan Tante Gendhis. Itu baru beneran."
Rani memeriksa ponselnya yang terdapat misscall dari Arum dan pesan nanti malam Rani dan Gasendra diminta ke rumah ada acara Arimbi dan Bima. "Lha ini Gendhis baru bilang soalnya ponsel Tante di silent."
"Datang ya Tan sama Oom Sendra."
"Bara nggak darting kamu main lamaran duluan?" kekeh Rani soal adik iparnya yang tidak akur dengan Bima. Arum suka cerita dengannya soal hubungan Bima dengan Bara dan Ghani.
"Lho, kan seru Tan bikin Oom Bara dan Opa Ghani darting. Mungkin itu salah satu tujuan hidupku" gelak Bima.
"Oh Astagaaaaa" keluh Rani sambil memegang pangkal hidungnya. "Tante merasa kamu itu mirip dengan Oom Duncan deh!" Rani memang pernah mendengar cerita dari Arum tentang Duncan dan Rhea.
"Kenapa Tan?"
"Kata Gendhis, dulu Oom Duncan juga sukanya bikin darting Ogan Abi."
"Siklus berulang ya Tan" kekeh Bima.
"Bukan siklus bikin darting orang, Bimaaaa."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1