
Arum menatap Bara yang sedang asyik memakan ayam crispy nya. Siang ini mereka makan bersama di sebuah restauran fast food dekat rumah sakit karena Bara ada meeting jam dua, sedangkan Arum ada jadwal operasi Caesar jam tiga. Sudah dua hari mereka kembali dari Solo dan kembali ke rutinitas.
"Mas Bara" panggil Arum.
"Apa Dis?" tanya Bara.
"Mas Bara... besok Sabtu ada acara nggak?" tanya Arum penuh harap. Bara menatap intens dan teringat bahwa hari Sabtu adalah ulang tahun Arum yang ke 28.
Kan kagak mungkin gue bilang tahu dia ultah gara-gara buka dompetnya pas ketinggalan kan?
"Sabtu Gadha acara kayaknya. Kenapa Dis?"
"Jalan-jalan yuk! Ke Mangrove atau kemana deh yang segar-segar. Aku bosan ke mall."
"Jam berapa mas harus jemput?" tanya Bara belagak pilon.
"Jam delapan pagi ya biar bisa seharian jalan-jalannya" senyum Arum.
"Jam tujuh gimana? Lebih pagi kan lebih enak" tawar Bara. "Mau naik apa? Vespa, Rubi atau RR?"
"Rubi ajah. Kan mau ke mangrove enak naik Rubi."
"Oke! Memang ada acara apa hari Sabtu besok?" tanya Bara santai.
"Pengen jalan-jalan ajah mas" cengir Arum.
"Baiklah. Mas jemput jam tujuh pagi ya" ucap Bara sambil tersenyum dan Arum mengangguk antusias.
Bara mencuci tangannya sedangkan Arum masih menikmati ayam goreng dan mendengar ponsel Bara berbunyi. Tampak nama 'Arjuna Junjun' di layarnya.
"Mas, ada telpon masuk" panggil Arum ke Bara yang posisinya tidak jauh dari tempat mereka duduk. Bara pun bergegas ke mejanya dan menggeser tombol hijau.
"Ada apa Jun?" tanya Bara setelah saling bertukar salam.
"Ra, aku hari ini perjalanan ke Jakarta sama Ali Khan mau ketemuan dengan Davina besok lalu lusa sama kamu. Bisa kan?" tanya Arjuna.
"Jiaahh kok dadakan cumi?" omel Bara.
"Biasa lah Ra, kalau nggak dadakan bukan Juna namanya" kekeh Arjuna tanpa beban.
"Nanti kamu nginap dimana?"
"Mansion Giandra lah. Kan rumah Opa sudah dijual karena tidak ada yang nempatin" kekeh Arjuna.
"Sama Ali Khan juga?"
"Kemungkinan. Kan lebih enak kalau kumpul semua di mansion?"
"Kamu bilang sama papa dan mama, minta ijin nginep di mansion" ucap Bara.
"Sudah dong! Auto boleh lah sama Oom Ghani" tawa Arjuna.
"Haaaiissshhhh! Kamu berdua atau Sekar ikut juga?"
"Sekar sama anak-anak di London sama papa dan mama. Jendra kan sudah mau kelas 1 SD jadi besok Sekar urus sekolah sama mama papa."
"Ya sudah, sampai ketemu nanti malam."
"Thanks Ra. Oh jangan lupa, weekend ketemuan ya, bawa Gendhis sekalian."
__ADS_1
"Tar aku bilang sama dia."
***
"Well? Itu sepupu mas yang katanya sama rusuhnya sama mas Levi dan kak Fuji?" tanya Arum.
"Iya. Malam ini sampai ke Jakarta bersama partner bisnisnya mau ketemu dengan Davina besok di PRC group lalu lusa di Giandra Otomotif Co. Kami kan memang ada kerjasama dengan perusahaan kain dari perusahaannya Ali Khan." Bara menatap Arum dengan muka menyesal. "Sabtu Juna minta ketemuan. Gimana Dis?"
"Meet up nya kan malam tho biasanya?" tanya Arum.
"Kurang lebih sama deh sama waktu ketemuan sama Fuji dan Davina. Paling juga nanti Arya ikut juga" jawab Bara. "Kan pagi kita bisa jalan-jalan dulu, Dis."
"Oke Mas."
***
Ghani dan Alexandra melongo melihat Arjuna datang bersama dengan pria India tampan. Keduanya datang setelah dijemput Bara di bandara Soekarno-Hatta dan kini berada di mansion Giandra.
"Oom, Tante. Kenalkan ini partner bisnis Juna, Ali Khan." Arjuna memperkenalkan pria tampan itu ke Ghani dan Alexandra.
"Ali Khan, Mr n Mrs Giandra" sapa Ali Khan ramah.
"Ghani dan ini Alexandra. Ayo makan dulu, biarpun sedikit" ajak Ghani ke Arjuna dan Ali Khan.
"Baik Mr..."
"Panggil Oom dan Tante saja seperti Juna, Ali" pinta Alexandra.
"Baiklah jika memaksa" senyum pria tampan berdarah India itu.
Bara hanya memandang kedua tamunya yang sekarang berjalan ke ruang makan itu dan mulai mengikuti.
"Ya?"
"Apa Ali Khan sudah menikah?" tanya Bara sambil berbisik.
"Duda cerai. Mau aku jodohkan ke Davina" cengir Arjuna.
"Hhhmm. Hati-hati Jun, kan kita tahu Davina seperti apa kakunya" kekeh Bara.
***
Ali Khan terkesima melihat Davina Arata yang pagi itu tampak cantik mengenakan blazer berwarna biru navy dan celana panjang senada. Mata hazel sendu milik gadis itu lah yang pertama kali membuat Ali tertarik.
"Halo Vina, apa kabar sepupuku sayang" sapa Arjuna sambil memeluk gadis berambut coklat panjang itu.
"Alhamdulillah baik, mas Juna." Davina menatap pria tampan itu dengan tatapan menyelidik. "Anda pasti tuan Ali Khan."
"Senang bertemu dengan anda Nona Arata" Ali mengulurkan tangannya dan disambut oleh Davina dengan senyum samar.
Cantik tapi dingin.
"Nice to meet you too, Mr Khan" jawab Davina datar.
Ali Khan tersenyum. Biasanya wanita akan klepek-klepek melihat senyumanku.
Davina hanya mengangguk dengan wajah datar. "Silahkan duduk gentlemen."
***
__ADS_1
Bara menunggu Arum selesai praktek karena ada pasien tambahan di ruang tunggu. Pria tampan itu mengenakan kemeja bewarna putih yang sudah digulung hingga ke siku, ditambah dengan aura leadership nya membuat banyak pasien yang menunggu mencuri-curi pandang ke arah Bara.
"Sudah lama ya mas?" suara merdu yang sudah sangat dihapalnya.
"Baru sepuluh menitan, Dis. Yuk berangkat." Bara pun berdiri dan menggandeng tangan Arum yang terkejut melihat perubahan pria tinggi itu.
"Kok tangan Arum dipegang mas Bara?" tanya Arum bingung.
"Kenapa? Gendhis malu jalan sama mas Bara?" pelirik Bara sedikit judes.
"Bukan mas tapi kok rasanya gimanaaaa gitu" kekeh Arum.
"Gimana, gimana?" tanya Bara bingung.
"Kayak orang pacaran" bisik Arum dengan wajah memerah.
"Kan kita memang sedang berkencan, Dis." Bara tersenyum ke Arum sambil membukakan pintu Rubicon hitamnya.
"Kita mau makan dimana mas?" tanya Arum setelah masuk ke dalam mobil.
"Restauran Jepang mau?" tawar Bara.
"Mau saja asal dibayarin" gelak gadis itu.
"Ya udah, restauran Jepang saja ya."
Mobil hitam itu sampai di sebuah restauran Jepang dekat kantor dan rumah sakit tempat keduanya bekerja.
Bara menggandeng Arum masuk ke dalam restauran dan mengambil tempat yang agak memojok. Keduanya pun segera memesan makanan apalagi para cacing sudah berdemo sejak tadi.
"Jadi mas Juna sudah sampai tadi malam?" tanya Arum setelah mereka selesai memesan makanan.
"Sudah, bareng rekan bisnisny, orang India bernama Ali Khan."
"Waaaahhh apa ganteng kayak Hrithik Roshan?" kerling Arum.
"Kamu suka film India?" tanya Bara.
"Isshh mas Bara kok gak jawab pertanyaanku sih?" cebik Arum manyun.
"Kamu lihat saja sendiri." Bara mengedikkan dagunya dan tampak dari pintu masuk, ada tiga orang dengan satu pria bule, satu pria India dan satu wanita bule.
"Itu yang namanya mas Arjuna? Cocok dengan namanya, cakep!" puji Arum yang membuat Bara manyun.
"Jangan muji pria lain di depanku, Dis" desis Bara. "Meskipun itu sepupuku sendiri."
Arum menoleh. Mas Bara sudah mulai posesif ih. Gemesiinnn!
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Maaf hari ini mungkin ga crazy up, aku tepar flu berat kehujanan.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️