Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Bima di Dojo


__ADS_3

Bima datang ke mansion Giandra setelah pulang sekolah namun kata penjaga rumah, gadis itu masih di Dojo. Hari ini adalah hari ketiga Arimbi dan Rina kena skorsing padahal besok hari terakhir Bima bisa mengantarkannya ke sekolah.



Setelah mengetahui alamat Dojo yang dimaksud, Bima segera memacu Kawasaki D Tracker nya menuju Dojo yang dimaksud.


Sesampainya disana, Bima mengenali mobil Rina ada disana dan sopirnya sendiri tampak tertidur di dalam mobilnya.


Setelah memarkir motor hitamnya, Bima pun turun dan berjalan masuk ke dalam Dojo. Disana sudah ada banyak orang yang melihat beberapa sedang bertanding.



Bima melihat banyak para orang asing disana, espatriat yang sibuk berlatih. Matanya berusaha mencari gadisnya dan Rina. Kemana gadisku itu? Bima sendiri bisa taekwondo bahkan sudah sabuk hitam dan 1 tapi dia merasa masih kalah dari Arimbi.


Akhirnya Bima melihat Arimbi maju ke tengah-tengah Dojo dan hendak melawan seorang pria bule yang lebih tinggi darinya. Bima sendiri sekarang tingginya 180cm sedangkan Arimbi sekitar 165 cm. Bima mengira-ngira pria bule itu tingginya sekitar 188cm.


Ya Allah gadisku emang bisa melawan pria besar itu?


Bima menahan nafas ketika Arimbi kena dorong oleh lawannya namun dirinya tidak jatuh, kuda-kudanya masih kuat dan dia menggabungkan jurus pencak silat dengan krav maganya. Ketika pria itu hendak menjangkau Arimbi, gadis itu melakukan pukulan menahan tangan pria bule itu lalu dirinya berputar dan menggunakan hukum gravitasi Arimbi mendorong tubuh pria itu setelah memberikan pukulan dengan sikunya. Keduanya pun jatuh dan Arimbi tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunci leher si bule itu.


Setelahnya mereka bangun dan saling memberikan hormat. Arimbi pun tersenyum kepada semua orang disana yang memberikan applaus, bahkan Rina memeluknya.


Senyum Arimbi menghilang ketika netra coklatnya bertemu dengan netra hitam Bima yang menatapnya kagum. Gadis itu pun menghampiri Bima dengan tatapan bingung.


"Kak Bima?" sapanya. "Ngapain kesini?"


"Eh si preman kok bisa nyasar dimari sih?" ledek Rina judes.


"Kangen tahu! Sepi nggak ada kamu sama si kutu ini" tuding Bima Rina.


"Enak saja bilang gue kutu! Dasar cacing kremi!" umpat Rina.


"Kamu kok nggak ke sanggar tari?" tanya Bima mengacuhkan Omelan Rina.


"Nggak kak, hari ini memang jadwal aku kesini sama Rina" jawab Arimbi sambil tersenyum.


"Arimbi!" panggil seorang pria berkebangsaan Jepang menghampiri ketiganya. "Siapa ini?"


"Ini kakak kelasku, namanya Bimasena. Kak Bima, perkenalkan ini Takei-sensei, guru krav maga aku."


Bima dan Takei saling berhadapan. "Kamu bisa taekwondo ya?" tanya Takei sambil tersenyum.


"Kok tahu?"


"Kelihatan gaya kuda-kuda kamu saat berdiri. Mau coba krav maga dengan ku?" tawar Takei.


Bima menoleh ke arah Arimbi. "Sana coba kalau pengen tahu seperti apa."


"Baiklah."


***


Bima terkapar setelah dihajar Takei. Semua gerakannya bisa terbaca oleh pria Jepang berusia tiga puluh tahun itu.


"Bagaimana?" cengir Takei sambil membantu Bima bangun.


"Gila! Ilmuku dibalik semua sama kalian" gumam Bima.


"Kamu baru bertemu krav maga, belum Eskrima seperti Arimbi."

__ADS_1


Bima melihat ke arah Arimbi dan Rina yang asyik mengobrol sambil melihat Bima dan Takei. "Arimbi dari mana bisa Eskrima?"


Takei terbahak. "Omanya kan jago Eskrima bahkan kadang datang ke Dojo hanya untuk latihan dan melatih."


"Oma Alexandra?"


"Bingo!"


Owalaahhh! Pantesan! Nggak heran gue kalau begini!


***


"Gimana krav maga?" tanya Arimbi.


"Menyenangkan!" senyum Bima.


"Baguslah! Kapan-kapan kalau kak Bima pingin berlatih, datang saja ke Takei-sensei. Ini Dojo dia soalnya" senyum Arimbi.


"Rimbi, aku ke kamar mandi dulu bentar ya" ijin Rina.


"Oke" sahut Arimbi sambil mengangguk dan Rina meninggalkan keduanya yang sedang istirahat bahkan Bima sampai melepaskan seragam sekolahnya meninggalkan kaus hitam yang menempel di tubuhnya.



"Kamu mengerikan ya Arimbi" senyum Bima ke gadis yang sedang mengelap keringatnya.


"Hahahaha... Gimana ya. Wajib bisa sih tapi aku suka. Makanya aku mengambil tari Jawa agar bisa mengatur emosiku. Karena bisa beladiri itu terkadang gatal pengen menghajar orang. Kemarin waktu dikeroyok, aku tidak mau melawan tapi kakak kelas menamparku! Kedua orangtuaku saja tidak pernah main tangan ke aku, kok dia seenaknya saja seperti itu! Memang siapa dia!" ucap Arimbi geram.



Bima menepuk kepala Arimbi. "Jangan bikin Arimbi ku marah, karena dia akan berubah menjadi raksasa."


"Ohya, apa maksud opa Ghani bahwa kamu bisa menembak?" tanya Bima bingung.


Arimbi menganga.


***


"Haaaahhhh?" Bima mendelik ketika mendengar penjelasan Arimbi bahwa dirinya bisa menembak. "Jadi omongan Oom Bara soal aku ditodong dan Glock itu beneran kamu bisa memegang senjata api?" Gilaaaa!


"Aku sih hanya mengikuti aturan keluarga ku" ucap Arimbi cuek.


"Maksudnya? Semua anggota keluarga Giandra?" Arimbi menggeleng. "Semua keturunan klan Pratomo?" bisik Bima dan Arimbi mengangguk.


Bima menyandarkan kepalanya di tembok Dojo. "Arimbi..."


"Ya?"


"Opa Ghani menanyakan padaku apakah aku masih mau kamu atau nggak..."


Arimbi menolehkan wajahnya menatap remaja pria itu. "Lalu? Nggak masalah sih kalau kakak mundur."


Bima menatap wajah Arimbi. "Siapa juga yang mundur, Arimbi. Aku malah bangga sama kamu!"


"Selamat bersabar ya kak. Kita kan masih belasan tahun." Arimbi menarik wajahnya dari menatap Bima dan menyandarkan kepalanya ke tembok.


"Berapa lama di Harvard?"


"Kalau aku bisa fokus dan ngebut sekitar 3,5 tahun" jawab Arimbi.

__ADS_1


"Kamu tidak masuk sekolah tiga hari saja aku sudah kangen, bingung nggak lihat kamu apalagi selama itu" keluh Bima sambil manyun.


"Ya Maap" senyum Arimbi.


"Apakah kamu nggak pengen kuliah di Jakarta biar kita sering bertemu seperti biasanya."


Arimbi menoleh ke arah Bima. "Sorry. Aku sudah lama ingin masuk Harvard."


"Apakah karena janjimu dengan Hoshi?"


Arimbi tertawa. "Hoshi saudara sepupu aku!"


Bima hanya manyun. "Kamu lebih memilih dia daripada aku."


Arimbi semakin terbahak. Bima menoleh dan hatinya menghangat karena baru kali ini melihat gadisnya tertawa lepas. "Kak Bima, kita baru dua Minggu ketemu sedangkan aku dan Hoshi sudah janjian sejak dua tahun lalu."


"Haaaahhhh... Apalah arti aku si rookie yang baru menemukan jodohku sekarang" gumam Bima sambil menerawang.


"Arimbi, ponselmu berbunyi!" Rina menyerahkan ponsel itu ke Arimbi.


"Wah Hoshi video call" senyum Arimbi.


"Angkat dong aku mau lihat! Pria paling menyebalkan di dunia!" umpat Rina yang sebal kena usilnya Hoshi.


Arimbi cekikikan lalu menggeser tombol hijau dan tampak pria tampan di layar mengenakan sweater.



Hoshi Paramudya Quinn Reeves


"Assalamualaikum Hoshi" sapa Arimbi.


"Wa'alaikum salam. Lagi Dojo kamu? Sama si Arab nyebelin?" kekeh Hoshi.



Rina Kareem


"Heh! Muka pucat! Enak saja bilang begitu!" bentak Rina sebal.


Bima hanya memperhatikan interaksi kedua gadis itu.


"Rim, pria itu kah yang bikin kamu dikeroyok?" tanya Hoshi ke arah belakang Arimbi.


"Iya. Kenapa?"


"B ajah kok bisa dijadiin rebutan cewek-cewek ya? Apa sih yang menarik dari dia?" ledek Hoshi.


Whoah! Ngajak gelut nih orang! Bima menatap tajam ke arah Hoshi yang memasang wajah meledek.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2