
Lagi-lagi Bima tersenyum bahagia mendapatkan pelukan dari Arimbi di pinggangnya meskipun buat pegangan agar tidak jatuh. Boleh nggak ya besok jemput lagi terus berangkat sekolah bareng. Kan gue pemadatan ujian nasional masih Minggu depan. Lumayan dong dipeluk Arimbi begini sekitar lima hari.
"Belok kiri, kak" ucap Arimbi ketika mereka sampai di sebuah jalan besar. Vespa itu pun berbelok dan Bima bersyukur memakai Vespa karena bisa membawa tas latihan Arimbi di depan. Kalau paka Kawasaki D Tracker gue, mau taruh dimana?
Mereka pun sampai di sebuah rumah khas Jawa dan ada pendopo disana. Bima memarkirkan Vespanya dan menunggu sampai Arimbi turun.
"Sini aku lepaskan helmnya" mengacuhkan tangan Arimbi yang sedang berusaha melepaskan kaitan helmnya.
"Padahal aku bisa lepasin sendiri" bisik Arimbi yang terdengar oleh Bima.
"Idiiihhh, dibantuin malah ngedumel. Cantiknya hilang lho" gombal Bima sambil melepaskan helm dari kepala Arimbi.
"Emang bisa?" balas Arimbi.
"Bisa lah! Tahu-tahu kamu berubah jadi raksasa, apa nggak horor tuh... Aduh!" Bima mengusap bahunya yang kena pukul Arimbi.
"Bener kata dik Aga, kamu nyebelin!" sungut Arimbi sambil mengambil tas latihannya dari depan jok Vespa lalu berjalan dengan anggunnya menuju pendopo dimana teman-temannya sudah menunggu.
Bima mengusap-usap bahunya. Ya ampun pedesnya tuh pukulan!
***
"Rimbi, itu siapa?" tanya salah satu temannya setelah Arimbi berganti kaus hitam dan jarik lengkap dengan setagen serta selendang nari.
"Oh itu ojek online" kekeh Arimbi. Bima yang mendengar langsung mendelik. Enak aja gue ojek online!
"Driver ojeknya cakep euy" ucap yang lain.
Arimbi hanya tersenyum dan melirik ke arah Bima yang manyun. Pasti bentar lagi dia tidur deh!
"Yuk, kita mulai latihannya. Hari ini kita nari merak ya. Masih pada ingat gerakannya tidak?" tanya Bu Sri yang sudah siap dengan selendang di pinggangnya. "Kalau lupa, kita recall lagi ya."
Suara gending Jawa pun mengalun dan semua para siswa sanggar tari itu pun mulai latihan gerakan. Bima sekali lagi terkesima dengan luwesnya Arimbi menari dan diam-diam dia mengambil foto gadis itu.
Luwesnya jodoh gue!
***
__ADS_1
Acara latihan menari itu selesai pada pukul lima sore dan semua pun bersiap-siap untuk pulang. Bima pun menunggu Arimbi yang sudah selesai melepaskan jarik dan setagennya meninggalkan celana legging hitam.
"Pakai itu saja, nggak papa Arimbi" ucap Bima. "Biar enak duduknya nanti pas boncengan."
Arimbi pun mengangguk dan memakai sweater rajut yang memang dia bawa di dalam duffle bagnya. Keduanya sekarang sudah berada diatas Vespa Bima dan meluncur ke mansion Giandra setelah berpamitan dengan Bu Sri dan semua teman-teman Arimbi.
Di jalan beberapa kali Bima sengaja mengerem mendadak dan membuat tubuh Arimbi membentur punggung keras Bima.
"Kak Bima! Jangan usil!" teriak Arimbi kesal.
Bima hanya terbahak mendengarnya.
***
Bima dan Arimbi tiba di mansion Giandra pada pukul enam sore dan Bara sudah berada di rumah. Wajah pria paruh baya itu tampak judes melihat putrinya datang bersama dengan remaja pede overload itu.
"Kok pulangnya sama bocah tengil? Mana Rina?" cecar Bara setelah menjawab salam dari keduanya.
"Lho Oom Bara tuh gimana. Kan tadi pagi Arimbi pergi sama saya, ya pulang saya antar kembali dong. Saya yang bertanggung jawab atas Arimbi" senyum Bima.
Bara memincingkan matanya. "Kalian sudah sholat Maghrib belum? Kalau belum, ayo sholat bareng!" ajak Bara.
"Papi, aku mandi sebentar ya. Nggak sampai sepuluh menit kok!" sahut Arimbi.
"Kamu kalau nggak bisa diam, pulang gih!" ancam Bara.
"Oom, katanya kalau Maghrib nggak ilok keluar rumah. Banyak setannya. Kan aku takut" ucap Bima sambil bergaya sok bergidik.
Bara menepuk jidatnya. "Astaghfirullah! Princess, dah buruan mandi nanti Selak habis Maghrib nya. Ngomong sama anak njelehi ini gak selesai-selesai."
Arimbi pun bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai satu.
"Kamu. Sana bersih-bersih dulu di kamar mandi tamu!" Bara menunjukkan kamar mandi tamu.
"Njih Oom."
***
Tak lama keluarga Giandra bersama Bima sudah berada di mushola kecil untuk bersiap sholat Maghrib berjamaah. Bara yang menjadi imam disana meskipun Bima sudah menawarkan diri namun ditolak Bara.
__ADS_1
"Lho Oom, kan Sinau dulu sebelum resmi sama Arimbi. Belajar jadi imam" ucap Bima santai yang mendapatkan pelototan Bara dan Anarghya.
"Kalau niat kamu menjadi imam karena ibadah, Oom nggak melarang lagian Oom bisa tahu kamu gimana tapi kalau niatmu udah ngawur gitu, mending nggak deh!" sungut Bara.
"Monggo kerso Oom mawon dah" cengir Bima.
Usai shalat Maghrib, Arum mengajak Bima sekalian makan malam di ruang makan keluarga Giandra. Dan sekarang Bima duduk bersebelahan dengan Arimbi setelah Arum meminta Bima untuk mandi sekalian di rumah Giandra dan memakai baju yang memang tersedia disana.
"Bima, boleh Tante tahu siapa nama orang tua kamu?" tanya Arum.
"Papa saya bernama Prayogha Baskara, pemilik beberapa toko emas besar di Jakarta, almarhum mama saya bernama Savita Hermawan. Mereka menikah karena dijodohkan dan sepertinya tidak berhasil. Saya lahir karena desakan almarhum eyang Bramastyo Baskara. Setelah saya lahir pun, papa masih tidak bisa menerima mama."
Bima mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya hingga separuh gelas.
"Sampai mama terkena kanker payudara dan papa seperti acuh tak acuh begitu. Di usia saya yang ke 14 tahun, mama saya meninggal dan tiga bulan kemudian papa saya menikah lagi dengan janda anak satu namanya Arum Banowati, dokter tapi rada matre."
Bara dan Arum terkejut. "Arum Banowati?" tanya Bara dengan nada tidak suka.
"Iya Oom. Anaknya seumuran saya tapi dia ikut papanya, nggak mau ikut mamanya. Kami sempat bertemu ketika papa dan mamanya menikah."
"Apakah nama mantan suaminya Azzam Mustafa?" tanya Arum.
"Saya kurang tahu Tan, tapi nama anaknya Faheem Mustafa dan dia memang tidak menyukai ibunya yang menurutnya hanya memikirkan harta." Bima menatap kedua orang tua Arimbi yang wajahnya langsung tidak suka mendengar ceritanya. "Saya pun setelahnya memutuskan keluar rumah karena tidak betah di sana dan selama ini papa nggak peduli dengan saya, masih hidup atau tidak. Hanya Oom Radit adik almarhum mama yang perhatian dan ngopeni saya."
Bara dan Arum saling berpandangan.
"Bima, apa kamu tidak pernah berhubungan sama sekali dengan Papamu?" tanya Arum.
"Dua tahun lalu saya datang ke rumah untuk lebaran minal Aidin ke papa tapi apa Tante tahu. Papa saya memilih pergi keliling dunia sama wanita itu! Benar-benar saya cuma sumbangan kecebong papa di rahim mama!" ucap Bima geram. "Kalau Oom dan Tante bertanya apakah saya ada miripnya dengan papa, hanya satu. Wajah doang! Tapi semua sifat dan gen, adalah warisan mama. Dan saya sangat bersyukur akan hal itu!"
Bara dan Arum hanya bisa menghela nafas panjang.
Aku tidak mau berbesan dengan Arum Banowati!
***
Yuhuuu Up Sore
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️