
Bara dan Arum bersama dengan Kaia, Rhett, Aidan dan Thara memutuskan untuk makan malam di sebuah restauran seafood sebelum kembali ke hotel.
Arum yang baru kali ini bertemu dengan Kaia dan Aidan yang notabene adalah sepupu kandung Bara sangat antusias. Kandung karena Ghani dan Rhea kakak beradik.
"Aku bingung lho dengan kalian, kok bisa bule banget ya? Secara Tante Rhea itu Asia banget!" celoteh Arum melihat dua kakak beradik itu.
"Gennya papi terlalu kuat sepertinya jadinya begini deh" kekeh Kaia.
"Kalau kamu sama Bara, bisa jadi nanti anaknya ada bulenya tapi dikit macam Ega begitu" sahut Aidan.
"Tapi Ega juga kuat bulenya" sahut Rhett.
"Ai, Thara kapan lahiran?" tanya Bara.
"Masih tiga bulan lagi. Doakan saja selamat si boy" ucap Aidan.
"Thara kenal dimana sama Aidan?" tanya Arum.
"Kami bertemu saat aku kabur dari Dubai dan head chef RR's Meal Dubai, Abraham, meminta agar aku ke London mencari pemilik RR's Meal. Ada banyak peristiwa sebenarnya. Tapi intinya kami menikah meskipun sebenarnya nikah yang dijodohkan sih walau awalnya nggak saling cinta ."
"Tapi memang sih kita kalau bertemu jodoh sering tidak terduga seperti apa" ucap Kaia.
"Ingat ketika aku pertama melihat mu marah-marah ke papi gara-gara Range Rover mu ditahan" kekeh Rhett.
"Oh come on Rhett Butler, masih diingat saja" kerling Kaia.
"Karena itu pertama kalinya aku melihat dirimu sudah dewasa, Scarlett O'Hara" balas Rhett sambil mencium pipi istrinya.
"Whoah! Gone with the wind" seru Arum. "Tapi aku benci novel dan film nya."
"Kenapa?" tanya Kaia.
"Ceritanya nggak happu ending. Ceweknya songong! Ditinggal kan akhirnya!" omel Arum.
"Hahahaha, kan tidak semua harus happy ending, Dis" kekeh Bara.
"Tapi memang ga seru. Ada pria yang mencintai Scarlett dengan caranya sendiri eh masih ngarep kakak iparnya. Begok!" umpat Arum berapi-api.
"Whoah, Mrs Giandra. Apakah kamu sedang fase lagi dapat periode nya?" goda Kaia.
"Eh? Kok tahu?" Arum memang baru tahu setelah makan siang tadi di hotel bahwa tamu bulanannya datang. "Maaf mas Bara, unboxing pending ya" wajah Arum tampak memelas.
__ADS_1
Bara hanya menepuk jidatnya. "Yok Opo sih rek! Kon puasa sek!" keluhnya dengan logat Surabaya.
Keempat sepupunya tertawa melihat pengantin baru itu harus menunda unboxingnya.
"Ohya Ra, hati-hati dengan Levi. Anak itu biarpun lagi menikmati menjadi papa, otak rusuhnya tetap jalan" senyum Aidan.
"Aku sih berharap nya Yanti benar-benar bisa membuat Levi tidak bisa jauh darinya dan Hoshi" cengir Bara.
***
Seminggu usai pesta pernikahan Bara dan Arum, para keluarga besar sudah kembali ke negara masing-masing sedangkan Levi dan Yanti memilih tinggal di mansion milik sang Opa, Alex Reeves sampai Hoshi benar-benar kuat diajak terbang ke New York.
Arum sendiri karena dirinya masih belum bisa diunboxing, memilih untuk bekerja kembali apalagi beberapa pasiennya mulai masuk HPL jadi dia harus ready steady go untuk mereka.
Kedua pasangan pengantin baru ini tinggal di mansion Giandra dan setiap pagi, Bara selalu mengantarkan istrinya bekerja di rumah sakit, makan siang bersama dan sorenya pulang ke rumah bareng.
Ghani dan Alexandra akan pulang dari Miami setelah menyelesaikan urusannya disana seminggu. Keduanya bersyukur masalah Davina sudah selesai dan tinggal menunggu sidang pengadilan. Javier dan Agatha sepakat untuk tidak menuntut soal pelecehan *****ual yang dialami Davina karena pasti akan meminta putri mereka terbang ke Miami sebagai saksi dan bertemu dengan Ye-jun lagi.
***
Bara melotot melihat Arum sudah menyiapkan alat sholat dan menunggu untuk shalat Subuh bersama.
"Udah selesai, Dis?" tanya Bara.
"Asyik!" Bara langsung sumringah apalagi hari ini Sabtu pas keduanya libur. Ghani dan Alexandra akan pulang besok Minggu dari Miami jadi mereka hanya berdua. "Aku wudhu dulu!"
Arum hanya menggelengkan kepalanya.
Duh! Siap-siap di unboxing nih! Eh apa yang di bok*ep akan kejadian? Brengsek mbak Rani, ngajarin adiknya jadi amburadul begini!
***
Usai shalat subuh, Bara masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang dikirim oleh Fajar apalagi Ali Khan masih dirawat di rumah sakit, membuat pekerjaan yang sudah mereka sepakati harus mundur sampai Ali pulang.
Arum masuk ke dalam kamar sambil membawakan chicken sandwich dan hot choco. Melihat Bara masih di meja kerjanya, Arum pun meletakkan baki di sebelahnya.
"Sarapan dulu mas." Arum mencium pipi Bara, kebiasaan yang mulai sering dia lakukan setiap membawakan camilan ke suaminya.
"Siapa yang bikin sandwich nya?" tanya Bara.
"Aku lah! Bikin sandwich mah cepet, lama itu bikin rendang, bikin grill, bisa berjam-jam" kekeh Arum. "Nggak enak ya?"
__ADS_1
Bara menatap Arum. "Enak lah. Aku tahu soalnya ada bumbu rahasia nya yang ga pernah aku rasakan selama ini. Berbeda dari buatan mama dan bibik."
"Apaan mas?" tanya Arum bingung. Emang aku kasih bumbu apa? Cuma mayonaise dan keju.
"Bumbu cinta" bisik Bara sambil bangun dari tempat duduknya dan mulai Melu*mat bibir Arum. "Sekarang ya?"
Arum tersenyum. "Kamar udah aku kunci kok" bisiknya. "Ponselku juga sudah off."
"That's my Gendhis. Ponselku juga sudah offline." Bara menutup MacBook nya. Bara memeluk Arum lalu mulai menciumi wajah istrinya sambil membawanya menuju tempat tidur dan keduanya saling berpagutan di pagi hari.
Entah berapa lama keduanya saling mencum*Bu satu sama lain hingga semua baju yang mereka kenakan sudah lolos semuanya. Bara takjub melihat kedua aset Arum yang tampak membusung membuat dirinya mencicipinya sebelum nantinya akan dikompeni oleh anaknya.
Arum menikmati permainan Bara yang lembut dan tampak sangat menyukai setiap jengkal tubuhnya. Tidak ada yang lolos dari bibir dan sentuhan tangannya yang membuat Arum mengge*linjang mendapatkan sensasi yang belum pernah dia rasakan selama ini.
Bara meraba milik Arum dan tersenyum merasakan sesuatu yang basah disana. Pelan pria itu mulai memasukkan miliknya ke milik Arum. Belut masuk ke sarang yang hangat.
"Dis, maaf jika sakit ya" bisik Bara yang dijawab anggukan Arum.
"Aku dokter, mas jadi tahu lah" bisiknya dengan nada parau yang mulai geli merasakan sesuatu di intinya.
Bara mulai berusaha menembus halangan yang ada disana dan Arum terkesiap ketika halangan itu terkoyak juga.
"Maaf, sayang." bisik Bara berulang.
"Teori dan praktek ternyata berbeda" ucap Arum dengan nada tercekat.
"Nanti akan enak kok" bujuk Bara.
"Hu um."
Pagi itu Sambara Ganendra Giandra menjadi satu dengan Gendhis Arum Pradipta setelah harus menunda malam pertama ( atau pagi pertama ) seminggu.
***
Yuhuuu Up Pagi
Maaf kemarin cuma satu chapter
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️