
Pagi ini ruang makan mansion Al Jordan tampak ramai. Pelayan memilih membuat prasmanan agar semua orang yang datang bisa mengambil sesuka hati dan porsi sesuai keinginan perut. Sarapan pagi ini adalah nasi goreng seafood, roti ceplok, sosis goreng, acar dan masih ada roti yang bisa dibakar sendiri, mashed potatoes karena Yanti dan Luca minta dibuatkan itu, teh kopi dan juice segar.
Levi menemani Yanti sarapan di ruang tengah bersama Bara dan Arum sedangkan Marco, Marissa, Luca, Ghani dan Alexandra di meja makan. Iwan dan Danisha sudah pulang semalam karena tidak mau meninggalkan Ega lama-lama yang dititipkan ke Bu Kinanti. Semalam Ega tidur jadi tidak ikut menjemput opa dan omanya.
Bara melihat Arum dengan cueknya menaruh nasi goreng seafood, mashed potatoes di sudut piring, ceplo dan acar.
"Dis, kenapa mashed potato nya nggak kamu taruh di piring kecil? Masa dicampur begitu?" komentar Bara yang membuat Levi dan Yanti pun melihat isi piring Arum.
"Mas Bara tuh kok protes saja sih? Wong aku ya makan juga. Lagian ya mas, nanti atau besok keluarnya juga sama" jawab Arum cuek tapi sukses membuat ketiga orang yang duduk dengannya auto melongo.
"What? Benar kan? Habis makan pasti mulas terus dikeluarkan tho?" Arum menatap satu satu orang di sekitarnya dengan wajah polos.
Levi lah yang tertawa terbahak-bahak pertama mendengar ucapan non filter Arum sedangkan Yanti dan Bara hanya bisa melengos.
"Ya bener sih Rum, tapi jangan terlalu harafiah gitu lho! Kita tuh lagi makan keles" ucap Levi.
"Yang bilang kita sedang adu panco tuh ya siapa tho mas?" kekeh Arum sambil memasukkan nasi goreng ke mulutnya.
"Wah beneran deh, harus seret Arjuna, Arya dan Fuji ke Solo kalau gini mah" ujar Levi.
"Jangan! Aku yang pusing!" protes Bara.
"Mas Bara pusing? Masih kena jetlag kah?" tanya Arum perhatian.
"Bukan Rum, dia pusing karena kita bakalan bikin rusuh kalau kumpul semua" kekeh Levi.
"Oh iya, mas Levi, kak Fuji dan mas Arjuna kan saudara sepersusuan ya?" ucap Arum.
"Kok kamu tahu?" tanya Levi.
"Tante Alexandra yang cerita. Tante Rain tapi sehat kan sekarang?" Arum menatap Levi penuh perhatian.
"Alhamdulillah Tante Rain sehat meskipun kata mamaku trauma hamil lagi setelah Junjun lahir. Untung sekarang Tante Rain dapat dua cucu cowok cakep-cakep namanya Rajendra dan Rama" papar Levi.
"Kalau kalian semua berkumpul lengkap, berapa banyak?" tanya Arum.
"Satu RT Rum kalau kita kumpul" gelak Levi.
"Asal kamu tahu Rum, aku juga masih bingung menghapal semua saudara-saudaranya mas Levi. Kalau Oom dan Tantenya mas Levi sudah hapal tapi sepupu-sepupunya yang terkadang masih suka keliru apalagi yang namanya mirip seperti Keia dan Kristal" timpal Yanti.
__ADS_1
"Apalagi pas kita makan sate ayam di rumahmu ya Yank" kekeh Levi mengingat kejadian dua tahun lalu.
"Lho makan sate ayam di rumah Yanti?" tanya Arum.
"Iya, bapak aku jualan sate ayam di depan rumah terus waktu itu keluarga besar mas Levi pada ke rumah dan kita makan sate disana. Malah bang Aidan, mas Juna, bang Rhett dan kak Nathan ikut bantu bapak" senyum Yanti.
"Mana pakai gaya-gaya makan sate plus rawit banyak udah gitu pada teriak kepedesan" kekeh Levi.
Arum melongo. Bapaknya Yanti jualan sate ayam? Padahal semua orang tahu, Levi Reeves adalah salah satu jenius di MB Enterprise dan Giandra Otomotif Co tapi mereka santai saja.
"Maaf, Yan. Apa bapak masih jualan sate?" tanya Arum takut-takut.
"Masih kok! Sekarang bapak dibantu anak tetangga kalau melayani pelanggan" senyum Yanti. "Bapak lebih suka hidup seperti itu, meskipun aku dan mas Levi sudah ajak ke New York hidup bareng kita cuma bapak kan sudah nyaman dengan lingkungan di Mojosongo, sudah punya banyak pelanggan dan komunitas bapak disana. Aku dan mas Levi tidak mau bapak kehilangan semua itu. Jadi kalau ada waktu begini, kita ke bapak atau kalau bapak kangen bisa ke New York."
"Kenapa Dis, bingung kami-kami punya keluarga biasa saja?" tanya Bara melihat perubahan wajah Arum yang kagum.
"Iya lho mas, aku kira kalian keluarga Sultan pasti nikahnya sama keluarga Sultan juga" gumam Arum.
"Lha tuh Nisha, didekati dua orang Sultan milihnya Iwan yang dari keluarga biasa saja. Bahkan ibunya Iwan masih tetangga sama bapaknya Yanti. Asal kamu tahu Rum, Bu Kinanti ibunya Iwan buka toko kelontong di depan rumah setelah bapaknya Iwan meninggal" papar Levi.
"Wah ternyata Yaaa kalian. Salut lho aku dengan keluarga kalian" puji Arum tulus.
"Bro, yang namanya gen perbullyan di keluarga kita itu sudah mendarah daging. Jadi mau digimanain, kagak bisa lu buang begitu saja" cengir Levi.
"Haaaiissshhhh!" umpat Bara.
"Kalian acaranya apa hari ini?" tanya Marco yang datang menyusul ke ruang tengah.
"Yang jelas aku mau ke tengkleng Bu Edi nanti jam sebelasan tapi pagi ini mau ke rumah bapak" jawab Levi.
"Aku habis ini mau antar Gendhis ke rumah eyangnya di Manahan" sambung Bara.
"Bang Marco apa acaranya?" tanya Levi.
"Marissa sama aku dan Luca juga mau ke Manahan dulu cek rumah Opa disana lalu hunting kuliner. Luca minta sate kambing" jawab Marco.
"Papa dan mama mau kemana?" tanya Bara melihat Ghani dan Alexandra menuju ruang tengah.
"Kita mau ke tempatnya Nisha. Mungkin seharian disana, nanti kalau kamu mau nyusul, nyusul saja Ra, Vi. Kan kamu ke rumah pak Heri juga kan?" Ghani menatap Bara dan Levi.
__ADS_1
"Gampang lah Oom. Nanti kita kabari kalau mau mampir ke rumah Nisha" jawab Levi.
***
Bara melongo melihat rumah khas Jawa yang terdapat di hadapannya karena tembok yang tinggi tidak memperlihatkan isi rumahnya.
"Wah, gebyok penuh ukiran dan ini jati kan Dis?" tanya Bara kagum.
"Iya mas, itu jati dan entah berapa umurnya karena sudah ada dari jaman eyang putri."
Bara asyik memotret bangunan klasik dan antik itu bahkan dia mengambil makro untuk mengambil gambar desain ukiran. Arum sendiri masih mengobrol dengan pelayan dan penjaga rumah keluarganya.
"Mas Bara, yuk! Aku sudah memeriksa dan ngobrol sama mbok Rum dan pak Hasan."
Bara pun berpamitan kepada penjaga rumah dan berjalan keluar pintu gerbang.
Ketika keduanya hendak masuk ke dalam mobil, Bara melihat sebuah mobil berhenti di rumah yang berbeda beberapa rumah yang dia tahu adalah rumah milik Sofyan dan Sabrina.
Mata hitam Bara melihat siapa yang turun dan hatinya terasa sesak ketika melihat Arum turun bersama Azzam dan Ricky.
Kenapa harus bertemu lagi Ya Allah.
"Mas Bara kenapa?" tanya Arum.
"Dis, kita ke kemuning ya setelah nyekar eyangmu. Mas Bara pengen ngadem."
Arum yang melihat perubahan wajah Bara hanya bisa mengangguk. "Kuy lah mas! Let's go!"
Bara pun masuk ke mobil Mercedes hitam milik Mamoru Al Jordan bersama Arum dan bersiap pergi menuju Kemuning.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1
Kara masih di review dari tadi jam tiga belum lolos 😭😭😭