
Seperti yang direncanakan, Bara dan kedua orangtuanya berangkat ke Solo menggunakan Range Rover milik Bara dan mereka berangkat selepas subuh. Alexandra membawa banyak makanan kecil untuk diberikan pada Danisha.
Calon Oma itu sangat bahagia mendengar bahwa Danisha hamil kembali dan berharap putrinya bisa lebih fokus di kehamilannya kali ini.
"Gimana kerja di perusahaan Ogan?" tanya Ghani ke Bara yang sekarang bagian menyetir di depan sedangkan Alexandra duduk di belakang sambil melihat iPad video autopsi rekannya di New York. Meskipun Alexandra sudah pensiun menjadi dokter forensik, namun dia tetap menjadi konsultan disana.
"So far fine-fine aja sih Pa" jawab Bara.
"Tapi?"
"Jujur Bara lebih rindu pegang kamera" senyum tipis Bara.
Ghani menghela nafas panjang. Soal ngeyel dan kekeuh Bara sama dengan dirinya.
"Kamu mau balik kerja kayak dulu?" tanya Ghani dengan nada cemas.
"Maunya Bara sih seperti itu hanya saja Bara tidak mau egois pa. Bara sudah membuat keluarga kita shock hingga Nisha keguguran. Terus terang, rasa bersalah Bara masih kerasa sampai sekarang."
Ghani mengusap bahu putranya. "Sudahlah, Ra. Nisha keguguran itu takdir, kamu kena musibah juga takdir. Papa minta kali ini saja Ra, menep dulu. Dinikmati pekerjaan mu sekarang. Apa kamu nggak kasihan sama Arya yang harus pegang dua perusahaan besar yang sama-sama membutuhkan konsentrasi tinggi?"
Bara menoleh sebentar ke Ghani. "Iya sih pa. Bara pikir sudah diambil alih ke Kaia dan Arya sudah cukup dan Bara akan bekerja di dunianya Bara tapi memang jalannya tetap haru ambil alih perusahaan Ogan."
"Ra, kamu didatangi Ogan dan Opa itu artinya kamu mampu dan bisa menghandle perusahaan milik Ogan. Papa akan selalu dampingi kamu meskipun belum menguasai semuanya tapi kita akan sama-sama belajar. Kamu juga tidak mau kan perusahaan warisan eyang buyut jadi turun kwalitasnya setelah dibangun oleh Ogan menjadi maju dan semakin berkembang di tangan Kaia?"
Bara mengangguk. Dia tahu semua cerita perusahaan yang dibangun oleh eyang buyutnya dan dia juga tahu Ogannya sudah harus menghandle perusahaan di usia masih sekolah karena eyang buyut meninggal mendadak.
Kalau Ogan Abi bisa, kenapa aku tidak bisa? Bisa diragukan jadi cucu Ogan nanti.
"Kaia memang hebat, Pa."
"Kamu tahu ketika mamamu hamil kamu, mamamu ngidam jalan-jalan ke museum dengan Oma Yuna dan pada saat itu Opa Edward bilang akan mendidik Kaia menjadi pengusaha dan memang berhasil selain Kaia memiliki jiwa bisnis dan otaknya encer."
"Ditambah setelah dia menikah dengan Rhett yang juga pengusaha" timpal Bara.
"Mereka memang dynamic duo." Ghani tersenyum.
Bara menyetir sembari membulatkan hati untuk bisa membuktikan bahwa dia adalah cucu Abimanyu Giandra bukan hanya mendompleng nama sang Ogan.
***
Sekitar jam dua siang, mobil Range Rover itu sampai di rumah milik Bu Kinanti di daerah Mojosongo dan Danisha langsung menghambur memeluk Alexandra. Bumil itu pun memeluk Ghani dan Bara sebelum keempatnya masuk ke dalam rumah.
"Alhamdulillah pada sampai semua" ucap Bu Kinanti setelah salam dan saling berpelukan dengan Alexandra.
"Alhamdulillah" jawab Alexandra.
"Tadi yang nyetir siapa?" tanya Danisha. Iwan memang belum pulang karena masih harus memeriksa beberapa barang yang akan dikirim ke Hamilton Co milik Ezra.
"Aku yang nyetir dik, papa sama mama duduk manis" jawab Bara.
__ADS_1
"Lancar kan lewat tolnya mas Bara?" tanya Bu Kinanti.
"Alhamdulillah lancar Bu. Ini baru pertama kali saya nyetir dari Jakarta ke Solo" ucap Bara.
"Ayo, makan dulu. Aku sama ibu sudah masak tadi" ajak Danisha ke keluarganya.
"Memang anak mama masak apa sih?" goda Alexandra.
"Masak sambal goreng krecek sama opor ayam" senyum Danisha.
"Duh santan lagi" keluh Ghani.
"Sekali-kali Pa, nanti minum obat tensi" ledek Bara.
Bu Kinanti dan Alexandra tertawa.
***
Satu jam kemudian Iwan datang dan ikut menimbrung bersama mertua dan iparnya sambil makan yang sudah disiapkan Danisha.
"Nanti nginep di rumah Al Jordan kan pa?" tanya Iwan.
"Iya, papa sudah bilang sama Oom Moru."
"Rumah Manahan mau di pakai Oom Yuki Pa" jawab Danisha.
"Yuki mau di Solo?" tanya Ghani bingung.
"Baguslah, Yuki tinggal disini kan ada banyak saudara juga" timpal Alexandra yang membawakan gorengan yang baru saja dibuat bersama besannya.
"Padahal dulu Joshua pernah bilang rumah Manahan bakalan dipakai Oom Hiro dan Tante Shanum pensiun, eh malah tetap stay di Tokyo sampai meninggal" ucap Ghani.
"Manusia boleh berencana tapi Allah juga berkehendak" sahut bu Kinanti bijak.
"Leres Bu" jawab Ghani.
***
Bara masuk ke dalam kamarnya yang dipakainya selama dulu tinggal di Solo saat Danisha dan Kristal menikah. Tidak banyak yang berubah karena para pelayan yang membersihkan tidak berani memindahkan barang apapun disana.
Setelah meletakkan tas beserta dompet dan kunci mobil di meja, Bara membuka iMac yang memang terdapat disana dan dia mulai membuka email. Bara bertekad menjadi lebih baik dari dua bulan ini dia bekerja.
Kaia saja bisa kenapa aku nggak? Padahal Kai cewek dan dia bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
Bara melirik ke ponselnya yang bergetar lalu melihat siapa yang mengirimkan pesan.
📩 Arum Banowati : Assalamualaikum mas Bara. Arum berada di Solo juga sekarang. Ayah mengajak jalan-jalan bertemu dengan Oom Sofyan.
📩 Bara Giandra : Nanti mas mampir ke rumah Oom Sofyan selepas isya.
__ADS_1
📩 Arum Banowati : Iya mas. Arum tunggu disini.
Bara tersenyum simpul kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap sholat Maghrib dan Isya berjamaah dengan kedua orangtuanya.
***
"Kamu mau kemana mas?" tanya Alexandra kepada putra sulungnya yang sudah dandan rapi setelah mereka makan malam.
"Mau ke rumah Oom Sofyan, ma."
"Tumben. Ada apa kesana?" sahut Ghani.
"Eerrr... Ada Arum disana" cengir Bara.
"Oooohhh ada Arum... Hah? Ada Arum?" seru Ghani yang mendapatkan keplakan dari Alexandra.
"B ajah mas Daniswara. Lebay ih" kekeh Alexandra. "Ya sudah kalau mau jalan-jalan sama Arum. Hati-hati."
"Jangan malam-malam bawa anak orang ya Ra! Awas!" ancam Ghani.
"Ish papa nih! Emang Bara masih SMA ?" protes Bara.
"Udah-udah, kok malah berantem. Ra, sana berangkat nanti kemalaman." Alexandra melerai suami dan putranya.
"Pareng pa, pareng ma" Bara mencium tangan Ghani dan Alexandra. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Ghani dan Alexandra menatap kepergian putranya.
"Berdua lagi deh Lexa" ucap Ghani.
"Eh nggak ya, ada pelayan juga" sahut Alexandra.
Ghani melirik judes. "Nggak asyik ih kamu!"
"Uluh uluh gitu aja kok ngambek sih detektif cengeng ku" goda Alexandra.
"Dasar dokter Jalapeno" ucap Ghani sambil mencium pipi istrinya.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaa
Maaf semalam ketiduran.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️