Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Arimbi Maheswari - END


__ADS_3

Arum datang ke ballroom tempat dimana para dokter seluruh Jakarta dan Jawa datang di kota Surabaya. Ketika mendapatkan undangan ini, Arum sudah berdiskusi dengan Bara apakah dia sebaiknya berangkat atau tidak mengingat acara ini dilakukan di Surabaya yang kemungkinan besar ketemu Azzam dan Arum Satu bisa terjadi.


"Sayang, kita sudah menikah jadi tidak ada alasan kamu tidak pergi apalagi kan kamu dikirim oleh pihak rumah sakit kesana" ucap Bara santai saat Arum menunjukkan undangan via email kepada Bara dua Minggu lalu.


"Tapi apa mas nggak papa aku kesana?" tanya Arum lagi memastikan.


"Nggak papa sayang, mas kan sudah sama kamu, menikah sama kamu dan nggak pernah memikirkan mantan. Buat apa, Dis?" ucap Bara sambil memeluk istrinya dan bermain di area depan milik Arum yang menurutnya semakin besar.


"Beneran nggak papa mas?" Arum menatap Bara dengan tatapan serius.


"Beneran sayang. Nanti kalau sudah selesai, mas nyusul deh!" ucap Bara. "Sekarang tuh yang penting adalah, bagaimana kalau malam ini kita olahraga? Olahraga paling enak dan paling tertua di muka bumi ini?"


Arum menaikkan alisnya. "Paling tertua?"


"Lho kamu pikir olahraga tertua itu apa? Ini lah! Acara belut masuk sarang." Bara mulai membuka piyama yang dipakai Arum dan menunjukkan tubuhnya yang mulus.


"Astagaaaaa mas Baraaaa! Besok lagi kita nggak usah liburan ke London!" desis Arum sebal.


"Lho kenapa?" gumam Bara di perut Arum yang datar.


"Kalian kalau kumpul rusuh! Bikin pusing!" cebik Arum mengingat saat dia dan Bara memutuskan ke London jalan-jalan demi melihat kastil milik Pom Jeremy dan Tante Rain, tak diduga Rhett O'Grady dan Kaia Blair bersama si kembar Abi dan Reana berada disana juga.


Kastil yang tadinya anteng menjadi rusuh ketambahan datangnya Arjuna, Sekar, Rajendra dan Rama plus Aidan dan Thara yang sedang hamil. Para pria disana ribut tidak jelas dan membuat Arum, Kaia, Thara dan Sekar hanya bisa mengelus dada ketika keempatnya mulai membahas soal kerusuhan yang haqiqi.


"Kenapa sih para pria itu kalau bertemu nggak jauh-jauh dari soal si Otong?" tanya Sekar.


"Bagi mereka, belut itu harus sering-sering pulang ke rumahnya karena memang disitu sarangnya" sahut Kaia tanpa filter. "Aku hanya mengatakan apa yang Rhett katakan lho" ucap Kaia setelah melihat sepupunya pada melongo. "Oooohhh come on. Kalian kalau bilang itu apaan coba?"


"Otong."


"Junior."


"Belut" sahut Arum. "Aku ikut apa istilahnya Mas Bara kok."


Setelahnya keempat wanita cantik itu tertawa bersama.


Arum tersenyum mengingat saat berkumpul dengan Kaia, Thara dan Sekar yang semakin mempererat hubungan persaudaraan mereka.


"Gendhis, kamu kenapa? Kok malah senyum-senyum sendiri?" tanya Bara yang tadinya asyik bergerilya di tubuh Arum berhenti setelah melihat istrinya senyum-senyum sendiri.


"Teringat pembicaraan soal si belut dengan Kaia, Thara dan Sekar" cengirnya.

__ADS_1


"Sudah ga usah membahas, yang penting sekarang prosesnya si belut masuk rumah" senyum Bara.


***


Arum celingukan mencari teman yang dikenalnya dan akhirnya melihat dokter Thomas yang sedang mencari tempat duduk.


"Thomas!" panggil Arum yang membuat dokter paru itu menoleh.


"Eh si cantik nyonya Bara Giandra" senyum Thomas yang tidak bisa datang pada saat Arum menikah karena ada pasien harus operasi paru.


"Apa kabar, Thom?"


"Puji Tuhan baik. Kamu sendiri gimana? Dua tahun ya kita nggak ketemu" senyum Thomas.


"Alhamdulillah baik. Mas Bara juga baik" cengir Arum.


"Eh iya, apa kamu dengar gosip. Katanya dokter Arum Banowati akan digugat cerai sama dokter Azzam."


"Astaghfirullah. Lho kenapa?" tanya Arum bingung. Bukannya mereka baik-baik saja.


"Soalnya dokter Arum meminta separuh saham dari rumah sakit milik keluarga dokter Azzam yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh keluarga besar." Thomas melirik ke arah pintu masuk dimana dokter Azzam dan dokter Arum Banowati masuk ke dalam ballroom.


"Lho mereka masih bersama kok!" bisik Arum ke Thomas.


Arum merasa kasihan dengan batita laki-laki yang dilahirkan Arum Satu menjadi korban perpisahan kedua orangtuanya. Insyaallah aku dan mas Bara langgeng terus. Aamiin.


Thomas mengajak Arum untuk duduk bersebelahan dengannya disaat acara seminar akan dimulai. Arum satu pun melihat adanya Arum hanya menatapnya sekilas.


Thomas yang melirik ke arah Arum Satu dan Azzam yang diam-diam melirik ke arah Arum yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum simpul. Semua orang tahu siapa Gendhis Arum Pradipta sekarang, istri Bara Giandra yang masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga besar Pratomo dari PRC group, AJ Corp, MB Enterprise dan suaminya adalah CEO Giandra Otomotif Co.


Meskipun sudah menjadi istri Sultan, Arum ya tetap Arum yang santai meskipun gaun yang dipakainya tahu itu rancangan desainer, tapi tas yang dipakainya masih saja tas selempang yang selalu menjadi favoritnya meskipun merk-nya Louis Vuitton tapi memang hampir empat tahun tas itu tidak pernah lepas darinya.


Acara seminar pun selesai pada pukul tiga sore dan Arum bersama Thomas keluar bersama dan melihat Bara dengan seorang bayi cantik.



Arum merentangkan tangannya untuk menggendong bayi gembul itu lalu menciuminya.


"Anak emak apa kabarnya?" goda Arum sambil menciumi putrinya yang berusia setahun.


"Emak? Seriously, Rum!" gelak Thomas yang baru saja saling berjabat tangan dengan Bara.

__ADS_1


"Suka-suka dia sajalah, Thomas. Capek aku!" cebik Bara.


"Terus kamu dipanggil siapa Bar?" goda Thomas.


"Babeh." Thomas terbahak.


"Ya ampun Gendhiiiisss" gelak Thomas.


"Lhoooo kan kita harusnya tetap melestarikan panggilan tradisional dong" alibi Arum.


"Yaaaa nggak emak babeh gitu dong!"


"Suka-suka aku lah Thom!" Arum kemudian membawa putrinya berputar-putar yang membuat batita itu tertawa geli dengan ulah emaknya.


"Namanya siapa Bar?" tanya Thomas.


"Arimbi Maheswari Pradipta Giandra."


"Alamat nanti jodohnya namanya Bima" kekeh Thomas.


"Lu kira cerita Mahabarata" pendelik Bara.


"Lho mas tuh gimana, Ogan namanya Abimanyu, Necan namanya Adara Utari. Bukannya Abimanyu itu suaminya Utari ya di dunia perwayangan? Kita nggak tahu lhoooo" timpal Arum.


"Sudahlah, Rimbi masih bayi, nggak usah mikir jodoh-jodohan! Yuk pulang ke hotel." Bara, Arum pun berpamitan dengan Thomas


Ketiganya berjalan sambil tersenyum mesra satu sama lain yang tidak luput dari perhatian Arum Banowati.


Selamat berbahagia mas Bara dan Gendhis.


*** END ***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Terimakasih sudah mengikuti cerita Bara dan Arum. Alhamdulillah selesai juga satu generasi Pratomo. Eike mau fokus Davina dan Ren dulu ya.


Matur nuwun atas semua atensi, komen, like, gift nya, I really appreciate that.


See you di novel lainnya.


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2