
Bima melirik ke arah Arimbi yang sedang mencuci piring bekas makan malam tadi. Istrinya tampak santai mengenakan kaos rumah dan celana jeans pendek yang menunjukkan kaki jenjangnya. Arimbi memang termasuk tinggi untuk ukuran perempuan Asia, 170cm. Beruntung Bima memiliki tubuh tinggi sekitar 185cm jadi dia tidak terlalu jeglek dibandingkan istrinya.
Duh tuh kaki mulus banget! Rasanya pengen elus-elus. Boleh kan ya? Udah halal kok!
Bima pun berdiri menghampiri istrinya ketika suara bel di pagar rumah berbunyi. Arimbi menoleh ke belakang dan menatap Bima dengan tatapan bingung. Siapa malam-malam ke rumah?
"Aku lihat layar intercom dulu sayang" ucap Bima yang berjalan ke layar monitor bel rumahnya dan mengernyitkan dahinya melihat Rina yang berdiri di depan pagar rumahnya.
"Apa Rin?" tanya Bima sambil memencet tombol intercom.
"Bukain Bim! Please?" pinta Rina memelas. Bah! Gue mau unboxing kamprrreeeettt!
"Siapa mas?" tanya Arimbi.
"Rina."
"Suruh masuk mas. Kasihan di luar malam-malam."
"Kan dia bisa karate sama krav maga!" cebik Bima.
"Iiihhh!" Arimbi memencet tombol untuk membuka pagar kayu tinggi. "Udah dibuka Rin."
"Sayang, kita mau unboxing iniiii" desis Bima.
"Ih, kalau Rina lama, aku acungkan muntu dari dapur sambil bilang 'mulih o, mulih o ( pulanglah )'. Trust me" kekeh Arimbi.
"Emang mandi ( manjur )?" tanya Bima.
"Mandi ( manjur ) mas. Mami pernah kedatangan tamu menyebalkan, terus acungin muntu dengan posisi sudut yang buat uleg diarahkan ke ruang tamu. Eh nggak sampai lima menit mami kayak gitu, tamunya pulang" gelak Arimbi. Bima hanya melongo.
Wallahu alam dah!
Suara ketukan di pintu ruang tamu membuat keduanya menuju ke area ruang tamu dan Arimbi membukanya.
"Assalamualaikum" sapa Rina.
"Wa'alaikum salam" balas keduanya.
"Aku nggak lama kok!" Baguslah! "Cuma mau kasih ini. Kado pernikahan buat kalian." Rina tersenyum lebar sambil menyerahkan paper bag ke Arimbi.
"Apaan ini?" tanya Arimbi yang hendak melongok isinya.
"Eh nanti aja kalau berduaan! Udah ya, aku pulang dulu. Assalamualaikum!" Rina pun langsung ngacir keluar pagar kayu.
"Wa'alaikum salam."
Arimbi dan Bima pun masuk ke rumah setelah mengunci rumah. Di dalam Arimbi membuka paper bag dan terkesiap.
__ADS_1
"Astaghfirullah. Baju haram!" teriaknya geli.
"Apaan?"
Arimbi memperlihatkan sebuah lingerie bewarna ungu dan membuat Bima melongo.
"Itu baju? Yakin?" Bima mengerenyitkan alisnya.
"Ini namanya lingerie mas" kekeh Arimbi.
"Aku cuma tahu daster batik" jawab Bima asal. "Yuk ah, bobok... eh unboxing!" Bima menggandeng Arimbi menuju kamarnya yang di lantai dua.
"Kok tahu aku sudah selesai?" tanya Arimbi.
"Tadi yang sholat isya sendiri siapa?" balas Bima.
"Lha mas malah ke bengkel tadi memeriksa anak buah disana yang masih lembur. Jadi aku sholat sendiri deh."
"Ya udah. Bobok tanda kutip yuk!" goda Bima. "Ready kan?"
"Yakin dah mau unboxing?" goda Arimbi.
"Yakin lah! Sudah belajar dari video ihik-ihik" cengir Bima.
***
Arimbi terbangun dengan badan remuk redam akibat semalam Bima benar-benar mempraktekkan apa yang dilihatnya dari video ihik-ihik. Meskipun terasa kaku, tapi insting natural keduanya pun mampu membuat acara malam yang bukan pertama terjadi.
Bima dan Arimbi sama-sama merasakan bagaimana menikmati surga dunia dengan kehalalan haqiqi, membuat lebih bebas mengeksplorasi, menghapal bagian tubuh masing-masing, mana bagian sensitif pasangannya dan rasa yang indah setelah mendapatkan ******* melepaskan semua hormon oksitosin.
Setelah babak perkenalan ala Bima, keduanya beristirahat sejenak sembari mengelus tubuh masing-masing dan mengatur nafas. Keduanya saling memuji tubuh masing-masing pasangan dan bersyukur melakukannya disaat sudah halal.
Meskipun berpacaran lama, Bima dan Arimbi benar-benar saling menjaga diri mereka sendiri, apalagi Arimbi kuliah di Harvard Amerika Serikat yang dikenal bebas.
Bima bersyukur Arimbi memberikan hartanya yang paling berharga untuk suaminya dan Bima pun memberikan keperjakaannya untuk Arimbi seorang. Bima memegang teguh janjinya kepada Arimbi bahwa dirinya hanya untuk dia sejak awal mereka bertemu.
Usai opening, mereka melakukannya lagi dan kali ini lebih panas dan mencoba gaya lain karena rasa malu dan canggung sudah sedikit terkikis, tinggal rasa penasaran dan berlomba saling memberikan kepuasan kepada pasangannya.
Dan sekarang Arimbi menunai akibatnya, badannya remuk redam, dan tubuh mulusnya penuh dengan tanda spidol merah dari Bima.
Ya ampun! Suamiku benar-benar jadi count dracula. Arimbi tersenyum. simpul. Ternyata rasanya seperti ini. Pantas teman-teman kuliahku bisa bebas seenaknya karena rasanua memang wow!
Arimbi mencoba melepaskan pelukan Bima tapi pria satu itu malah semakin erat memeluk pinggang dan perut ratanya.
"Mas..."
"Hhhmm..."
__ADS_1
"Aku mau pipis" bisik Arimbi.
"Pipis aja disini... Adduuuhhh!" Bima menjerit ketika Arimbi mencubit tangannya keras. "Rimbi! Teganya, teganya, teganya..."
"Tega! Soalnya kamu asal ngomong! Dah aku mau pi... Aaauuuu!" Arimbi meringis.
"Kenapa?" Bima langsung duduk tidak peduli badannya masih polos terekspos dari selimut.
"Perih... Duh alamat jalanku kayak penguin" ucap Arimbi dengan jalan perlahan ke kamar mandi.
"Kita terlau overload, Rimbi" gelak Bima tanpa salah.
"Over dosis!" teriak Arimbi dari dalam kamar mandi.
"Salah dikit!" balas Bima.
"Astaghfirullah! Perihnyaaaaa!" teriak Arimbi.
"Duh kasihan istrikuuuu" balas Bima sambil berteriak juga.
***
Arimbi menatap sarapan buatan Bima dengan dahi berkerut. Bagaimana tidak, suaminya lebih banyak melamun daripada memanggang roti yang akibatnya gosong.
"Maaf sayang, masih terbayang semalam" cengir Bima sambil mengoles butter diatas roti yang tidak jelas tingkat kematangannya. "Tapi aku membuatnya penuh dengan cinta kok."
Arimbi hanya mengangguk namun tetap memakan rotinya. "Benar-benar well done ya mas."
"Kamu kira ini steak?"
"Mbok menowo" balas Arimbi kalem.
"Sayang, jadi kan buatin sambal goreng ati sama nasi kuning?" rayu Bima.
"Jadi."
"Aseeeekkk!"
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1