
Tidak terasa seminggu pun berlalu dan selama itu juga, Bara dan Arum menghabiskan makan siang bersama dan seringnya di area rumah sakit karena Arum bekerja lebih padat demi bisa ambil libur tiga hari untuk ke Solo besok weekend.
Alexandra sudah bilang ke Arum bahwa Jumat sore mereka akan berangkat bersama keluarga Reeves dan Bianchi yang pesawat pribadi masing-masing akan mendarat di Jakarta setelahnya memakai entah pesawat milik Rhett atau Marco, baru terbang ke Solo.
Jumat sore, Bara sudah siap menjemput gadis receh itu di depan kost-kostannya. Sopir keluarganya sudah mengantarkan Ghani dan Alexandra ke bandara lalu menjemput Bara dan Arum baru menyusul kedua orang tua Bara.
"Wah, udah datang ya? Bentar mas, aku ambil sandal dulu." Arum masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan tidak lupa menguncinya.
"Sandal apa sih Dis?"
Arum menunjukkan sandal swallow warna pink di tas coklat yang ditentengnya.
"Astaghfirullah Dis, Gendhis. Kayak di Solo nggak ada swallow ajah ih!" gerutu Bara.
"Yang pink susah carinya mas" eyel Arum.
"Karepmu Dis, Gendhis" omel Bara sebal.
***
Levi melirik ke arah gadis cantik yang datang bersama Bara. Diputuskan mereka semua memakai pesawat pribadi milik Rhett karena kapasitasnya lebih luas dan bisa menampung 19 orang.
Bara dan Arum sama-sama memakai kaos putih, sedangkan Levi memakai kemeja coklat. Gadis itu masih memakai make up karena pulang dari praktek langsung berganti kaos sebab Bara sudah menjemput.
"Jadi ini yang namanya Gendhis Arum Pradipta" ucap Levi sambil melirik ke arah Bara dengan mata menggoda.
"Shut Up Vi!" umpat Bara.
"Ish kamu kayak nggak tahu aku saja yang susah untuk shut up" gelak Levi.
"Halo, namaku Levi Anthony Reeves, suami dari Yanti. Aku adalah sepupu Bara paling ceria dan paling tampan sejagat Pratomo" ucap Levi sambil mengulurkan tangannya.
"Arum. Kan mas Levi sudah tahu nama lengkapku" cengir Arum.
Gadis itu lalu berkenalan dengan Yanti Reeves, Marco Bianchi, Marissa Akandra Bianchi dan Luca Bianchi putra mereka.
Setelahnya, pesawat milik Rhett Blair tinggal landas dari bandara Soekarno Hatta menuju Adi Soemarmo Solo.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Arum tampak antusias untuk mengobrol dengan Yanti dan Marissa soal kehamilan dan program hamil selanjutnya apalagi Luca sudah berusia hampir enam tahun namun Marissa belum kunjung hamil juga untuk memberikan adik buat putra tampannya.
***
"Aku sih lebih suka dia sih Ra daripada yang kemarin" komentar Marco.
"Aku juga. Harusnya Junjun durjana itu ikut ya biar sekalian menilai soal Arum yang ini" timpal Levi.
"Jangan lah. Aku yang pusing nanti! Kemarin hanya dengan Arya dan Fuji saja, mereka bertiga recehnya nggak ketulungan" pinta Bara melas.
"Kamu kurang lama kumpul sama kita-kita sih! Keseringan kumpul dengan anaconda, monyet, beruang kutub, cheetah jadi jiwa kerecehanmu tidak terasah dengan baik dan benar!" Levi mencoba menganalisis semua sikap Bara.
"Oom Ghani sama Tante Alexandra gimana? Lebih suka Arum yang ini juga kan?" tanya Marco.
"Iya bang. Mama langsung cocok dengan Gendhis, malah mereka masak bareng Minggu lalu."
Levi dan Marco melongo. "Minggu lalu. Minggu lalu?"
"Memang kenapa?" tanya Bara bingung.
"Bukannya itu pas Fuji jadi turis ndeso ke Monas kan? Pas kalian deal kencan sebulan? Gila lu Ra, langsung gercep ya?" kekeh Levi.
"Eh iya ya?" Bara juga baru ingat akan hal itu.
"Ini bukan karena kalian taruhan kan?" Bara memincingkan matanya.
Levi dan Marco terbahak. "Kami bertaruh kamu tuh bisa move on, Ra. Buang perasaan patah hatimu. Masih ada Arum yang lebih baik dari Arum kemarin." Marco menatap Bara. "Coba lihat, Marissa termasuk orang yang susah dekat dengan orang asing. Sekarang, dia bisa tertawa bareng Arum dan Yanti. Ekspresi Arum yang jenaka itu mampu mencairkan Marissa yang kaku."
Bara melihat kearah tiga wanita cantik di hadapannya. Marissa Akandra termasuk susah bisa dekat dengan orang diluar keluarga besarnya tapi dengan Arum, ibu satu anak itu bisa tertawa lepas. Bara juga ingat, Davina pun termasuk orang yang kaku tapi kemarin sewaktu meet up bisa tertawa bersama Arum.
Gendhis memang berbeda.
***
Danisha dan Iwan yang menjemput dengan membawa empat mobil melongo melihat gadis cantik yang sebelumnya menjadi trending topik di grup sepupu cewek dan cowok Akhirnya mereka melihat sendiri secara langsung.
"Dis, ini adikku Danisha dan itu suaminya Iwan" Bara memperkenalkan Arum kepada adik dan iparnya.
"Halo, aku Gendhis Arum Pradipta tapi mas Bara manggilnya tetap Das Dis Das Dis" gelak Arum cuek yang membuat Danisha tersenyum.
"Halo aku Danisha, biasa dipanggil Nisha" ucap Danisha sambil menerima uluran tangan Arum. Iwan pun menyalami Arum sesudah bertemu dengan Ghani dan Alexandra, lalu Levi dan Yanti serta Marco, Marissa dan Luca.
"Yuk masuk mobil semua, pasti sudah pada capek" ajak Iwan. "Kita ke mansion Al Jordan saja ya."
__ADS_1
"Iyalah Wan, paling enak disana." Ghani berjalan masuk ke dalam mobil Range Rover Hitam milik Fuji yang memang ditinggal disana untuk keperluan keluarga.
***
Arum kembali melongo melihat mansion Al Jordan di daerah Solo Baru. Kemarin dia takjub dengan mansion Giandra yang minimalis, sekarang dia takjub Mansion Al Jordan yang desainnya klasik dan tampak mewah.
"Mas Bara, ini rumah siapa?" bisik Arum ke Bara.
"Rumah keluarganya Mbak Marissa. Ini punya Oom Mamoru, Tante Miki dan Oom Masayuki tapi dijadikan basecamp keluarga besar kami."
Arum mengangguk. "Tenang, kamarnya banyak ada enam" ucap Bara lagi. "Sementara kamu tidur sini dulu saja, besok baru ke tempat eyangmu."
Lagi-lagi Arum hanya mengangguk karena dia takjub dengan keluarga Bara yang sultan bukan kaleng-kaleng tapi terkesan humble.
***
"Mas Bara yakin sama Arum yang ini?" tanya Danisha yang sekarang duduk bersama kakaknya di gazebo belakang.
"Belum sih dik, masih penjajakan kok. Kan sebulan yang diminta Fuji" senyum Bara yang sedang menyiapkan kameranya.
"Aku sih suka sama Arum yang ini mas. Lebih apa adanya plus cablak" kekeh Danisha.
"Fuji dan Arya pun juga" sahut Bara sambil menatap wajah cantik adiknya. "Cuma mas Bara cemas dik."
"Cemas kenapa? Takut kejadian kemarin lagi?" tanya Danisha.
"Satu itu, kedua cemas Levi meracuni Gendhis dengan omongan recehnya soalnya kemarin Fuji dan Arya sudah mulai."
Danisha terbahak. "Masih kurang bang Juna."
"Mas bisa langsung stress kalau semua kumpul, dik. Habis mas dibully anak-anak durjana itu" keluh Bara.
Danisha hanya bisa tertawa melihat wajah melas kakaknya.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1