Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Hati Bara Sakit


__ADS_3

Iwan menatap kakak iparnya yang tampak shock mendengar ucapan salah seorang penduduk dusun sendang kulon.


"Lho ini mas Bambang kan? Yang ditolong sama mbak Arum?" tanya salah seorang disana.


"Iya pak tapi nama aslinya mas Bara" jawab Iwan. "Kalau boleh tahu kenapa Arum menikahnya dadakan ya pak?"


"Kabarnya mbak Arum sudah dijodohkan waktu kecil dan semalam keluarga mas Azzam datang dan langsung melamar hingga pak Ricky tidak bisa menolak karena mereka sudah mempersiapkan semuanya."


"Keluarga nya Azzam asalnya dari mana pak?" tanya Iwan lagi.


"Dari Surabaya, kabarnya punya rumah sakit disana. Sama-sama dokter juga kok" sahut lainnya.


Iwan menjawil Bara. "Mas, Mas Bara mau nemuin atau gimana?" bisiknya.


"Apa Arum sudah melakukan ijab qobul nya pak?" tanya Bara dengan nada bergetar.


"Sudah mas Bambang, tadi jam delapan pagi."


Bara semakin lemas mendengarnya. Iwan lalu merangkul bahu kakak iparnya.


"Yang sabar mas" bisik Iwan menguatkan. "Kalau kita pulang sekarang nggak papa kok."


"Kita temui dulu Wan" ucap Bara tegas namun Iwan bisa merasakan nada sedih disana.


Iwan hanya mengangguk sambil menemani Bara menuju rumah Ricky. Tampak disana banyak orang dengan dandanan khas kondangan berkumpul dan mereka pun menyapa Bara meskipun masih memakai nama Bambang.


Bara dan Iwan pun berjalan ke halaman belakang tempat pelaminan pengantin itu berada. Mata hitam Bara membulat melihat Arum benar-benar bersanding dengan seorang pria tampan disana mengenakan gaun pengantin.


"Mas Bara..." bisik Iwan.


"Nggak papa Wan. Aku kuat kok" jawab Bara.


Keduanya pun berjalan mendekati pelaminan dan bertemu dengan Ricky yang menatap Bara penuh penyesalan dan maaf. Pria paruh baya itu hanya bisa memeluk Bara.

__ADS_1


"Maafkan bapak, Bara. Maafkan bapak" ucap Ricky berulang-ulang.


Bara hanya menepuk punggung rapuh itu. "Tidak apa-apa pak. Berarti Arum bukan jodoh saya."


Ricky melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak begitu rapuh dan menua.


"Saya ucapkan selamat dulu ke pasangan pengantin baru" senyum Bara sendu.


Arum menoleh dan matanya langsung membelalak melihat Bara disana bersama Iwan. Seketika air matanya pun mengalir.


"Mas Bara..." bisiknya. Bara pun menghampiri kedua mempelai dan menjabat tangan Arum.


"Selamat ya Rum, semoga sakinah mawadah warahmah pernikahan kalian berdua" ucap Bara tulus meskipun Arum dan Iwan bisa mendengar nada sedih disana.


"Terimakasih mas. Maafkan Arum" ucap Arum dengan menahan tangis. Bara hanya menepuk pelan tangan Arum sambil tersenyum hangat.


"It's okay."


"Terimakasih. Insyaallah saya akan menjaga Arum." Azzam menerima jabatan Bara.


Bara hanya mengangguk. Semoga Azzam memang bisa menjadi suami yang baik untukmu Rum.


Setelah Bara dan Iwan selesai mengucapkan selamat kepada kedua pengantin, mereka lalu berpamitan pada Ricky dan para penduduk dusun.


Tak lama, Iwan sudah menjalankan mobil mewah itu kembali ke arah kota Pacitan.


"Apakah itu Bara yang kamu tolong itu Rum?" tanya Azzam lembut.


"Iya mas" jawab Arum yang merasa sedih harus mengkhianati kekasihnya namun dia juga tidak bisa menolak perjodohan ini.


"Alhamdulillah dia sudah bisa ingat dan sehat lagi" ucap Azzam yang tidak ada nada cemburu sama sekali di nada bicaranya.


"Iya mas."

__ADS_1


Selamat tinggal mas Sambara Ganendra Giandra. Maaf kita tidak berjodoh.


***


Bara memandang pemandangan sepanjang jalan lewat jendela sebelah kirinya. Kursinya sudah diposisikan setengah tidur dan sekarang dia merasakan sakit di kepala dan hatinya.


Iwan yang melihat kakak iparnya tampak hancur patah hati merasa kasihan. Dia hanya ingin kakaknya bisa melampiaskan kesedihannya namun di tempat yang tenang.


"Mas, kita sholat dhuhur dulu ya. Kayaknya di depan sana ada mesjid" ajak Iwan yang memang sekarang sudah masuk waktunya sholat Dhuhur.


"Aku manut aja lah Wan. Lagi nggak bisa mikir aku" sahut Bara.


Iwan mengangguk dan tak lama mobil bewarna putih itu sampai di sebuah mesjid di pinggir jalan. Bara dan Iwan pun turun lalu menuju tempat berwudhu. Beruntung sholat dhuhur hendak dimulai hingga Bara dan Iwan bisa ikut berjamaah.


Usai sholat, Iwan membiarkan Bara untuk menenangkan diri karena dia tahu bagaimana bahagianya Bara tadi pagi berangkat bahkan memamerkan cincinnya yang hendak diberikan kepada Arum, tapi malah kejutan yang tidak disangka-sangka yang mereka peroleh.


Ya Allah, Bara tidak tahu harus bilang apa. Bara sudah membuka hati untuk seorang wanita yang menurut Bara yang terbaik namun ternyata bukan untuk Bara.


Bara menangis merasakan sesak di dadanya. Iwan hanya diam saja duduk di sebelahnya. Calon ayah itu membiarkan iparnya mengeluarkan emosinya di mesjid setidaknya bisa menahan Bara untuk membanting atau merusak sesuatu meskipun Iwan yakin itu bukan tipe Bara.


Hati Bara sakit, Ya Allah.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Maaf untuk Kara Santan, aku pending besok.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2