
Hari Kamis ini, Arum harus menghadiri seminar para dokter di sebuah hotel yang jaraknya dekat dengan kantor PRC group. Mengetahui acara seminarnya dekat dengan kantor Davina, Arum mengabari Bara agar menjemputnya di kantor sepupunya itu.
Acara seminar kali ini memang hadir banyak dokter area Jawa dari berbagai spesialis dan umum. Sebenarnya Arum malas datang ke acara seperti ini tapi mengingat dia membutuhkan banyak koneksi dan kolega untuk menaikkan kredibilitas dirinya, mau tidak mau dia harus datang apalagi dia yang ditunjuk oleh pihak rumah sakit tempatnya bekerja.
Arum pun datang ke ballroom tempat pertemuan dan hatinya merasa senang melihat beberapa teman seangkatannya datang hingga mereka reuni kecil.
Setidaknya masih ada yang aku kenal.
Acara seminar pun segera dimulai ketika Arum melihat sepasang dokter yang duduk tidak jauh dari dirinya. Bukannya itu Arum Satu dengan suaminya? Arum lalu kembali berkonsentrasi di acara seminar itu.
Bodo lah! Kan mas Bara sudah move on sama aku yang tukang kentut ini. Arum tersenyum simpul mengingat Arjuna dan Arya shock mendengar cerita Bara soal perkentutan.
POV Restaurant Seafood
"Haaaahhhh? Kamu kentut di depan Bara?" teriak Arjuna lupa kalau mereka berada dimana.
"Ssstttt, biasa aja lagi mas!" tegur Arum.
"Astagaaaaa! Benar-benar lu tuh cewek ajib!" gelak Arya.
Davina dan Ali Khan yang mendengar cerita itu hanya bisa tersenyum simpul. Baru kali ini ada cewek Gadha jaim-jaimnya di depan cowok.
"Dan kalian tahu, soal perkentutan pun masih dibahas Gendhis sampai aku tidak bisa makan. Susah kalau ngomong sama dokter!" gerutu Bara.
Keempat orang disana tertawa sedangkan Arum hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lho kan benar semuanya bisa dijelaskan secara medis dan ilmiah" gumam Arum.
"Tapi ya bukan soal kentut, Gendhiiiisss" gelak Arjuna.
POV End
Arum pun kembali menyimak materi seminar hari ini. Untung seminar nya cuma dua hari tidak sampai seminggu. Bisa bahaya kalau mas Bara lihat Arum Satu, bikin dia sok baper lagi!
***
Bara sedang mempelajari konsep kontrak yang kemarin diberikan oleh Ali Khan. Pria India itu memutuskan untuk memperpanjang kunjungannya ke Jakarta sedangkan Arjuna di hari Seninnya sudah kembali ke London. Selama Ali Khan di Jakarta, dia dan Bara sering bertemu untuk makan siang sembari mengajak Davina dan Arum.
Ali Khan tampaknya sangat serius mengejar Davina meskipun gadis itu tidak ada tanda-tanda tertarik ke pria India tampan itu.
"Pak Bara" suara Fajar mengalihkan pandangan Bara dari berkas kontrak.
"Apa Jar?" tanya Bara.
"Bapak mau makan siang di kantor atau di luar?"
Bara tampak berpikir. Arum sedang ada seminar pasti sudah makan disana.
__ADS_1
"Aku makan di kantor Jar. Tolong belikan salmon mentai dan bento di sushi Tei ya."
"Baik pak. Katsu atau teriyaki?"
"Katsu saja. Uang di pembelian online masih kan Jar? Masih cukup?"
"Masih pak. Kan bapak tiga Minggu ini jarang beli online jadi masih banyak" senyum Fajar yang tahu Bossnya selalu makan siang dengan gadisnya.
"Oke Jar. Tolong pesankan ya. Terimakasih."
"Saya permisi dulu."
***
Arum sedang mencari camilan ketika seseorang menepuk bahunya. Gadis itu pun menoleh dan melihat sahabatnya waktu di UNS, Thomas yang sekarang menjadi spesialis paru.
"Thomas!" seru Arum.
"Apa kabar Rum?" senyum Thomas, pria bermata sipit yang memiliki. senyum tipis.
"Alhamdulillah baik. Kamu gimana?"
"Udah merit" kekeh Thomas sambil menunjukkan cincin kawinnya di jari manis tangan kanannya.
"Congratulations! I'm so happy for you. Nikah sama siapa Thom?"
"Waahhh bagus lah!" senyum Arum tulus.
"Kamu gimana? Sudah punya kekasih? Jangan bilang masih jomblowati akut" gelak Thomas.
"Udah nggak jomblowati akut lah! Aku sudah punya pacar, fotografer tapi sekarang lagi ambil perusahaan Opanya."
"Wah bagus lah. Aku tunggu undangannya ya Rum!"
"Aamiin. Doakan saja Thom."
Arum dan Thomas masih ngobrol tentang masa lalu ketika gadis itu melihat wajah Arum Satu yang tampak tidak sehat berada di pelukan suaminya yang Arum tahu bernama Azzam Syahputra, seorang dokter spesialis bedah anak pemilik rumah sakit di Surabaya.
"Rum, kamu kenapa? Kok lihatin sampai begitu?" tanya Thomas.
"Kamu kenal dua dokter disana nggak Thom?" Arum menunjuk ke arah Arum Satu dan Azzam.
"Aku hanya kenal dokter Azzam sih tapi setahuku itu istrinya yang kebetulan namanya sama denganmu. Hanya saja menurut gosip di kalangan para dokter, istrinya sangat pendiam bahkan dibilang sombong" bisik Thomas.
"Mungkin bukan sombong sih Thom tapi dia memang pendiam saja dan introvert" ucap Arum. Kok aku jadi belain Arum Satu sih?
Sebuah teriakan terdengar dan tampak Azzam bingung melihat istrinya pingsan. Arum bergegas menghampiri Azzam dan Arum Satu bersama Thomas.
__ADS_1
"Maaf saya dokter Obgyn. Boleh saya periksa istri anda dok?" Arum kemudian memegang nadi Arum Satu dan merasakan bahwa wanita itu sedang mengandung. Arum memang sempat mempelajari teknik tabib di China yang bisa mendeteksi wanita itu hamil atau tidak.
"Selamat dokter Azzam, istri anda sedang hamil" ucap Arum.
"Sebaiknya anda bawa istri anda ke rumah sakit terdekat dokter Azzam. Saya tahu ini anak pertama kalian berdua. Mari saya antar" ajak Thomas yang memberikan kode kepada Arum untuk mengikutinya.
Mau tidak mau, Arum pun mengikuti mereka meninggalkan seminar yang masih berjalan separu karena dia mengenal para dokter di rumah sakit dekat hotel tempat mereka seminar.
***
Bara langsung datang menghampiri rumah sakit tempat Arum mengatakan bahwa dia berada disana. Pria itu tampak cemas. Bukannya tadi seminar di hotel kok malah ke rumah sakit?
Arum tersenyum melihat Bara yang tampak cemas dan tiba-tiba dirinya dipeluk oleh pria tampan itu.
"Kamu nggak papa kan? Bukannya tadi di hotel kok bisa ke rumah sakit tuh gimana?" gumamnya diatas kepala Arum.
Arum membalas pelukan Bara apalagi hidungnya mencium aroma wangi dari parfum Bara yang memabukkan.
"Aku nggak papa mas" bisiknya.
"Arum? Ini siapa?" sebuah suara maskulin membuat Bara mengalihkan pandangannya dan melihat seorang pria yang memakai sneli berwajah tampan.
"Thomas, kenalkan, ini pacarku. Mas Bara ini Thomas sahabatku waktu di UNS, tenang dia sudah menikah! Sekarang menjadi dokter paru di Semarang."
Thomas mengulurkan tangannya "Thomas."
Bara tersenyum dan membalas uluran tangan Thomas. "Bara."
"Wah akhirnya sahabatku ini urung jadi jomblowati akut" gelak Thomas. "Aku tunggu undangan kalian berdua ya."
"Aamiin" jawab keduanya.
"Kamu kesini ada apa?" tanya Bara ke Arum yang sekarang dalam pelukannya.
"Jangan marah ya mas, tapi aku kesini karena mengantarkan..." suara Arum terpotong oleh sebuah suara lain.
"Bara?"
Bara pun menoleh. "Azzam?"
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️