Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Bima v Prayogha


__ADS_3

Bima membuka pintu ruang kantornya dan tampak seorang pria paruh baya duduk di kursi untuk tamu sedang ditemani oleh seorang pria yang umurnya juga tidak berbeda jauh.


Ruang kantor Bima memang terkesan maskulin dan minimalis digabung dengan kamar tidurnya. Untuk bisa masuk ke kamar tidurnya, harus memakai passcode dan sidik jari darinya jadi tidak bisa masuk sembarangan.



Arimbi yang bingung dibawa masuk hanya menatap Bima dengan mata penuh pertanyaan tapi Bima hanya menggenggam tangannya.


"Assalamualaikum, Pa, Oom Gavin" sapa Bima kepada kedua orang pria yang duduk di sana.


"Wa'alaikum salam" sapa Gavin tapi tidak dengan Prayogha Baskara, ayah Bima. Remaja itu pun cuek lalu membawa Arimbi duduk di kursi kerjanya.


"Siapa dia Bim?" tanya Gavin melihat remaja cantik yang dibawa Bima.


"Calon istri aku!" jawab Bima tenang.


"Kamu masih 17 tahun!" kali ini Prayogha membuka suara.


"Tidak sekarang juga gue nikahnya, tuan Prayogha. Setidaknya Arimbi, calon istri gue, jelas-jelas sesuai dengan kriteria gue yaitu tidak matre! Karena dia lebih kaya dari gue!" ucap Bima dengan tatapan tajam ke papanya. "Tumben kalian pada kesini. Bawa Oom Gavin sebagai pengacara. Ada apa? Minta tanda tangan gue buat pemindahan aset? Iya?"


Arimbi memegang tangan Bima dan mengelusnya pelan seolah menegur agar tidak emosi. Sedikit banyak dia bisa menebak hal yang sama dengan Bima.


"Siapa cewek itu?" tanya Prayogha sinis. "Paling juga cabe-cabean."


Rahang Bima mengeras tidak terima Arimbi dikatai seperti itu dan rasanya ingin menghajar papanya namun sebuah elusan membuatnya menahan diri.


"Setidaknya dia dari keluarga baik-baik, bukan kampret matre yang Anda nikahi!" balas Bima sinis. "Langsung saja ke inti masalah. Toko emas mana lagi yang harus gue serahkan ke biatch itu?"


Gavin menyebutkan sebuah toko yang berlokasi di sebuah mall di Jakarta Selatan. Bima tampak emosi dan dia tidak terima kalau toko emas yang itu yang diminta karena itu adalah peninggalan sang mama dan tidak bisa diserahkan kalau tidak ada tanda tangan Bima dan Radit karena selama ini Radit yang mengawasi dan mengelolanya.


"Benar-benar ya tuan Prayogha Baskara yang terhormat! Masih kurang itu 12 toko emas diambil semua? Gue sumpahi anda bakalan bangkrut! Dan jika anda bangkrut, jangan cari gue!" hardik Bima marah.


"Heh! Jaga mulut kamu! Saya ini papa kamu!" bentak Prayogha.


"Betul, tapi anda hanya menyumbang sper*ma, kecebong, bibit doang ke mama saya! Tapi apakah selama ini anda pernah bersikap sebagai ayah yang benar? Suami yang benar? Kemana Anda disaat saya mulai belajar berjalan? Kemana ada disaat saya mulai masuk sekolah? Dan kemana anda disaat mama saya terbaring lemah di rumah sakit melawan kankernya?


Anda bukan ayah atau suami yang patut dihormati karena kelakuan anda sendiri! Memberikan kecebong anda ke rahim mama saya bukan berarti anda harus saya hormati! Hanya dua orang yang di patut saya hormati, almarhum mama saya dan Oom Radit! Anda tidak layak karena dari sikap anda sendiri! Dan dengar ucapan saya. Saya dan Oom Radit tidak akan menyerahkan toko emas itu ke anda! Karena toko emas itu adalah satu-satunya milik mama saya dan peninggalan dari Savita Hermawan dan Eyang Hermawan. Berikan saja aset Anda sendiri tuan Prayogha Baskara, jangan milik mama saya!" Nafas Bima naik turun akibat emosi.

__ADS_1


"Anak kurang ajar! Jangan pakai nama 'Baskara' di belakang namamu!" hardik Prayogha.


"Dengan senang hati, tuan Prayogha yang terhormat! Saya akan memakai nama Hermawan sejak hari ini! SAYA AKAN MEMBUANG NAMA BASKARA! Dan sejak hari ini, hubungan kita putus sebagai ayah dan anak!" bentak Bima. "Ingat tuan Prayogha, ini terakhir kalinya anda berhak menginjak rumah saya! Dan anda Oom Gavin, jangan sekali-kali membujuk Oom Radit atau kalian akan menyesal!"


Prayogha keluar dari ruang kantor Bima dengan amarah menyala-nyala. Permintaan Arum, istrinya untuk dibangunkan rumah sakit memang membutuhkan biaya banyak dan toko emas yang dimiliki Savita itu paling besar dibandingkan yang lain serta satu-satunya yang tidak bisa dia miliki.


Anak sialan!


Gavin menatap Bima yang wajahnya memerah menahan amarahnya. "Bima, apa kamu serius menggantikan nama belakang mu?"


"Serius Oom! Tolong diurus semuanya ya. Kan Oom juga pengacara aku tapi misal Oom tidak mau karena memilih bekerja dengan orang itu, aku akan mencari pengacara sendiri."


Gavin mengangguk. "Oom sarankan kamu mencari pengacara sendiri saja karena Oom takut berkas kamu nantinya bisa disalahgunakan oleh papamu. Tahu sendiri kan papamu seperti apa."


Pria paruh baya itu menatap ke Arimbi. "Wajahmu kok familiar. Apa ada hubungannya dengan dokter Arum Pradipta?"


"Dia mami saya" jawab Arimbi tenang.


Gavin melongo lalu tertawa terbahak-bahak. "Bim, jangan sampai papamu tahu kamu berhubungan dengan putri keluarga Giandra karena bisa habis papamu."


"Terlambat Oom, mereka sudah tahu."


***


"Mas..." Bima langsung membuka matanya dan mata hitamnya menatap Arimbi terkejut.


"Hah? Kamu... panggil aku apa?" tanyanya tergagap.


"Mas Bima."


Tanpa diduga, Bima langsung memeluk Arimbi erat. "Aku jangan kamu hajar! Please, biarkan seperti ini dulu" bisiknya. Arimbi pun membalas pelukan Bima.


"Maaf ya sayang harus melihat drama keluarga aku. Tapi aku benar-benar ingin membuang nama Baskara di belakang namaku. Aku muak dengan nama itu" bisik Bima.


"Mas butuh pengacara?" Arimbi melerai pelukannya dan menatap serius ke Bima.


"Iya. Aku membutuhkan pengacara sekarang karena tahu si Prayogha itu pasti akan menyerang aku dan Oom Radit."

__ADS_1


"Aku ada kakak sepupuku yang berprofesi pengacara dan besok akan ke Jakarta. Aku akan opening dulu ke dia tentang masalah yang dihadapi mas Bima."


"Namanya siapa?"


"Travis Blair."


Bima menepuk jidatnya. Itu kan memang keluarga pengacara kondang!


***


Arimbi melakukan panggilan zoom dengan sepupunya Travis Blair yang usianya sepuluh tahun lebih tua darinya. Travis Blair adalah putra dari James Blair, cucu dari Neil Blair dan cicit dari Stephen Blair.



Introducing Travis Stephen Blair


"Jadi pacarmu itu mau mengganti nama belakangnya? Abang kaget lho ada ayah seperti itu sama anaknya" ucap Travis yang sekarang berada di Singapore.


"Bang Travis, kak Bima bukan pacar aku" sahut Arimbi manyun.


"Bukan tapi calon suami kamu" gelak Travis. Arimbi semakin memajukan bibirnya. "Semua keluarga tahu lho soal kamu dikejar-kejar Bima."


"Astaghfirullah!"


"Look Rimbi, Abang bisa bantu kamu tapi nggak gratis!" cengir Travis.


"Jangan mahal-mahal bang" rengek Arimbi.


"Kagak, Abang kalau soal Bima pro Bono tapi abang minta kalian makan malam sama Abang. Gimana?"


Arimbi tersenyum. "Deal!"


***


Yuhuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2