
Apa sih perbedaan antara sosiopath dan psikopat? Akan Eike jelaskan Yeeee.
Perbedaan cara bersikap
Psikopat kerap kali merupakan orang yang pintar, menawan, dan pandai dalam menirukan emosi. Mereka bisa saja berpura-pura tertarik kepada Anda padahal sebenarnya tidak. Menurut Tompkins, mereka adalah aktor yang misi utamanya adalah memanipulasi orang-orang demi kepentingan pribadi.
Sementara itu, sosiopat biasanya tidak sepandai psikopat dalam berpura-pura. Mereka akan menunjukkan kejelasan bahwa mereka tidak tertarik kepada Anda dan bersikap egois. Mereka kerap menyalahkan orang lain dan hanya peduli terhadap diri sendiri. Sosiopat lebih impulsif, sementara psikopat lebih berhati-hati.
Jadi soal Arum Banowati, dia itu sebenarnya gabungan antara sosiopath dan psikopat meskipun lebih kecenderungan ke sosiopath. Gabungan inilah yang berbahaya. Jika readers pernah dengar namanya Ted Bundy, si pembunuh berantai yang diperkirakan membunuh sekitar 30 lebih wanita di tahun 1974-1978, dia adalah gabungan sejati antara psikopat dan sosiopath.
Sumber Wikipedia
***
Bima dan Travis tiba di kantor pengacara Blair & Blair Advocate yang dibangun oleh Stephen Blair yang sebelumnya menbuka kantornya di London tapi setelah menikah dengan Diana, seorang dokter jantung asal Indonesia, Stephen memindahkan semua pusatnya ke Jakarta.
Keduanya pun masuk ke dalam kantor mewah itu dan langsung menuju lantai empat, tempat James dan Neil bekerja. Travis sendiri memiliki kantor di lantai tiga yang merupakan junior partner dan masih mengurus kasus-kasus middle class.
"Yuk Bim" ajak Travis menuju ruang kerja ayahnya.
Bima pun masuk ke ruang kerja mewah itu dan melihat ayah dan opanya berdiri disana. Remaja itu bisa merasakan aura dingin dan tegas dari Opa Neil.
"Bima, kenalkan ini papaku James Blair, dan ini opaku Neil Blair. Tenang, Opa nggak gigit kok" kekeh Travis.
"Gigit nggak, ngajak debat iya" sahut Neil judes. "Bimasena."
"Opa Neil. Oom James" sapa Bima sopan.
"Semoga kamu nggak jetlag ya" senyum James ramah.
"Insyaallah nggak Oom. Ada apa saya diminta datang kemari?" tanya Bima penasaran.
"Duduk dulu. Kita ngobrol disini" ajak James ke sofa empuk disana. "Oom sudah memesan makanan untuk makan siang jadi sambil menunggu, kita ngobrol dulu."
"Dad pesan apa?" tanya Travis.
"Bento lah seperti biasa yang praktis" jawab James.
"Oke Bima. Opa mau langsung saja ya nggak pakai basa basi. Jadi selama ini papamu memang mulai sadar yang nyaris terlambat tapi better late than nothing. Dan semua aset yang sudah papamu serahkan, dalam proses pembekuan dan hendak diambil alih lagi ke papamu karena Arum melanggar perjanjian pra nikah yang untungnya pengacara papamu sebelumnya bukan Gavin jadi masih benar."
Suara Neil terhenti ketika suara ketukan di pintu terdengar.
"Maaf tuan Blair, saya mengganggu tapi pesanan makan siang anda sudah datang" suara sekretaris James terdengar dari pintu.
__ADS_1
"Bawa kemari, Sarah."
"Baik tuan."
Sarah dan bagian delivery datang membawakan empat bento dan langsung menatanya di meja. Setelahnya keempat orang disana menikmati makan siang dulu sebelum pembicaraan serius.
Bima merasa kenyang makan bento hari ini yang memang porsinya banyak.
"Kita lanjutkan ya" ucap Neil Blair. "Papamu juga sudah bersedia untuk menyerahkan sisa aset yang ada ke tanganmu, Bima."
Bima hampir terjatuh. "Aaa...aapaaa Opa?"
"Semua toko emas yang masih dipegang papamu, akan diserahkan semuanya padamu. Semua akan dibalik nama ke atas namamu." Neil menatap tajam ke Bima. "Apa kamu sanggup memegang beban ini, Bima?"
Bima menatap Neil, James dan Travis bergantian. "Opa, apa alasan Prayogha menyerahkan kepada saya semua? Saya memiliki warisan mama saya dan bengkel milik saya sendiri itu sudah cukup bagi saya."
"Bima, Oom tahu kamu bukan tipe pria serakah tapi apakah kamu rela semua itu jatuh ke istri papamu sekarang? Meskipun masih dalam proses cerai, mereka masih terikat sebagai suami istri dan meskipun ada perjanjian pra nikah, Arum akan menuntut harta gono-gini."
"Tapi Oom, apakah bisa dia meminta harta Prayogha? Padahal dia jelas-jelas melanggar perjanjian pra nikah" tanya Bima.
"Dia akan melakukan apa saja termasuk merayu hakim" kekeh James santai.
"Jika urusan Prayogha sudah selesai, saya mau mengembalikan lagi ke dia."
"Aku hanya mau menerima jika Prayogha meninggal sebab aku tahu, dia tidak akan bisa hidup jika harus kehilangan semuanya. Anggap saja ini bantuan dari aku untuk menyelamatkan aset yang tersisa." Bima menatap semua orang disana.
"Apa kamu yakin Bim?" tanya Neil.
oh my
"Iya Oom. Saya bukan tipe orang yang hidup bermewah-mewah, karena mama saya selalu mengajarkan Urip Kuwi sak Madya, hidup itu secukupnya. Saya bisa hidup dan menghidupi orang dari usaha bengkel saya yang Alhamdulillah ramai, toko emas warisan mama saya pun ramai dengan pengawasan dari Oom Radit dan saya. Fokus saya sekarang hanyalah lulus kuliah dan melamar Arimbi. Biar Prayogha menghadapi semua kekacauan dia sendiri karena siapa yang menabur dia yang menuai. Saya mau membantu sebatas pemindahan aset sementara, setelah semuanya selesai, saya akan kembalikan lagi."
Neil Blair tersenyum smirk. "Bodoh Prayogha! Punya anak seperti kamu malah dia sia-siakan!"
***
Bima kembali ke bengkelnya dengan perasaan lega. Setidaknya dia sudah menyampaikan pendapatnya hasil pembicaraan dengan Arimbi.
POV New York
"Mas mau ambil alih semua aset pak Prayogha?" tanya Arimbi.
"Menurut mu?"
__ADS_1
"Aku serahkan semua keputusan kepada mas Bima. Apa yang mas pikirkan?"
"Aku sudah mikir lama tadi sayang. Bagaimana kalau aku diminta mengambil aset Prayogha, aku akan ambil tapi sementara sampai urusan dia dan wanita itu selesai. Setelahnya akan aku kembalikan ke Prayogha."
"Mas yakin?" tanya Arimbi.
"Yakin. Akan aku kembalikan karena aku sudah cukup dari toko emas dari mama dan bengkel ku. Apa kamu merasa kurang jika aku hanya memiliki bengkel dan toko emas satu?" Bima menatap Arimbi.
Gadis itu tergelak. "Astaghfirullah! Mas Bima lupa aku anaknya siapa? Memang aku mikir soal harta benda?"
Bima tersenyum. Inilah yang aku suka dari Arimbi, gadis yang simple. Benar-benar khas keluarga besar Pratomo.
"Mas memutuskan seperti itu tidak apa-apa ya?" tanya Bima.
"Kalau mas ikhlas, aku dukung saja. Karena kalau kita ikhlas, jalannya akan dipermudah, mas" Arimbi memegang tangan Bima.
Bima menatap Arimbi sayang. Pria itu langsung memeluk gadis itu. "Terimakasih Arimbiku. Kamu benar-benar pilihanku."
POV New York End
Bima masuk ke dalam rumahnya dan segera menyalakan iMac nya dan dia melakukan panggilan ke Arimbi yang sudah kembali ke Massachusetts.
"Assalamualaikum mas" sapa Arimbi di layar iMac nya.
"Wa'alaikum salam. Sayang, aku lakukan apa yang aku putuskan di New York."
"Benarkah mas diminta mengambil alih aset?" Bima mengangguk.
"Aku sudah bilang seperti itu ke Opa Neil..."
BOOM !
Suara ledakan terdengar keras dan suara kaca pecah terdengar kencang serta asap hitam gelap menutupi layar sebelum menghitam.
"Mas? Mas Bimaaaa! MAS BIMAAAA!" teriak Arimbi melihat layar iMac nya dipenuhi dengan gambar hitam.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1
Yang nanyain visualnya