Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Ke Mansion Giandra


__ADS_3

Bara, Raka dan Anarghya menatap remaja pria itu dengan tatapan tajam. Jiwa babeh, opa dan adik laki-laki yang reflek melindungi emak, Oma dan kakak perempuan mereka pun muncul.


"Apa maksudmu calon suami masa depan Arimbi? Memangnya kamu siapa?" tanya Bara tajam.


"Kan saya tadi sudah bilang. Mr Giandra kalau nama saya Bimasena Rahadian Baskara. Saya kakak kelas Arimbi" senyum Bima sopan. "Saya menyukai putri dan cucu anda. Mumpung kita bertemu disini, saya memberanikan diri untuk menembung Arimbi."


Arum dan Luna hanya bisa tersenyum geli melihat wajah Bima yang serius sedangkan ketiga pria beda generasi semuanya ingin menghajar Bima.


"Arimbi, apa kamu pacaran sama anak ini?" tanya Raka.


"Mboten Opa" jawab Arimbi sambil menatap Opanya dengan tatapan bingung. Kok jadi seenaknya sendiri sih main nembung ke papi, mami, Oma dan Opa sih?


Bima terkejut mendengar ucapan Arimbi yang memakai bahasa Jawa halus.


"Nak Bima, kalau ada waktu, bisa mampir ke mansion kami dan bisa berbicara disana dengan tenang, bukan suasana seperti ini" ucap Arum menengahi.


"Gendhis! Kok malah kamu suruh anak aneh ini ke rumah?" protes Bara tidak terima.


"Bara, kayak kamu nggak pernah muda saja" ucap Luna. "Kamu kalau punya nyali seperti ini, datang ke rumah keluarga Arimbi. Jangan di tempat publik dengan situasi begini."


"Astaga, Oma pun belain pria gak jelas ini?" pendelik Anarghya kesal.


"Sudah, kita pulang! Kamu, anak muda, jangan suka mengada-ada!" Raka lalu membawa semua keluarganya meninggalkan Bima yang masih terpaku mendengar ucapan tegas mantan diplomat itu.


"Maaf kak Bima. Kami permisi" pamit Arimbi sopan sebelum ditarik oleh Anarghya yang menatap judes ke remaja yang dengan pedenya nembung ke babehnya.


Bima hanya tersenyum kecut. Sebenarnya gue kesal, bokap, opa dan adiknya ngajak gelut tapi setidaknya nyokap dan omanya masih punya hati. Semangat Bim!


***


Di dalam mobil, Bara mulai menginterogasi putrinya yang tampak bingung gara-gara kelakuan Bima yang nyeleneh.


"Kamu kenal dimana sama anak nekad itu? tanya Bara.


"Rimbi baru kenal kemarin Pap. Dia kan kelas tiga, Rimbi kelas satu dan kata Rina, kak Bima itu memilih sekolah online dan baru masuk kemarin karena mau ujian nasional kelas tiga" jawab Arimbi apa adanya yang sudah mendapatkan kisi-kisi dari Rina yang masih ada hubungan saudara jauh dengan ayah Bima.


"Kenapa dia bisa bilang begitu? Memangnya kamu memberikan harapan gitu?" cecar Bara.


"Ya Allah, papi. Aku tuh baru bertemu dia kemarin dan memang dia langsung menembak aku menjadi pacarnya tapi aku nggak menanggapi." Arimbi menatap Bara dan Arum bergantian.


Baik Bara dan Arum tahu putrinya tidak berbohong tapi ada yang nembung di usia seperti ini, membuat keduanya pusing.


"Rimbi masih mau sekolah mam, pap." Arimbi tersenyum ke arah kedua orangtuanya. "Kan aku sudah janji dengan kak Hoshi masuk Harvard."


"Ya sudah, besok kalau bocah sok pede maksimal itu datang, bilang kamu masih mau sekolah!" putus Bara.

__ADS_1


"Njih papi."


***


Bima melepaskan batiknya dan meninggalkan celana hitamnya. Tubuhnya yang memang dia rawat itu menunjukkan otot-otot yang dia tempa demi bisa memiliki bodi bagus dan sehat.


Segera dia membuka laptopnya dan melihat silsilah keluarga Arimbi. Bima mengusap dagunya dengan kasar. Keluarganya mengerikan.


Bima lalu memprint foto-foto Arimbi yang didapatnya dari akun instagramnya dan saat dia menari. Salah satunya ketika sedang tersenyum melihat kamera. Bima merasa cemburu melihat wajah Arimbi yang tersenyum lebar dan wajahnya berseri.



Siapa yang mengambil fotomu ini? Kenapa gue pengen jadi orang yang mengambil fotonya ini.


Bima melihat keterangan di foto itu.


📸 Taken by Hoshi.


Siapa lagi itu Hoshi? Kok gue kagak Nemu nama itu di silsilah keluarga elu, Rimbi?


Bima tetap mencari nama Hoshi di google tapi tidak ada yang berhubungan dengan keluarga Giandra.


Siapa dia?


***



Mengenakan jaket jeans dan Hoodie, Bima pun berjalan menuju pintu utama mansion Giandra setelah memarkirkan motornya di depan garasi. Sebelumnya dia tersenyum melihat empat buah Vespa disana yang salah satunya adalah Sei Giorni limited edition.


Sebagai pemilik bengkel motor, Bima hapal semua macam merk motor karena dia memiliki banyak suku cadang berbagai jenis.


"Silahkan duduk dulu, mas Bima" ucap seorang pelayan yang berusia sekitar lima puluhan.


"Terimakasih Bu" jawab Bima sopan dan meletakkan pan*tatnya di sofa empuk itu.


Mata hitam Bima memindai ruang tamu itu dan tampak beberapa foto keluarga disana yang Bima mulai hapal. Abimanyu Giandra dan Adara Utari, Ghani Giandra dan Alexandra Cabbot Giandra, Rhea Giandra Blair dan Duncan Blair. Itu eyang buyut, opa dan Oma serta opa Tante dan opa Oom Arimbi. Ega, Abi, Reana dan Anarghya, sepupu kandung Arimbi. Bima tersenyum sendiri. Susah kalau punya keluarga besar bukan kaleng-kaleng.


"Kenapa senyum-senyum anak aneh?" sarkasme Bara yang melihat Bima asyik melihat-lihat foto keluarganya.


"Selamat pagi Oom Bara." Bima mengulurkan tangannya yang dibalas Bara namun remaja itu mencium tangan pria paruh baya itu dengan takzim.


"Mana panggilan mu yang Mr Giandra?"


"Apa saya pegawai Oom? Bukan kan? Saya calon menantunya Oom Bara lho" ucap Bima yakin.

__ADS_1


Bara melongo mendengar ucapan remaja usia 17 tahun itu. Ya ampun pedenya nih bocah!


"Sekarang, jelaskan pada saya apa maksudmu main nembung Arimbi seperti itu?" Bara menyandarkan punggungnya di sofa sambil menatap tajam remaja tampan itu yang tampaknya tidak ada takut-takutnya.


"Saya menyukai putri Oom jadi jauh-jauh hari saya sudah mengklaim langsung ke Oom."


"Kamu kan masih sekolah!"


"Nggak sekarang juga Oom nikahnya, Arimbi kan masih 15 tahun."


"Terus preman seperti kamu bisa kasih apa ke anak saya? Itupun kalau putri saya mau sama kamu. Karena semalam Arimbi sudah bilang sama saya kalau dia tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan kamu atau siapapun karena fokusnya adalah untuk kuliah di Harvard."


"Saya akan menunggu Arimbi, Oom" ucap Bima serius.


"Bima, kalian itu masih belia, masih labil. Saya tidak yakin bahwa Arimbi akan berjodoh dengan kamu. Biarlah berjalan apa adanya, jangan memaksakan kehendakmu dengan Arimbi."


Bima terdiam. "Tapi saya yakin Arimbi jodoh saya Oom" ucapnya setelah terdiam lama.


"Jika kamu tidak percaya apa keinginan Arimbi..."


"Papi, kak Bima" suara lembut Arimbi muncul sambil membawakan baki berisi dua cangkir teh dan camilan.


Bima melongo. Bukannya ada pelayan tapi kenapa Arimbi sendiri yang mengantarkan minumannya.


"Princess, bilang sama anaknya Pandu ini kalau kamu nggak mau pacaran dulu" ucap Bara ke Arimbi.


"Sebentar pap, aku simpan bakinya dulu ke dalam." Arimbi meletakkan baki di ruang tengah dan menyusul duduk di sebelah Bara.


"Oom, papa saya namanya bukan Pandu" protes Bima.


"Bima di Mahabarata anaknya siapa?" sahut Bara cuek.


"Anaknya Pandu dan Dewi Kunti..." jawab Bima pelan.


"Gitu masih ngeyel!" dengus Bara yang membuat Arimbi terkikik.


Ya ampun manisnya jodoh aku!


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Bima dan Arimbi mau aku buat gado-gado, kadang membagongkan kadang melow. Tergantung perkembangan ceritanya.


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2