
"Bimaaaaa! Bimaaaaa!" suara teriakan Jono dan Travis terdengar sayup-sayup ditambah suara sirine dari polisi dan pemadam kebakaran pun mulai datang.
Travis sendiri usai mengantarkan Bima harus memutar karena dompet pria itu terjatuh di jok Range Rover nya. Ketika mobilnya hendak mendekati bengkel Bima, ledakan itu terjadi membuat Travis terbelalak tidak percaya. Bahkan mobil mewahnya terkena imbas ledakan dahsyat.
Jono sedang membeli roti bakar untuk kedua anaknya tidak terlalu jauh dari bengkel ketika suara ledakan itu terdengar Bergegas Jono bangun dan berlari menuju bengkel karena dia tahu Bima baru saja pulang dari pergi bersama Travis.
Kedua orang itu mengacuhkan panasnya rumah yang masih ada api. Keduanya sebelumnya mengguyur tubuh mereka dengan air hingga bajunya basah dan nekad masuk ke sisi rumah Bima yang porak poranda melalui jendela yang sudah bolong.
"Bang Jono!" Travis melihat Bima terkapar dengan tubuh penuh luka di sisi dinding kaca. Pria bule itu bersyukur rumah yang dibangun Bima dari bahan berkualitas tinggi dengan tembok pembatas bengkel tebalnya hingga hampir 2 meter.
Travis langsung menghampiri Bima dan memegang nadinya di leher. Masih ada denyut tapi lemah.
"Kita bawa ke rumah sakit, bang!" Travis dan Jono membopong Bima keluar dari rumah itu dan langsung memasukkan ke dalam mobil Travis.
"Bang Jono, tolong urus sini ya, aku akan bawa Bima ke rumah sakit!" Travis segera mengebut dan di sepanjang jalan dia menelpon James, Bara dan Duncan. Arimbi pasti lagi panik sekarang.
***
Bara, Arum, Ghani dan Alexandra sampai di rumah sakit dan mereka melihat James dan Neil Blair sudah berada di sana.
"Dimana Travis?" tanya Bara.
"Sedang memberikan kesaksian ke pihak kepolisian" jawab James.
"Bagaimana Bima?" tanya Alexandra.
"Masih dioperasi. Kabarnya rusuknya patah tiga tempat, dan tubuhnya penuh pecahan kaca. Dan kita tidak tahu luka dalamnya bagaimana." Neil menatap sepupu dan keponakannya. "Luka internal aku belum tahu."
"Astaghfirullah! Siapa yang berani berbuat seperti ini?" Arum menatap Bara.
Suara ponsel Bara terus berbunyi. Arimbi.
"Assalamualaikum" sapa Bara.
"Wa'alaikum salam. Papi! Gimana mas Bima?" suara Arimbi terdengar panik disana. "Aku pulang ke Jakarta malam ini!"
"Masih dioperasi, princess. Kamu pulang sama siapa?"
"Mas Abi, Hoshi dan Ega. Oom Levi dan Oom Rhett menyusul."
Bara menghela nafas panjang. "Hati-hati princess." Bara menutup panggilannya.
"Apakah ada yang memiliki golongan darah O atau B positif?" seorang suster keluar dari ruang operasi.
"Saya dan Dad O" jawab James.
"Saya B positif, putra saya juga" ucap Alexandra.
__ADS_1
"Ambil saja sus! Butuh berapa silahkan ambil!" ucap Bara.
"Mari semua, kita periksa anda semua" ajak suster itu.
***
Arimbi sudah berada di dalam pesawat milik keluarga Blair bersama Abi, Ega dan Hoshi. Sepanjang jalan gadis itu tidak bisa menangis dan hanya termangu. Seolah tidak percaya tadi dirinya melihat Bima terpental dan sedetik kemudian gelap.
"Rimbi, percaya sama mas Abi. Bima itu kuat, sayang. Dia akan selamat." Abi memeluk Arimbi.
"Aku juga tidak mau dia mati. Nggak ada musuh debat nanti!" ucap Hoshi yang langsung mendapat pelototan dari Abi dan Ega.
"Lambenya dikondisikan cumiiii !" desis Ega sebal. Disaat lagi suasana panik dan tegang begini, bisa-bisanya sepupu lucknutnya bilang begitu. Ega melihat Arimbi memasrahkan kepalanya di bahu Abi.
Ya ampun, kasihan Arimbi. Siapa yang berani melakukan peledakan itu.
***
Travis dan Jono berkoordinasi dengan pihak kepolisian ikut memeriksa TKP bengkel Bima yang luluh lantak. Selain Bima yang menjadi korban, ada dua korban lagi meninggal, yaitu dua pegawainya yang memang tidur di dalam bengkel.
Arya Ramadhan yang datang untuk ikut menyelediki dan menemani keponakannya hanya bisa beristighfar melihat dahsyatnya ledakan. Beruntung Bima selamat meskipun kritis.
"Bima dimana Vis waktu kejadian?" tanya Arya kepada Travis.
"Bima posisi di rumah induk Oom. Aku pernah masuk kesana dan memang ruangannya kedap suara karena Bima cerita ingin memisahkan privacy dan bengkel."
"Bang Bima biasanya tidur di kamar bengkel tapi semalam memilih di rumah induk, pak Arya" ucap Jono yang memang mengenal Arya karena pelanggan bengkel Bima.
"Pak Kapten. Bagaimana hasil penyelidikan awal?" tanya Arya sambil menerima jabatan tangan pria yang seumuran dengannya.
"Bom mobil, pak Arya. Hasil penyelidikan awal tim Gegana dan forensik menilai ini dari bom mobil. Apakah kemarin sore ada mobil masuk pak Jono?" tanya Kosasih.
"Memang ada pak Kapten, sore jam empat, setengah jam sebelum bengkel tutup" jawab Jono. "Pelanggan baru dan kami baru pertama kali melihatnya."
"Ciri-cirinya?"
"Wanita, sekitar dua puluhan dan mobilnya adalah Honda CRV putih" ucap Jono. "Saat itu mobil yang di bengkel hanya ada satu Civic classic lalu menjadi dua dengan CRV putih itu."
"Jono, apakah semua rekaman CCTV bisa diselamatkan?" tanya Arya.
"Semua rekaman CCTV disimpan di cloud oleh bang Bima jadi tetap tersimpan meskipun peranti kerasnya rusak seperti ini. Saya dan bang Bima yang tahu password nya."
"Bagus! Nanti kita buka rekamannya pak Jono" ucap Kapten Kosasih. "Siapa yang membenci bengkel yang dikenal tidak pernah bersinggungan dengan pihak lain." Arya, Jono dan Travis memandang Kosasih. "Istri saya langganan sini. Honda Civic classic yang sedang direstorasi itu adalah miliknya."
Jono melongo. "Bu Mira? Itu istri bapak?" Kosasih mengangguk. "Tampaknya Honda Civic milik bapak benar-benar sudah direstorasi total."
Arya dan Travis mendelik mendengar ucapan Jono. Seriously? Disaat seperti ini bisa-bisanya Jono ngomong gitu.
__ADS_1
Pihak koroner membawa dua kantung mayat dari dalam bengkel membuat orang-orang disana sesak dan sedih.
"Bang Jono tahu siapa mereka?" tanya Arya.
"Iya pak. Yusman dan Trisman. Keduanya berusia 27 tahun, lajang dan mantan anak buah saya sewaktu saya masih di dunia hitam. Mereka memang saya minta berjaga malam ini menemani bang Bima."
"Pak Arya, kami akan menyelidiki siapa di balik tragedi ini" ucap Kosasih.
"Jika pak Kosasih membutuhkan bantuan, kami akan bantu" senyum Arya.
"Kok bisa Bima berhubungan dengan keluarga anda pak Arya?" Kosasih tahu Arya Ramadhan dan Travis Blair masih berhubungan dengan klan Pratomo.
"Karena Bima adalah kekasih Arimbi, putri Bara Giandra." Kapten polisi Kosasih langsung paham. Benar-benar cari mati orang yang mengusik keluarga besar Pratomo.
***
Bima sudah selesai dioperasi dan hasilnya tulang rusuk patah dan retak di tiga tempat, bahu dislokasi, limpa bocor, tubuh penuh dengan pecahan kaca, gegar otak dan patah kaki kiri.
"Beruntung ada penghalang tebal pak, jadi efeknya Mas Bima masih selamat. Saya tahu kondisi bengkelnya karena saya juga pelanggan dia" ucap dokter yang baru saja mengoperasi Bima. "Bengkel dia kan sangat luas dan ada rumah kecil di sebelah bengkel yang saya tahu itu rumah dia."
Neil, Ghani, Bara dan James mendengarkan semua penjelasan dokter sedangkan Alexandra dan Arum, kedua dokter itu memeriksa semua kondisi Bima dari catatan kesehatan pasca operasi.
"Apakah dia akan bisa pulih seperti sedia kala dok?" tanya Bara.
"Insyaallah pak. Mas Bima kuat kok seperti namanya."
"Tuan Blair!"
Keempat saudara itu menoleh dan tampak Prayogha dengan wajah panik berdiri di dekat ruang ICU Bima.
"Apa yang terjadi?"
"Seseorang berusaha membunuh anakmu!" ucap Neil Blair dingin.
"Astaghfirullah."
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa
Eike tuh Googling buat cari desain rumah dan bengkel Bima nggak ketemu. Mau bikin sendiri kok males 😅😅😅. Jadi kebayang ya bengkel Bima berada di sebelah rumah nya dan tuh bengkel luas banget. Rumah Bima sendiri memang menempel dengan bengkel tapi dilapisi tembok tebal agar kedap suara, tidak terdengar bising dari tempat bengkel.
Ledakan dari bom mobil dapat mencapai 2 hingga 3 psi dan kecepatan angin di atas 100 mph, berpotensi menyebabkan kerusakan besar pada bangunan, cedera parah dan kerusakan cukup yang bisa membunuh beberapa orang.
Bisa dibayangkan ya. Eike susah jabarinnya dan berusaha serealistis mungkin.
eniwaiii, Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️