
Bara dan Arum sekarang berada di sebuah tempat kuliner yang cukup ramai, apalagi long weekend karena Senin libur. Keduanya sengaja memilih tempat agak memojok, Bara tepatnya yang memilih meja untuk berdua di Ndoro Donker.
Arum yang melihat perubahan wajah dan mood Bara hanya menunggu pria itu bicara. Bara kembali menjadi Bara yang dingin seperti awal Arum bertemu.
"Kenapa namamu harus ada Arumnya sih Dis?" tanya Bara.
"Ya, mas Bara harusnya tanya sama eyang putriku karena beliau yang kasih nama itu ke aku. Itu pun kalau mas bisa ketemu sama eyang" senyum Arum yang mulai meraba-raba ada sesuatu di Bara dengan nama 'Arum' bahkan kedua orang tua Bara pun memanggilnya 'Gendhis'.
"Aku akan menceritakan sesuatu Dis, sesuatu yang harus aku ceritakan sendiri sebelum sepupu durjanaku bercerita padamu."
Bara mengambil sebatang rokok dari dalam tasnya lalu menyalakannya. Setelah dua isa**pan dalam dan menghembuskan asapnya kasar, Bara menatap Arum dengan dalam.
"Aku dulu mengalami kecelakaan parah Dis. Aku bukanlah seorang CEO Giandra Otomotif Co seperti sekarang ini karena pekerjaan ku sebenarnya adalah seorang fotografer profesional untuk National Geographic. Aku terbiasa keliling dunia sejak usia 19 tahun, mencari obyek foto flora dan fauna."
Arum hanya terdiam sambil menatap Bara dengan wajah serius.
"Dua bulan setelah Nisha menikah dengan Iwan tepatnya dua tahun lalu, aku terbang ke Bali untuk pemotretan disana atas permintaan NatGeo. Aku di Bali selama dua Minggu dan kami berencana pulang ke Jakarta menggunakan helikopter yang sudah disediakan. Di tengah perjalanan, helikopter kami mengalami kecelakaan dan jatuh di laut selatan."
Arum terkesiap mendengar cerita Bara.
"Mas Bara gimana bisa selamat?"
"Mas Bara nggak ingat, Dis. Tahu-tahu aku sudah di rumah penduduk daerah pantai Pacitan. Disana aku ditolong oleh Pak Ricky dan putrinya yang bernama Arum Banowati."
Arum membelalak. Pantas ketika mas Bara pertama kali bertemu denganku, wajahnya tidak suka.
"Dan dia dokter juga. Bisa kamu tangkap kan dari cerita aku?"
"Mas Bara jatuh cinta sama Arum Satu ya?" tebak Arum.
"Kok Arum satu?"
"Ya iyalah, mas Bara kan ketemu Arum pertama jadi aku bilang Arum Satu lah. Aku Arum dua kasarannya" kekeh Arum.
"Terserah deh Dis" senyum Bara. "Dan iya memang aku jatuh cinta dengan Arum satu, kami pacaran jarak jauh karena aku di Jakarta dia di Pacitan. Aku merasa sudah cocok dan serius, bahkan aku sudah bersiap mau melamarnya Dis. Tapi apa yang aku lihat disana. Dia menikah dengan orang lain padahal tanpa bercerita apapun. Alasannya sudah dijodohkan dari kecil."
__ADS_1
"Idiiihhh, itu namanya traitor! Kalau memang ada perjodohan, jangan terima mas Bara dong! Terus tadi mas Bara kenapa bengong? Apa melihat tadi cewek yang turun dari mobil Pajero hitam di rumah Oom Sofyan?" cecar Arum. "Itu yang namanya Arum satu? Sama suami dan bapaknya ya? Move on mas!"
Bara melongo. Arum Dua ini ternyata bisa galak juga.
"Kalau aku jadi mas Bara, aku cari cowok lain yang jauh dari mantan yang tidak benul itu..."
"Betul Dis" potong Bara.
"Terserah aku yang ngromyang! Pokoknya kalau aku jadi mas, aku milih move on. Cowok bukan dia saja, dan aku akan buktikan bahwa aku bisa mencari yang lebih dari situ! Memang aku jelek? Kagak lah! Aku cantik, pintar, rajin bersedekah, kenapa harus terpaku sama satu orang kalau Tuhan menciptakan banyak cowok? Mas Bara juga harus gitu! Cari cewek yang lebih dari si Arum satu itu!"
"Udah kok. Udah dapat malah tapi nggak tahu ceweknya itu nyadar atau nggak."
Arum mendelik. "Lha terus kenapa tadi sok galau? Iiihhh kukira cewek doang yang sok gak move on, ternyata laki pun sami mawon! Kromosom oh kromosom, kenapa kamu bisa loncat-loncat sih?"
Bara tersenyum.
"Siapa orangnya? Biar aku seleksi dulu supaya nggak bikin mas Bara sok galau ga jelas!" wajah Arum yang sok galak itu malah membuat Bara gemas.
"Tuh yang lagi ngromyang" jawab Bara tenang.
"HAAAAHHHH?!" teriak gadis itu.
***
Arum masih mengemil kentang goreng piring kedua setelah tadi menghabiskan piring pertama saking shocknya sedangkan Bara hanya menatap geli Arum.
"Mas Bara, kalau becanda nggak lucu!" cebik Arum dengan mulut penuh.
"Mas Bara nggak becanda, Gendhis."
"Lha itu tadi apa? Bilang udah dapat cewek buat move-on." Arum semakin menatap Bara judes.
"Lha kamu pikir kenapa aku mau menerima tantangan Fuji buat kencan sama kamu sebulan? Karena aku sudah mulai move-on. Kamu adalah perempuan yang bisa membuat aku tertawa setelah setahun semua orang bilang aku seperti freezer. Aku tadi cerita sama kamu itu biar kamu tahu sendiri dari aku, bukan dari orang lain, Dis."
Arum menatap Bara mencari-cari kalau pria tampan di hadapannya itu ngadi-ngadi dan ternyata tidak, Bara tetap serius. Sepanjang Arum jalan bareng dengan Bara, pria itu bukan tipe tukang gombal dan ingkar janji.
__ADS_1
"Mas Bara yakin sama aku, bukan karena aku namanya juga Arum?" selidik Arum.
"Kalau aku tetap terpaku dengan nama 'Arum', mas nggak bakalan panggil kamu Gendhis lah!"
"Kebetulan saja ya namaku ada Arumnya dan kebetulan juga yang bikin mas Bara patah hati jadi anggotanya Godfather of the broken heart namanya juga Arum. Wis angel-angel nek ngunu. Kemarin waktu melihat Arum satu nikah nggak nyanyi lagunya Glenn Fredly Sedih Tak Berujung mas?" goda Arum dengan wajah jenaka.
"Kowe kok suwi-suwi njelehi tho Dis" cebik Bara sebal.
"Mas Bara baru tahu sebagian aku. Asline tho mas, aku tuh orang paling njelehi sedunia lhooo" kekeh Arum.
"Kamu belum melihat aslinya Levi, Dis. Dia adalah pria paling njelehi kedua setelah papanya" gelak Bara.
"Owalaahhh lha pantas nek Mas Levi njelehi lha wong Ono sing nurunin" kekeh Arum.
"Kita penjajakan dulu ya Dis, kan masih ada waktu tiga Minggu dari tantangan sebulan. Apalagi kita tiap hari bertemu juga" Bara menatap serius ke Arum.
"Semoga mas Bara tidak keberatan dengan aku yang ... Sebentar mas, aku kok kebelet kentut ya" Arum mengernyitkan dahinya.
Bara melongo. Astaghfirullah nih cewek!
"Yak sudah. Maaf kalau bau, soalnya aku kalau kena hawa dingin ya jadi tukang kentut" oceh Arum cuek.
"Kamu tuh nggak malu? Main bilang mau kentut?" Bara benar-benar tidak habis pikir dengan cewek cantik di hadapannya ini.
"Mending jujur daripada pitenah? Hayoooo!" gelak Arum.
Karepmu Wis Dis, Gendhis.
***
Yuhuuu Up Jam Brunch Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️